Home / Berita / Manusia Omnivora Tak Masalah Makan Serangga

Manusia Omnivora Tak Masalah Makan Serangga

Serangga adalah solusi masa depan untuk krisis pangan. Saat ini bahkan sejumlah kelompok masyarakat sudah makan serangga, termasuk di Indonesia. Penelitian di Finlandia menunjukkan, manusia omnivora atau pemakan segala tidak masalah makan serangga. Omnivora berpendapat bahwa konsumsi serangga adalah bijaksana dan menawarkan solusi untuk masalah gizi dunia.

SEKAR GANDHAWANGI–Beberapa serangga, seperti belalang, disajikan dalam bentuk kering, Kamis (6/9/2018). Serangga tersebut memiliki cita rasa yang gurih, asin, serta garing. Serangga memiliki nilai gizi yang tinggi, seperti protein, mineral, serat, dan vitamin.

Penelitian berjudul “Sikap Konsumsi Serangga di antara Vegan, Vegetarian Non-Vegan, dan Omnivora” itu dimuat dalam jurnal Nutrients yang juga dipublikasikan sciencedaily.com 30 Januari 2019. Penelitian dilakukan tim ilmuwan Universitas Finlandia Timur dan Universitas Helsinki, Finlandia.

Di Indonesia, jenis serangga yang populer dikonsumsi adalah belalang. Warga Kabupaten Gunungkidul, Daerah istimewa Yogyakarta, sudah terbiasa mengkonsumsi belalang. Jenis serangga selain belalang, tidak populer di Indonesia. Namun di Thailand, jangkrik, kecoa, bahkan kalanjengking juga biasa dikonsumsi masyarakat. Namun, masyarakat negara Barat masih menilai serangga bukan sumber makanan yang layak dan dinilai menjijikkan.

Padahal, seperti ditulis dalam laporan penelitian ini, makanan yang terbuat dari serangga memiliki jejak ekologis yang rendah. Karena kandungan gizi yang tinggi, serangga berfungsi sebagai suplemen berkelanjutan yang potensial untuk sumber protein yang ada untuk nutrisi manusia.

Menurut peneliti, kaum vegetarian–yaitu manusia yang tidak makan makanan asal hewan– membentuk kelompok populasi yang menarik dan kurang dipelajari sehubungan dengan konsumsi serangga. Oleh karena itu mereka tertarik menelitinya.

KOMPAS/SARIE FEBRIANE–Chef Andreas Viestad menjajal ulat sagu yang masih hidup di Papua beberapa waktu lalu.

Peneliti menguji sikap, norma subyektif, kontrol perilaku yang dirasakan, dan neofobia makanan atau ketakukan terhadap makanan baru yang berasal dari serangga, serta kondisi untuk makan makanan berbasis serangga di antara vegan, vegetarian, dan omnivora.

Peneliti sebelumnya yaitu Beardsworth dan Keil mengklasifikasikan vegetarian menjadi enam jenis. Vegetarian tipe I yaitu mereka yang kadang-kadang makan daging merah dan unggas. Vegetarian tipe II menghindari konsumsi daging merah dan unggas, tetapi makan ikan. Vegetarian tipe III menghindari ikan, tetapi makan telur. Vegetarian tipe IV tidak makan telur, tetapi mengonsumsi produk susu. Vegetarian tipe V mengkonsumsi produk susu, kecuali keju bebas rennet. Vegetarian tipe VI—yang disebut vegan–menghindari semua produk turunan hewani.

Dalam penelitian di Finlandia ini, istilah vegetarian digunakan sebagai konsep umum yang mengacu pada semua jenis diet vegetarian. Ketika perbedaan dibuat antara vegan dan vegetarian lainnya yaitu tipe I – V, yang terakhir disebut sebagai vegetarian non-vegan.

Peserta penelitian direkrut sebagai bagian dari survei daring besar mengenai niat konsumen Finlandia untuk makan makanan yang berasal dari serangga. Permintaan untuk menanggapi survei tentang konsumsi serangga disampaikan dengan menggunakan media sosial (https://twitter.com/yletiede) dan halaman Facebook peneliti, serta versi digital nasional (https: //www.maaseuduntulevaisuus .fi /) dan satu surat kabar metropolitan area (https://www.city.fi/). Secara keseluruhan, 567 konsumen merespons. Dari jumlah tersebut, 150 orang (27 persen) adalah jenis vegetarian. Rinciannya, 64 persen semi-vegetarian, 17 persen lacto-vegetarian, 2 persen lacto-ovo-vegetarian, dan 17 persen vegan. Secara total, 22 persen adalah vegetarian non-vegan dan 5 persen adalah vegetarian.

KOMPAS–Pengunjung menyantap hidangan dengan menu vegetarian di rumah makan Soma Yoga di kawasan Babarsari, Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (19/9/2012).

Hasil penelitian menunjukkan, vegan memiliki sikap negatif yang paling kaku dan norma subyektif mereka untuk makan serangga lebih lemah dibandingkan dengan omnivora dan vegetarian non-vegan. Persepsi kontrol perilaku yang dirasakan vegetarian terhadap makan serangga mereka lebih kuat dibandingkan dengan omnivora dan vegetarian non-vegan, dan mereka lebih neofobik daripada omnivora dan vegetarian non-vegan. Vegetarian non-vegan memegang sikap paling positif terhadap makan serangga, dan baik vegetarian non-vegan dan omnivora berpikir bahwa konsumsi serangga adalah bijaksana dan menawarkan solusi untuk masalah gizi dunia. Sebaliknya, vegan menganggap konsumsi serangga sebagai tidak bermoral dan tidak bertanggung jawab.

Peneliti menyimpulkan, niat lemah vegan, sikap negatif, dan kemauan rendah untuk makan serangga pada masa depan menunjukkan identitas pola makan mereka yang berbeda dibandingkan dengan omnivora dan vegetarian non-vegan.

“Vegan melihat serangga sebagai makhluk hidup, sama seperti hewan lainnya. Itu juga disorot dalam survei-survei vegan lain yang mengatakan bahwa makan serangga di Barat tidak menyelesaikan kekurangan makanan dunia,” kata Anna-Liisa Elorinne dari Universitas Finlandia Timur.

Di Indonesia, seperti dikutip Harian Kompas 7 September 2018, ahli pangan FG Winarno dalam bedah bukunya berjudul “Tanaman Kelor, Serangga Layak Santap, dan Mikrobioma Usus: Peran Probiotik, Prebiotik, dan Parabiotik” Kamis (6/9/2018), menilai serangga bisa jadi alternatif untuk mencapai ketahanan pangan.

Avontur Papua– Festival Pesta Ulat Sagu
KOMPAS/SARIE FEBRIANE (SF)–26-09-2018

KOMPAS–Festival Pesta Ulat Sagu di Papua, 26 September 2018.

Ada sekitar 1.900 spesies serangga yang ditetapkan sebagai serangga layak santap oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), misalnya jangkrik, belalang, ulat sagu, ulat sutra, kelabang, dan kalajengking. Nilai gizi yang dikandung serangga beragam, tergantung jenis. Secara umum, serangga kaya protein, asam amino, mikronutrien, mineral, vitamin, serat, dan sebagainya. Selain bernilai gizi tinggi, serangga sebagai bahan pangan ramah lingkungan.

Sektor peternakan menghasilkan 14 persen dari emisi karbon dunia. Jika dibandingkan hewan ternak seperti unggas dan sapi, serangga lebih irit air, lahan, pakan, dan menghasilkan emisi karbon amat rendah. Sebagai perbandingan, konsumsi air dari ternak 2,99 galon air, sedangkan serangga butuh satu galon. Ternak mengonsumsi 11,35 kilogram pakan dan serangga butuh 0,9 kilogram pakan.

Oleh SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 31 Januari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: