Home / Berita / Mayoritas Dosen Belum Tersertifikasi

Mayoritas Dosen Belum Tersertifikasi

Kompetensi sebagian besar dosen di Indonesia belum terjamin. Tercatat, sekitar 54 persen dari total jumlah dosen 280.000 belum tersertifikasi.

Hal ini dikemukakan Direktur Jenderal Sumber Daya, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ali Ghufron Mukti, akhir pekan lalu, di Jakarta. “Kesannya tidak serius menjadi dosen. Dosen yang belum disertifikasi belum profesional. Banyak dosen yang belum disertifikasi karena memang tidak lulus. Namun, banyak yang belum tahu bahwa dosen harus ikut disertifikasi,” ujarnya.

Untuk mempercepat peningkatan kualitas kompetensi dan profesionalisme dosen, pemerintah pada tahun ini menyiapkan anggaran untuk menyertifikasi sedikitnya 20.000 dosen. Jika kualitas dosen ini tidak segera diperbaiki, otomatis memengaruhi kualitas proses pembelajaran dan lulusan perguruan tinggi (PT).

Mestinya sudah tuntas
Direktur Karier dan Kompetensi Sumber Daya Manusia, Kemristek dan Dikti Bunyamin Maftuh menambahkan, sertifikasi dosen mestinya sudah tuntas pada 2015. Hal ini mengacu pada Undang-Undang Guru dan Dosen Tahun 2004.

Namun, di tingkat PT, sertifikasi dosen tidak optimal. Dalam rapat koordinasi nasional Kemristek dan Dikti, beberapa waktu lalu, diputuskan sertifikasi dosen diperpanjang hingga 2017. Perpanjangan ini untuk memberikan waktu bagi dosen yang belum S-2.

Dalam acara sidang kelulusan sertifikasi dosen 2015 di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, akhir 2015, terungkap lambannya penuntasan sertifikasi, antara lain, karena penyerapan dosen yang ikut sertifikasi di bawah kuota. Selain itu, tingkat kelulusan sertifikasi sejak 2011 sampai sekarang menurun. Di PT negeri, dosen yang belum disertifikasi sekitar 21 persen, sedangkan di PT swasta berkisar 62-92 persen. Salah satu penyebabnya banyak dosen belum S-2.

Peningkatan kualitas dan pemetaan kompetensi dosen termasuk salah satu bagian dalam grand design sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi yang dirumuskan Kemristek dan Dikti. Desain ini, kata Ghufron, harus disesuaikan dengan prioritas pembangunan yang ditentukan pemerintah 5-20 tahun ke depan.

Menurut Ghufron, hal ini tidak mudah, tetapi harus dilakukan karena negara lain sudah melakukan. Ia mencontohkan Jepang yang memiliki grand design dalam sistem pendidikannya yang dikaitkan dengan rencana pembangunan. (LUK/ELN)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Februari 2016, di halaman 1 dengan judul “Mayoritas Dosen Belum Tersertifikasi”.
————
Kendala Utama Kualifikasi-Biaya

Dosen PTS yang Belum Tersertifikasi 70-90 Persen
Dosen yang memenuhi syarat untuk diikutkan sertifikasi dosen sedikit. Faktor dominan adalah tak memenuhi syarat kualifikasi pendidikan dan terkendala biaya.

Padahal, sekitar 54 persen dosen di perguruan tinggi negeri dan swasta belum meraih sertifikat sebagai dosen profesional sesuai dengan Undang-Undang Guru dan Dosen Tahun 2004.

Pada tahun ini terdata sekitar 12.000 dosen saja yang memenuhi syarat untuk diikutkan sertifikasi dosen dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Direktur Karier dan Kompetensi Sumber Daya Manusia, Ditjen Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kemristek dan Dikti, Bunyamin Maftuh, di Jakarta, Senin (29/2), mengatakan, masih banyak dosen yang belum dapat disertifikasi karena tidak memenuhi syarat. “Utamanya, belum berkualifikasi akademik S-2 atau tidak memiliki jabatan akademik/fungsional,” katanya.

Berdasarkan data Kemristek dan Dikti 2015, sekitar 43,8 persen dosen yang belum disertifikasi belum memenuhi syarat minimal S-2. Sebanyak 32,8 persen karena tidak memiliki jabatan akademik, lalu karena masa kerja, pangkat, dan umur.

“Dosen yang belum S-2 diberi waktu sampai akhir 2017 untuk bisa selesaikan S-2. Namun, kami juga mengeluarkan terobosan untuk bisa mengakomodasi para dosen yang masih S-1 dengan berbagai solusi,” kata Bunyamin.

Menurut Bunyamin, dosen berusia 58 tahun ke atas yang masih S-1 solusinya dipindahkan ke bagian tenaga kependidikan atau dipensiunkan. Bagi dosen yang berusia 50 tahun ke atas yang sedang S-2 diminta untuk menyelesaikan pendidikannya. Ada juga terobosan dengan pengakuan pengalaman sebelumnya bagi dosen yang bisa disetarakan S-2 jika memang nilainya memenuhi.

Mengacu data 2015, jumlah dosen di PTN yang belum disertifikasi tinggal sekitar 21 persen. Di PTS bervariasi, rata-rata 70-90 persen. Bahkan, di DKI Jakarta (Kopertis III), dosen yang belum disertifikasi mencapai sekitar 70 persen dan di Jawa Barat/Banten (Kopertis IV) sekitar 77 persen. Adapun di Papua dan Papua Barat (Kopertis XIV) sekitar 87 persen dosen belum disertifikasi.

Koordinator Kopertis III Illah Sailah mengatakan, baru 7.268 dosen yang lulus sertifikasi dosen di wilayah DKI Jakarta. Para dosen yang diikutkan sertifikasi ada yang dinyatakan tidak lulus atau portofolionya tidak lengkap.

Koordinator Kopertis IV Jawa Barat dan Banten Abdul Hakim Halim mengatakan, penentuan peserta sertifikasi dosen ditetapkan Kemristek dan Dikti dengan mengacu data dari Pangkalan Data dan Pendidikan Tinggi (PDPT). Lalu, PT diminta untuk memverifikasi apakah dosen yang bersangkutan layak diikutkan sertifikasi dosen atau tidak.

“PTS yang belum bagus proses memutakhirkan data para dosennya di PDPT bisa terlewatkan. Ada dosen yang sudah S-2, misalnya, tapi di PDPT masih tertulis S-1. Kami terus mengingatkan PTS supaya dosen tetap yayasan dimutakhirkan datanya sesuai dengan kondisi aktual,” ujarnya.

Menurut Abdul, para dosen di PTS juga belum mengurus inpassing atau penyetaraan golongan seperti dosen PNS. Padahal, penyetaraan ini penting untuk sertifikasi dosen.

Sementara itu, Metha Gomies, Sekretaris Pelaksana Kopertis XIV Papua dan Papua Barat, mengatakan, para dosen swasta terkendala biaya untuk pengurusan sertifikasi dosen. Para dosen terkendala untuk memenuhi tes potensi akademik dan TOEFL yang harus dilakukan jauh dari lokasi, misalnya di Jayapura, Makassar, atau Pulau Jawa. “Bayaran dosen di PTS kecil, kan, tidak banyak. Untuk mengurus syarat sertifikasi dosen, mereka pakai biaya sendiri, bukan dari PTS. Para dosen yang terkendala biaya ada yang pasrah saja sehingga tidak ikut sertifikasi dosen,” kata Metha. (ELN)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 1 Maret 2016, di halaman 12 dengan judul “Kendala Utama Kualifikasi-Biaya”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: