Lahan Bekas Tambang Berpotensi untuk Areal Pertanian

- Editor

Kamis, 18 Juni 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meski memiliki tingkat kesuburan yang rendah dan sifat fisik yang jelek, lahan bekas pertambangan dapat berpotensi dimanfaatkan untuk pertanian bila dilakukan rehabilitasi dan penyuburan.

KOMPAS—Eksploitasi tambang batubara hampir menguasai penuh Desa Mulawarman, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Selasa (20/11/2018).

Lahan bekas kegiatan pertambangan memiliki tingkat kesuburan yang rendah dan sifat fisik yang jelek. Upaya rehabilitasi dan penyuburan membuat lahan bekas pertambangan berpotensi dimanfaatkan sebagai areal pertanian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Fahmuddin Agus menyampaikan, lahan bekas pertambangan pada umumnya mengalami kerusakan morfologi. Ini didasarkan dari hasil-hasil riset yang dilakukannya.

Agus dan tim dari Kementan pada 2016-2019 meneliti lahan bekas tambang timah di Bangka Tengah, Bangka Belitung. Pada 2016-2018, ia juga meneliti lahan bekas tambang batubara di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Berdasarkan dua hasil penelitian tersebut, Agus menyimpulkan bahwa lahan bekas tambang memiliki kandungan bahan organik dan unsur hara yang rendah akibat kerukan alat berat. Hal inilah yang membuat lahan bekas tambang memiliki tingkat kesuburan yang rendah.

”Tanah bekas tambang batubara di Kutai Kartanegara mudah tererosi, termasuk erosi jurang karena banyaknya rongga pada profil tanah timbunan,” ujar Agus dalam webinar bertajuk ”Degradasi Tanah: Telaah Teknis dan Kebijakan Rehabilitasi Pasca Tambang” yang diselenggarakan Pusat Penelitian Pengembangan Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rabu (17/6/2020).

Meski tingkat kesuburan rendah, kandungan logam berat pada tanah bekas tambang berada di bawah ambang batas yang dapat ditoleransi. Artinya, bila telah direhabilitasi, tanah bekas tambang aman untuk ditanami tanaman produksi dan dikonsumsi manusia.

KOMPAS/JUMARTO YULIANUS—Area bekas pertambangan batubara dibiarkan tanpa rehabilitasi dan reklamasi di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Sabtu (4/1/2020). Aktivitas tambang terbuka itu menimbulkan kerusakan lingkungan.

Sejumlah cara untuk merehabilitasi tanah ini, kata Agus, dapat menggunakan cara levelling atau perataan tanah. Setelah itu, tanah tersebut diberi bahan organik, seperti pupuk kandang dan pupuk hijau, untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan aktivitas biologi tanah.

Di sisi lain, soal perbaikan sifat tanah yang mudah erosi caranya dengan menggunakan teknik konservasi. ”Cover crop (tanaman penutup tanah), mulsa, sistem pertanaman lorong dapat mengatasi masalah tersebut,” kata Agus.

Dengan upaya-upaya tersebut, ia menyatakan bahwa tanah bekas pertambangan dapat berpotensi dimanfaatkan untuk produksi tanaman sayuran pangan, tanaman tahunan, rumput pakan, dan ternak. Keuntungan pertanian tersebut juga dapat diperoleh pada tahun ketiga dan tahun selanjutnya.

Kewajiban reklamasi
Pengajar Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB University, Iskandar, menyatakan, dalam proses perizinan aktivitas pertambangan, pihak pemegang konsesi tambang diwajibkan melakukan reklamasi pada lahan yang mengalami degradasi. Jika kebijakan tersebut dilakukan, tidak menutup kemungkinan lahan bekas tambang dapat direhabilitasi dan dijadikan media tanam.

”Banyak sekali perusahaan pertambangan yang berhasil melakukan reklamasi, tetapi juga banyak yang belum. Kami berharap perusahaan yang belum menerapkan reklamasi dapat belajar dari perusahaan lain dan menerapkan ke daerah pertambangannya,” katanya.

Iskandar menjelaskan, reklamasi lahan tambang dapat dilakukan dengan cara pengupasan lapisan tanah di lokasi yang akan ditambang. Setelah itu, dilakukan penataan lahan dengan cara mengembalikan batuan limbah ke lubang tambang setelah kegiatan penambangan selesai.

KOMPAS/RHAMA PURNA JATI—Kondisi lahan bekas tambang yang sedang direhabilitasi di Desa Namang, Kabupaten Bangka Barat menunjukkan sejumlah tanaman yang hidup di atas lahan bekas tambang, Kamis (9/1/2020). Upaya reklamasi lubang tambang terus dilakukan, tetapi terkadang gagal karena tidak melibatkan masyarakat.

Namun, ia menyebut bahwa kadar keasaman atau pH tanah tambang lebih rendah daripada tanah hutan sehingga memerlukan ameliorasi. Proses ameliorasi adalah upaya pembenahan kesuburan lahan melalui penambahan bahan-bahan tertentu, seperti bahan organik, anorganik, ataupun kombinasi dari keduanya.

Salah satu cara untuk meningkatkan pH tanah dapat menggunakan faba atau limbah padat dari pembakaran batubara pada pembangkit tenaga listrik. ”Selain pH tanah, faba juga cocok untuk meningkatkan beberapa unsur hara,” ujar Iskandar yang juga merupakan mantan Kepala Pusat Studi Reklamasi Tambang LPPM-IPB.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 17 Juni 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 63 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB