Home / Artikel / Masa Depan Perguruan Tinggi Islam

Masa Depan Perguruan Tinggi Islam

Perguruan tinggi memiliki peran penting membangun kembali mentalitas, moralitas, dan karakter sebuah bangsa.

Sesudah reformasi 1998, bangsa Indonesia menghadapi berbagai krisis. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi krisis, tetapi hingga kini belum tampak jelas hasil yang telah diupayakan negara dan masyarakat.

Kekerasan sosial yang menggunakan sentimen keagamaan dalam berbagai bentuk bukannya berkurang, tetapi ada kecenderungan semakin menjadi-jadi.

Ketika tulisan ini disusun, media cetak dan elektronik di Tanah Air ramai-ramai mengangkat bom bunuh diri di tengah bangunan Masjid Adz-Dzikro, Markas Polresta Cirebon. Hal itu diikuti berita tertangkapnya 19 tersangka pelaku bom buku dan perencanaan bom Serpong yang akan menyasar Perusahaan Gas Negara dan Gereja Christ Cathedral, Serpong.

Apa yang keliru dalam hidup beragama?

Yang mengejutkan banyak pihak, ternyata sebagian dari pelaku bom buku dan perencana bom Serpong merupakan lulusan perguruan tinggi, bahkan di antaranya alumnus perguruan tinggi agama Islam. Belum jelas apakah memang benar demikian karena masih dalam penyelidikan dan pihak kampus masih meragukan apakah betul pelaku merupakan alumnus perguruan tinggi agama Islam. Wajarlah jika muncul pertanyaan, apa yang keliru dalam berbangsa, bernegara, juga dalam beragama di Tanah Air?

Wawancara Metro TV dengan orangtua pelaku pada Minggu, 17 April lalu, dapat kita jadikan sebagai rujukan mengapa kasus bom terjadi lagi. Pelaku jelas-jelas menunjukkan pemahaman keagamaan Islam para pelaku yang sangat sempit, bercorak eksklusif, dan keras.

Pelaku menganut paham keagamaan yang menekankan ketidaksetujuannya hidup berdampingan dengan kelompok penganut aliran agama (Islam) yang berbeda. Perilaku keberagamaannya dibarengi dengan kemarahan dan kebencian, yang akhirnya menjadikan wajah keberagamaan di Tanah Air muram dan menyedihkan.

Bagaimana upaya para pemimpin perguruan tinggi agama Islam, baik UIN, IAIN, maupun STAIN, menghadapi tantangan dan tuntutan mendesak ini?

Umat Islam sekarang ini adalah warga dunia. Zaman keemasan yang biasa disebut-sebut al-asr al-dzhahaby pada era dulu sudah lama lewat. Umat Islam, begitu juga umat lain di dunia—Hindu, Buddha, Kristen, Konghucu—tidak punya pilihan lain. Mereka tidak dapat menyendiri, keluar dari pergaulan dunia kontemporer. Mereka tidak dapat loncat keluar dari pergaulan dan tatanan politik, sosial, budaya, ekonomi, pertahanan, dan ilmu pengetahuan antarbangsa di dunia.

Tuhan telah menjadikan umat manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, berbeda antara satu dan yang lain, agar manusia dengan sesamanya dapat saling mengenal dan memahami. Bahasa komunikasi antarbangsa sebagai warga dunia perlu diupayakan agar bisa saling memahami. Jika tidak, mentalitas menyendiri akan selalu membayang-bayangi kehidupan mereka.

Mereka yang berpandangan ghetto tidak bersedia berkomunikasi dengan orang dan golongan lain, yang liyan. Apabila mereka yang berpandangan ghetto ini dibiarkan bertumbuh dan berkembang, niscaya akan lahir cikal bakal tindakan penuh emosi, tempat kemarahan, dan sesak kebencian yang menjurus pada kekerasan.

Peran perguruan tinggi agama Islam

Perguruan tinggi agama Islam mempunyai peran besar dalam mengantarkan bangsa Indonesia sebagai warga dunia. Sedari dini generasi muda dan mahasiswa sudah perlu dilatih berpikir dan berkomunikasi menggunakan dua bahasa sekaligus.

Kedua bahasa yang dimaksud ialah tata krama, sopan santun, muna-muni, kepatutan, dan tata pergaulan yang dapat memahamkan kalangan internal umatnya sendiri sekaligus dapat dipahami wilayah publik yang lebih luas di luar komunitasnya.

Mendidik generasi baru—yang sadar bahwa dia adalah warga dunia, tidak berpandangan ghetto, dan berkomunikasi dua bahasa—merupakan pekerjaan pendidikan yang tidak mudah. Pengenalan pandangan dunia keislaman yang bercorak klasik, modern, dan posmodern merupakan prasyarat, keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar.

Sikap dan mentalitas keberagamaan yang ada sekarang juga harus berani diubah atau digeser sedikit. Bukan agama atau obyeknya yang digeser, melainkan sikap dan perilaku keberagamaannya (subyek) dan interpretasi keagamaannya yang perlu disegarkan kembali.

Dari pola keberagamaan yang semula bercorak taqlidy (sekadar mengikut apa saja yang dianjurkan, dinasihatkan, dan diperintahkan oleh para senior, guru, mubalig, amir, kiai, atau ustaz) ke arah corak keberagamaan yang ijtihady.

Artinya, seorang pemeluk agama mampu mengolah secara matang informasi, anjuran, dan nasihat-nasihat keagamaan yang masuk. Sebelum mengambil keputusan, dia menimbang-nimbang baik-buruknya secara mandiri dengan berbekal ilmu pengetahuan, informasi, dan pengalaman hidup yang ia miliki.

Puncaknya adalah keberagamaan yang bercorak naqdy ’kritis-transformatif’, yaitu sikap dan mentalitas keberagamaan atau spiritualitas yang selalu menginginkan dan mengarah pada upaya penyempurnaan terus-menerus selama hayat dikandung badan.

Dengan cara dan upaya yang berlapis-lapis dan berkesinambungan inilah pendidikan karakter di Indonesia sedikit demi sedikit mendapat pemulihan.

M Amin Abdullah Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Sumber: Kompas, 28 April 2011

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: