Home / Berita / Mekar Lagi, Bunga Bangkai di Kebun Raya Cibodas-LIPI

Mekar Lagi, Bunga Bangkai di Kebun Raya Cibodas-LIPI

Bunga bangkai di Kebun Raya Cibodas-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mekar, Jumat (20/3/2020). Sayangnya, publik tak bisa melihatnya karena kebun raya ditutup sementara.

KOMPAS/SONYA HELLEN SINOMBOR–Bunga bangkai (Amorphophallus titanum) yang tumbuh Kebun Raya Cibodas-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mekar, Jumat (20/3/2020). Bunga ini merupakan salah satu koleksi kebun tersebut. Saat ini bunga tersebut tidak bisa disaksikan langsung masyarakat karena kebun raya ditutup untuk antisipasi penyebaran Covid-19.

Meski menebar bau busuk, bunga bangkai (Amorphophallus titanum) memiliki daya pikat, terutama pada saat bunga ini mekar. Di kebun-kebun raya, bau busuk yang menyengat seiring terbukanya seludang (kelopak bunga) justru sangat dinantikan peneliti ataupun pengunjung. Di balik bau busuk, bunga ini sangat eksotis sehingga selalu menjadi magnet ketika mulai mekar.

Di Indonesia ataupun di luar negeri, mekarnya Amorphophallus titanum selalu dinantikan. Hari Jumat (20/3/2020), koleksi bunga bangkai yang tumbuh di Kebun Raya Cibodas-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mekar.

”Koleksi bunga bangkai ini berasal dari Taman Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) Sumatera Barat. Bunga yang saat ini mekar merupakan hasil penyemaian biji tahun 2000,” ujar peneliti Amorphophallus titanum di Kebun Raya Cibodas-LIPI, Destri saat dihubungi dari Jakarta, Jumat.

Bunga bangkai yang mekar saat ini tingginya mencapai 291 cm dengan diameter 119 cm. Bunga tersebut merupakan bunga kedua dari individu yang sama. Adapun bunga bangkai yang pertama mekar pada 2016.

”Antara bunga pertama dan kedua memiliki siklus pascaberbunga pada 2016 yaitu 2017 fase dorman, 2017-2019 fase vegetatif, kemudian fase dorman, dan tahun 2020 fase berbunga,” kata Destri.

Fase dorman akan berlangsung sekitar 6 bulan hingga 14 bulan. Bunga ini memiliki spadiks yang kuning dengan sedikit semburat ungu di beberapa bagian dan spatha berwarna merah hati. Amorphophallus titanum Becc termasuk salah satu anggota suku talas-talasan (Araceae).

Di Kebun Raya Cibodas-LIPI terdapat beberapa spesimen koleksi tanaman bunga bangkai. Pertama kali bunga bangkai mekar di kebun tersebut pada 11 Maret 2004 dengan tinggi perbungaan pada saat itu mencapai 317 cm.

KOMPAS/SONYA HELLEN SINOMBOR–Bunga bangkai (Amorphophallus titanum), Jumat (20/3/2020).

Bunga bangkai tertinggi di Cibodas adalah yang mekar tahun 2016, setinggi 373 cm. Paling rendah 180 cm yang merupakan individu pertama yang berbunga di Cibodas pada 2003. ”Sayangnya tumbuhan ini mati setelah berbunga,” ujar Destri.

Berapa lama sebenarnya bunga bangka bertahan setelah mekar? Menurut Destri, jika panas terus, bunga eksotik tersebut dalam waktu seminggu masih berdiri dengan kondisi yang pelan-pelan membusuk. Namun, kalau hujan tiap hari, biasanya dalam waktu tiga hari kondisinya jauh lebih buruk. Karena tumbuhan tersebut adalah bunga, maka jaringannya pada dasarnya lembut seperti bunga-bunga pada tumbuhan lainnya.

Baunya tercium hingga 100 meter
Disebut sebagai bunga bangkai karena pada waktu mekar bunga tersebut mengeluarkan bau busuk yang dapat tercium dengan radius 100 meter. Dari mana bau busuk tersebut? Bau berasal dari asam amino yang keluar melalui permukaan tongkol.

Selanjutnya, bau busuk pada waktu bunga mekar tersebut akan menarik perhatian bagi jenis-jenis serangga untuk datang dan dapat membantu penyerbukan tumbuhan tersebut.

Amorphophallus titanum mempunyai perbungaan yang sangat besar dan bisa disebut sebagai the giant inflorescent in the world. Bentuk perbungaan menjulang tinggi yang sebenarnya adalah tongkol atau spadiks yang dikelilingi oleh seludang bunga (spatha) yang dalam keadaan mekar bentuknya menarik dan berwarna merah hati.

Amorphophallus titanum atau bunga bangkai ini termasuk kategori tumbuhan langka berdasarkan klasifikasi dari International Union for Conservation of Nature (IUCN). Keberadaan tumbuhan itu dilindungi sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 dan merupakan tumbuhan endemik Indonesia.

Nanang Surayana dari Humas BKHH Kawasan Cibodas mengatakan, karena keunikan yang dimiliki dari perbungaannya, menjadikan waktu mekarnya selalu dinantikan. Menyaksikan mekarnya bunga bangkai menjadi kenikmatan tersendiri bagi masyarakat untuk datang melihat kebun raya baik di Indonesia maupun dunia.

Di Amerika Serikat, misalnya, pada 2018 bau busuk yang ditebar bunga bangkai yang tumbuh di kompleks Perpustakaan Huntington di San Marino, California selatan, justru memicu kehadiran ratusan orang. Bukan sekadar untuk melihat dari dekat bunga eksotik yang tengah mekar, mereka yang hadir pun ingin mencium bau bangkai yang ditebar.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Warga berbondong-bondong melihat bunga bangkai (Amorphophallus titanu Becc) yang mekar di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, Sabtu (4/1/2020).

Sasaran tangan jahil
Keunikan itu pula yang membuat bunga bangkai sering menjadi sasaran tangan-tangan jahil yang penasaran. Mereka menyentuhnya sehingga sampai merusak bunga itu. Hingga kini sudah banyak bunga bangkai di Cibodas yang jadi korban tangan jahil pengunjung. ”Bunga bangkai Cibodas itu terlalu sering jadi korban pengunjung, sering ditimpuk pakai batu. Tahun 2016, bunga bangkai kita babak belur dihajar pengunjung. Makanya, saya minta dibuatkan pagar kawat tinggi seperti sekarang,” ujar Destri.

Di Indonesia, tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar di dunia ini pertama kali ditemukan Beccary, botanis Italia, ketika melawat ke Sumatera. Temuan tersebut ia publikasikan secara ilmiah pada 1878. Bunga ini tumbuh secara liar, dalam 10 jenis Amorphophallus, yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Selain di kebun raya Cibodas, bunga bangkai juga ditanam di kebun raya lainnya, seperti Kebun Raya Bogor. Tahun 2004, bunga bangkai tumbuh di pekarangan warga di Karanganyar, Jawa Tengah.

Di Kebun Raya Bogor, bunga bangkai tersebut belum lama yang mekar, yakni pada awal Januari 2020. Bunga tersebut tumbuh hingga setinggi 194 cm.

Begitulah bunga bangkai. Meski berbau menyengat, momen mekarnya selalu dirindukan masyarakat. Namun, sayangnya kali ini ada yang berbeda. Bunga ini tidak bisa dilihat langsung oleh pengunjung karena Kebun Raya Cibodas-LIPI ditutup sementara untuk umum sejak Kamis (19/3/2020) sebagai pencegahan penyebaran Covid-19, penyakit akibat virus korona baru. Penutupan sementara berlaku hingga Selasa (31/3/2020) dan akan dibuka kembali setelah melihat perkembangan.

Oleh SONYA HELLEN SINOMBOR

Editor: ILHAM KHOIRI

Sumber: Kompas, 21 Maret 2020

Share
x

Check Also

Endcorona, Aplikasi Deteksi Mandiri Risiko Covid-19 Buatan Mahasiswa UI

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia berkolaborasi membuat platform self-assessment atau deteksi ...