Menangkap Peluang Bisnis dari Masalah di Sekitar Kita

- Editor

Sabtu, 26 Mei 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Berbagai permasalahan di sekitar lingkungan kita perlu dipandang sebagai peluang untuk mendirikan suatu perusahaan rintisan atau startup. Dengan semangat itu, ada total 9.000 pengusaha muda yang mengikuti program Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital. Program yang disiapkan pemerintah itu dimulai sejak 2016 dan bertujuan membangun 1.000 startup digital hingga 2020.

Pada Kamis (24/5/2018), sebanyak delapan peserta yang diseleksi dari gelombang ketiga program itu mempresentasikan produk mereka di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat.

Produk itu mereka kembangkan bersama para mentor selama mengikuti program Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital. Pada 2018, Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital fokus mengembangkan perusahaan rintisan di sektor pertanian, pendidikan, kesehatan, logistik, dan pariwisata.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu perusahaan rintisan yang dipresentasikan hari itu adalah Wozmi. Berbasis di Yogyakarta, mereka menawarkan jasa setrika dan bisa dihubungi melalui WhatsApp. Dimulai sejak Januari 2018, mereka kini memiliki 30 mitra penyetrika dan 60 pelanggan aktif.

Ketua Eksekutif Wozmi, Regina Michel Putri, menceritakan pengalamannya mengikuti program Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital sejak Agustus 2017. Ia bertemu dengan mentornya setiap Sabtu dan mendapatkan pelajaran mengenai dunia bisnis, networking, dan isu-isu aktual di Indonesia.

KOMPAS/AYU PRATIWI–Acara “Demo Day Gerakan Nasional 1000 Startup Digital 2018” di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Kamis (24/5/2018).

Pelajaran itu langsung Regina terapkan untuk mengembangkan perusahaan rintisannya. Lalu setiap Rabu, ia sampaikan pada mentornya progres yang ia lakukan pada pekan itu. Sebelum mengikuti program itu, ia dan teman-temannya sama sekali tidak memikirkan tentang jasa setrika.

“Dari awal itu, kita tidak langsung pikir tentang jasa setrika. Ada banyak masalah dengan laundry yang kami perhatikan, seperti ketidaktepatan waktu atau hasilnya yang kurang rapi. Setelah validasi dengan para mentor, ternyata pengelolaan sumber daya manusia pada bagian setrika itu masalah yang paling urgen, karena setrika itu yang memerlukan waktu paling banyak,” tutur Regina.

Setelah menentukan produk mereka dalam bentuk jasa setrika, mereka didorong oleh mentornya untuk mencoba produk itu ke pasarnya. “Kita promosikan jasa itu melalui media sosial dan kita langsung dapat pelanggan. Ternyata, produk itu benar-benar diperlukan,” ucap Regina.

Perusahaan rintisan lain yang mengikuti program itu bermacam-macam. Di antaranya adalah Atourin, perusahaan teknologi di bidang pariwisata yang mengusulkan kepada turis tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi. Ada pula Game On, perusahaan yang menggelar acara kompetisi video game eSports.

Program terbuka untuk siapa pun
Prasetyo Andy Wicaksono, Kepala Program Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital, mengatakan, program itu terbuka untuk siapa saja yang ingin mendirikan perusahaan rintisan. Dari sekitar 38.000 orang yang mendaftarkan diri sejak 2016, sebanyak 9.000 orang telah mengikuti program itu.

Program itu terdiri dari lima tahap. Pada tahap ignition, peserta diberikan pelajaran mengenai dasar-dasar kewiraswastaan atau entrepreneurship. Pada tahap workshop, mereka diberikan pemahaman mengenai isu-isu aktual. Tahap hacksprint adalah awal di mana peserta mulai membuat prototipe produk yang relevan dengan isu-isu aktual.

Pada tahap bootcamp, peserta mengidentifikasi dan mempelajari pasar targetnya. Terakhir, pada tahap incubation, peserta diberikan masukan oleh sejumlah mentor dari latar belakang pengusaha, juga pemerintah.

“Kita mengajar anak-anak muda untuk melihat masalah di Indonesia sebagai peluang. Kalau ada masalah, janganlah mengeluh, tapi cobalah menyelesaikannya dengan mengembangkan bisnis yang berkelanjutan,” tutur Andy.–AYU PRATIWI

Sumber: Kompas, 24 Mei 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 4 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB