Home / Berita / Kuliah Sambil Jadi Kurir, Mengapa Harus Gengsi?

Kuliah Sambil Jadi Kurir, Mengapa Harus Gengsi?

Desta Nuskita (22) tampak bersemangat setelah seharian mengantarkan barang. Ia tidak pernah malu menjadi kurir berbasis aplikasi daring meskipun berstatus sebagai mahasiswa salah satu perguruan swasta di Depok, Jawa Barat.

Saat ditemui di Jakarta, Senin (2/7/2018), Desta mengaku bangga karena dapat membantu meringankan beban orangtua dengan menjadi pengantar barang berbasis aplikasi daring. ”Pekerjaan ini fleksibel sehingga dapat dilakukan di sela-sela waktu kuliah,” ujar anak pertama dari dua bersaudara tersebut.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Suasana kantor perusahaan rintisan (start up) MrSpeedy di Jakarta, Selasa (3/7/2018). Sebagai perusahaan rintisan yang bergerak di bidang jasa pengiriman barang, mereka mampu menyerap ribuan tenaga kerja sebagai kurir, termasuk yang berstatus mahasiswa.

Desta tidak kesulitan menjalankan pekerjaan ini karena sebelumnya telah mencoba bekerja sebagai pengemudi ojek daring. Perbedaannya, dia harus bertanggung jawab mengantar barang dari konsumen ke tempat tujuan secara utuh dan cepat.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Desta Nuskita

Ia telah menekuni pekerjaan tersebut selama lima bulan. Kemacetan Jakarta menjadi tantangan terbesarnya. Namun, ia tidak menjadikannya sebagai sebuah hambatan untuk tetap bekerja sebagai kurir.

Dalam seminggu, ia memperoleh penghasilanRp 800.000 hingga Rp 1 juta. Uang tersebut dapat dipergunakannya untuk membantu membayar kuliah dan uang saku setiap hari.

”Orangtua sebenarnya masih mampu untuk membiayai kuliah saya, tetapi saya ingin mandiri dan belajar menghargai uang dengan cara bekerja,” kata mahasiswa jurusan psikologi semester VI tersebut. Dari uang tersebut, ia juga dapat membeli kebutuhan kuliah dan keperluan sehari-hari.

Ia menceritakan pengalamannya sebagai seorang kurir. Mulai dari dikomplain pelanggan karena kue yang dibawanya sedikit tergores hingga diberikan uang tip. Beberapa kali ia juga mengantar dokumen dari Depok menuju Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Sebagai seorang mahasiswa, ia juga harus membagi waktu untuk kuliah, belajar di rumah, bersosialisasi dengan teman, keluarga, dan istirahat. Ia mengaku, pekerjaannya sebagai kurir tidak pernah mengganggu jadwal kuliah karena dapat menentukan sendiri waktu bekerja.

Desta dapat menjalankan pekerjaannya tersebut ketika tidak ada jadwal kuliah atau sepulang dari kampus. ”Biasanya saya mulai mengantar barang pada pagi hari sebelum ke kampus dan setelah dari kampus hingga pukul 21.00,” ujarnya.

Beberapa teman di kampusnya menjadikan pekerjaan kurir sebagai bahan canda. Namun, Desta tidak pernah menganggap hal tersebut sebagai sebuah masalah serius. ”Mengapa harus gengsi? Pekerjaan ini halal dan tidak merugikan orang lain,” kata pria yang ingin melanjutkan ke jenjang S-2 tersebut.

Meskipun menikmati pekerjaan tersebut, Desta tidak ingin terlena. Ia ingin menggapai cita-citanya setinggi mungkin. Ia berharap dapat melanjutkan cita-cita kakeknya menjadi anggota militer.

Teknologi digital
Salah satu pendiri jasa pengiriman cepat MrSpeedy, Suriafur Ken, menuturkan, perkembangan teknologi digital yang sangat cepat di Indonesia dapat memperluas lapangan kerja. Hal itu terjadi karena memungkinkan seseorang untuk membuka model bisnis baru yang dapat menyerap banyak tenaga kerja.

Ia menceritakan, sejak MrSpeedy didirikan pada Juli 2017 hingga Juli 2018 mampu menyerap tenaga kerja kurir hingga 40.000 orang di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sebanyak 5 persen di antaranya mahasiswa dan 70 persen menggunakan sepeda motor.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Suriafur Ken

Pekerjaan tersebut diminati banyak orang karena sifatnya fleksibel. Mitra MrSpeedy mendapatkan komisi Rp 2.000 per kilometer. Selain itu, Suriafur memberikan bonus tambahan yang dihitung berdasakan jumlah poin yang diperoleh. Poin tersebut didapat berdasarkan kinerja dan penilaian dari pelanggan.

Meskipun demikian, mitra MrSpeedy juga dibekali pengetahuan cara melayani pelanggan dengan baik. Mereka juga mewajibkan mitra MrSpeedy untuk bersikap sopan dan menjaga kerapian penampilan saat melayani pelanggan.

”Kami melayani sekitar 1.200 pelanggan dan 60 persen di antaranya pelaku UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah),” kata Suriafur saat ditemui di Jakarta, Selasa (3/7/2018). Oleh karena itu, selain dapat membuka lapangan kerja sebagai mitra MrSpeedy, secara tidak langsung jasa pengantar barang dengan sistem aplikasi dapat mempermudah pelaku UMKM menjalankan usahanya.

Sebagian besar menggunakan jasa MrSpeedy untuk mengantarkan dokumen, bingkisan, atau produk UMKM, seperti makanan. Mereka melayani 24 jam dengan biaya Rp 15.000 per kilometer.

Suriafur mengakui, persaingan start up atau perusahaan rintisan di Indonesia sangat ketat. Oleh karena itu, ia berusaha menjaga kepercayaan konsumen dengan mengutamakan kecepatan. Ia pun memberikan jaminan asuransi pada mitra MrSpeedy dan barang dari konsumen.–PRAYOGI DWI SULISTYO

Sumber: Kompas, 5 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: