Home / Berita / “KTP” Kesehatan di China Jadi Kunci Keberhasilan Karantina

“KTP” Kesehatan di China Jadi Kunci Keberhasilan Karantina

China mendeteksi kesehatan warganya dengan ”KTP” kesehatan yang berada pada aplikasi di telepon seluler mereka. Suhu tubuh dan keberadaan warga diawasi pemerintah sehingga karantina menjadi efektif.

AP PHOTO/NG HAN GUAN–Pada Rabu (1/4/2020), kode QR dipasang bagi penumpang untuk memeriksa status hijau mereka di Stasiun Wuhan, Provinsi Hubei, China. Kehidupan di China setelah Covid-19 diatur oleh symbol hijau pada layar telepon genggam. Hijau berarti sehat dan bebas gejala. Status itu diperlukan untuk naik kereta bawah tanah, cek in di hotel, atau memasuki Kota Wuhan, sebagai awal mula pandemic Covid-19

Salah satu kunci keberhasilan China dalam menjalankan karantina wilayah untuk menangani krisis pandemi Covid–19 yang bermula di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, adalah keberadaan sistem ”KTP” Kesehatan bagi setiap warganegara. Sesepuh Pengurus PCNU Tiongkok Ahmad Syaifudin Zuhri yang sedang menempuh pendidikan Doktoral di Central China Normal University (CCNU) Wuhan, menceritakan, di China ada aplikasi di telepon seluler, yakni Green Health QR Code yang harus dipasang setiap warga negara di perangkat telepon seluler mereka.

”Dengan aplikasi tersebut, setiap pemeriksaan suhu tubuh di tempat umum harus diikuti pemindaian QR code sehingga terlacak pergerakan warga tersebut ke mana saja. Kalau warna di aplikasi hijau berarti yang bersangkutan boleh keluar rumah menggunakan angkutan umum. Kalau aplikasi berwarna kuning berarti tidak boleh menggunakan angkutan umum. Kalau aplikasi berwarna merah yang bersangkutan wajib karantina di rumah. Sehingga kalau ada yang positif Covid–19 sangat mudah melacak pergerakan yang bersangkutan hari demi hari, jam demi jam dan dicocokkan orang yang berinteraksi,” kata Zuhri.

Hadi Susanto Wijaya seorang alumni perguruan tinggi di China yang menjadi pengurus Perkumpulan Persahabatan Alumni Tiongkok Indonesia (Perhati) mengatakan, aplikasi yang disebut Jian Kang Ma (Health Code) atau Kartu Sehat tersebut mewajibkan seluruh warga negara China mengisi formulir aplikasi.

”Aplikasi bisa diisi dari mini program di Wechat, Alipay. Kita bisa unduh langsung atau mengunjungi alamat situsnya. Dari mini program tersebut bisa digunakan untuk belanja, mengisi form, dan lain-lain. Dari situ di big data terpantau aktivitas pengguna selama 14 hari terakhir,” kata Hadi.

REUTERS/ALY SONG–

Pemilik telepon seluler harus mengisi kondisi diri tiap hari agar dapat memperoleh kode tiga warna terebut untuk beraktivitas. Semisal muncul peringatan warna kuning, berarti yang bersangkutan hanya boleh berbelanja di pertokoan terdekat.

Seandainya pengguna tidak jujur mengisi data diri, yang bersangkutan pasti ketahuan karena ketika dilakukan pemeriksaan suhu tubuh di tempat umum akan ketahuan kondisi yang bersangkutan. Denda atau penjara menanti bagi warga yang berani berbohong atas data kondisi kesehatan dirinya.

Zuhri membenarkan keterangan Hadi dan menambahkan, konsep integrasi mini program dalam karantina wilayah adalah aplikasi yang sederhana, tetapi efektif. Di setiap pos pemeriksaan orang yang lewat harus cek suhu tubuh dan melakukan pembaruan data pribadi baru boleh melewati pemeriksaan.

Pemerintah memiliki akses terhadap aplikasi ”KTP” Kesehatan tersebut sehingga orang dalam pemantauan (ODP) bisa dicek keberadaannya agar yang bersangkutan tidak bisa keluyuran.

REUTERS / ALY SONG–Orang-orang yang memakai masker wajah berjalan melewati pusat perbelanjaan di Wuhan, Provinsi Hubei, 30 Maret 2020.

Meski demikian, sebagai tambahan, warga asing dalam kasus Wuhan belum bisa mengisi aplikasi tersebut. Warga asing masih harus menggunakan kartu sehat manual. Dengan demikian, yang bersangkutan harus selalu mengurus izin dari ketua komunitas, misalnya di apartemen jika dia mau berbelanja meninggalkan kompleks hunian.

Khusus di Wuhan, Zuhri menambahkan, meski KTP sehat warga sudah berwarna hijau, pembatasan gerak masih dilakukan demi keselamatan bersama. ”Warga dibatasi keluar maksimal dua jam,” kata Zuhri.

Identitas pengguna KTP Sehat tersebut langsung terkoneksi dengan KTP atau basis data kependudukan setiap warga negara di China. Dengan mengisi data di aplikasi tersebut, posisi kita langsung terpantau GPS dan dilakukan konfirmasi alamat yang kita daftarkan apakah sesuai dengan izin tinggal yang diajukan.

Menurut Zuhri, kecanggihan dan efektivitas sistem tersebut bisa memantau pergerakan seorang pasien dalam pengawasan (PDP) Covid–19 hingga 14 hari ke belakang. Di mana pergerakan yang bersangkutan dan interaksi yang terjadi di mana saja sehingga bisa dilacak kemungkinan transmisi virus yang terjadi dan segera ditangani.

REUTERS /ALY SONG–Warga mengenakan masker berpelukan di Danau Timur, Wuhan, Provinsi Hubei, China.

Upaya tes massal
Tidak ada kata terlambat. Meski terseok-seok, Indonesia berpotensi menangani Covid–19 dengan lebih cepat dan tepat melalui upaya tes massal menggunakan tes usap yang lebih akurat daripada tes cepat. Pemerhati kesehatan masyarakat Benedictus Adhi Sanjaya yang terlibat dalam berbagai proyek kesehatan masyarakat terkait kesehatan pernapasan sejak tahun 2000 di sejumlah wilayah Indonesia menerangkan, di Indonesia ada lebih dari 900 unit alat tes PCR yang semula ditujukan untuk program TBC.

”Ada 916 mesin GenXPert, 28 mesin Abott M2000 dan ada beberapa mesin baru. Dari jumlah yang ada dan kapasitas mesin serta sebaran di berbagai wilayah Indonesia, per hari kita bisa mengadakan tes massal berikut hasilnya yang segera didapat hingga 87.936 pemeriksaan per hari dengan mesin GenXPert yang menggunakan cartridge dan 10.752 pemeriksaan per hari dengan mesin Abott M2000. Dengan asumsi semua mesin digunakan dan dilakukan pemeriksaan tiga sif atau 24 jam dengan mesin GenXPert dan Abott M2000,” kata Adhi Sanjaya.

Dengan asumsi Lab Bio Security Level 2+ dan Lab BSL 3 tersedia, sumber daya manusia sudah siap, dan reagen serta cartridge ada, total, tiap hari bisa dilakukan tes PCR hingga 96.688 orang setiap hari atau bisa menjangkau hampir tiga juta orang dalam satu bulan!

Optimalisasi mesin-mesin canggih tersebut, ujar Adhi, dapat membantu memetakan daerah dan posisi pergerakan orang yang terjangkit virus Covid-19 sehingga lebih memudahkan fokus penanganan dan pencegahan. Belum lagi upaya Menteri BUMN Eric Tohir mendatangkan sejumlah alat dan cartridge untuk tes PCR diharapkan memaksimalkan upaya tes massal.

Optimalisasi potensi tes massal, yang dikombinasikan dengan data besar, semisal data operator seluler, data BPJS, data E-KTP, dapat memudahkan penanganan, pencegahan, dan monitoring kesehatan masyarakat di tengah krisis serta menjangkau masyarakat yang rentan secara ekonomi ataupun yang akhirnya terdampak secara ekonomi. Program kesehatan masyarakat berupa mitigasi pandemi dan menjaga ketahanan pangan bisa dijalankan bersama-sama. Konsolidasi semua potensi dan kekuatan bangsa dari semua lapisan masyarakat menjadi jawaban atas situasi saat ini.

Oleh IWAN SANTOSA

Editor EMILIUS CAESAR ALEXEY

Sumber: Kompas, 12 April 2020

Share
x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: