Home / Berita / Koperasi Kini Tak “Jadul” Lagi

Koperasi Kini Tak “Jadul” Lagi

Koperasi itu ketinggalan zaman. Paling sekadar berjualan seragam di sekolah atau memberi layanan simpan pinjam di lingkungan perkantoran atau pasar. Jika koperasi punya toko, pasti sepi pengunjung karena jualannya tak lengkap atau kurang menarik. Itu persepsi “jadul” alias usang yang sudah tak tepat lagi untuk menggambarkan kondisi koperasi kini.

Pengelolaan koperasi dengan cara-cara lama sempat membuat minat masyarakat terhadap koperasi seolah surut. Padahal, dengan strategi pengembangan yang tepat, potensi sosial ekonomi koperasi sangat besar.

Kini, koperasi bahkan mulai diminati generasi milenial. “Saya yang (ketika itu) hanya mahasiswa bisa membuat toko koperasi bermodal Rp 20 juta. Kalau bikin toko sendiri, mana bisa,” kata M Rizal (26), Sekretaris Umum Koperasi Pemuda Indonesia (KPI).

KPI adalah koperasi sekunder, yakni menjadi induk dari sejumlah koperasi. Saat ini, KPI beranggotakan 75 koperasi mahasiswa, 10 koperasi pemuda, dan 3 koperasi pesantren. Semua koperasi anggota itu tersebar di seluruh Indonesia.

“Usaha koperasi-koperasi primer itu beragam. Dari kantin sekolah, toko kelontong, kebutuhan mahasiswa lainnya, pokoknya apa saja yang bisa dijadikan usaha,” kata Rizal.

Ketertarikan Rizal pada koperasi berawal ketika dia ikut mengelola koperasi di Universitas Islam Negeri Makassar pada 2009. Minatnya untuk mengembangkan koperasi berlanjut karena ia melihat banyak hal bisa dipelajari melalui koperasi.

Ketua Koperasi Digital Indonesia Mandiri (KDIM) Henri Kasyfi memaparkan sejumlah layanan KDIM dalam Pameran dan Konferensi Communic Indonesia 2017 yang berlangsung di Jakarta International Expo, Jakarta, Rabu (25/10).
Kompas/Raditya Helabumi (RAD)
25-10-2017
Ficer Ekonomi Minggu

KOMPAS/RADITYA HELABUMI–Ketua Koperasi Jasa Digital Indonesia Mandiri Henri Kasyfi memaparkan sejumlah layanan koperasi yang berkaitan dengan bisnis digital pada Pameran dan Konferensi Communic Indonesia 2017 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (25/10).

“Kita belajar bergotong royong dan berdemokrasi. Koperasi tidak membuat satu orang saja tampil, tetapi semua anggota tampil bersama, ikut memikirkan pengembangan usaha,” ujarnya.

Secara ekonomi, koperasi pun sangat menguntungkan karena digerakkan dengan semangat kolaborasi. Bentuk usaha ini menyatukan seluruh potensi yang ada. “Kami akan terus mengampanyekan koperasi supaya banyak anak muda tertarik sekaligus menghapus citra jadul koperasi,” kata Rizal.

Seperti Rizal, Bimo Ario Suryandani (25) juga berkomitmen mengembangkan koperasi.

“Awalnya saya kenal koperasi saat mendapat tugas kuliah mendampingi petani kopi di Malinau, Kalimantan Utara. Dari situ, saya menyelami koperasi dan ternyata membuat petani kopi sejahtera,” kata Bimo yang menamatkan pendidikan teknik mesin di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Berangkat dari pengalaman itu, Bimo kemudian membuat koperasi kopi sendiri. Koperasi ini beranggotakan petani kopi dan konsumen mereka. Dengan begitu, produsen dan konsumen sama-sama mengetahui struktur harga dan mendapatkan keuntungan. Petani senang karena harga tidak ditekan oleh pembeli. Pembeli pun senang karena mendapat harga yang wajar.

“Semua anggota merasa memiliki, jadi berpikir bersama untuk menyelesaikan semua persoalan,” ujarnya.

Bimo juga membentuk Koperasi Baku Sapa di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Koperasi ini membolehkan semua anggota untuk memamerkan produk mereka di toko yang didesain seperti kafe. Ada yang menjual kopi, madu, produk rekaman, dan barang lain yang umumnya diminati anak muda.

“Memang masih belum mencetak profit besar karena baru Februari lalu didirikan. Tetapi, kami mengejar benefit, yakni menyosialisasikan koperasi kepada generasi muda,” kata Bimo.

Koperasi pun merambah bisnis digital. Koperasi Jasa Digital Indonesia Mandiri (KJDIM), misalnya, didirikan oleh Masyarakat Telematika Indonesia dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2016.

Ketua KJDIM Henri Kasyfi menuturkan, pada kurun waktu April-Desember 2016, koperasi ini mengerjakan desain ponsel pintar dengan merek Digicoop. Produksi dilakukan oleh perusahaan perakitan dalam negeri. Ponsel ini diluncurkan perdana pada Maret 2017.

Ponsel Digicoop kini bisa diperoleh anggota koperasi cukup dengan membayar Rp 300.000. Nilai ini terdiri dari iuran simpanan pokok Rp 100.000, simpanan wajib Rp 100.000, dan uang muka Rp 100.000.

KJDIM juga bergerak pada layanan jaringan telekomunikasi melalui Satria (Satelit Rakyat Indonesia). “Visi Satria adalah sebanyak satu juta orang warga Indonesia sebagai pemilik sekaligus pengguna satelit berkecepatan tinggi pada tahun 2021. Satria ini bagian dari upaya koperasi mendukung pemerataan akses pita lebar,” kata Henri.

KJDIM bekerja sama dengan operator satelit. Untuk kuota konsumsi transfer data per byte per detik, KJDIM mengandalkan kemitraan dengan anggota APJII. Saat ini, Satria belum tersedia di pasar. KJDIM tengah menyiapkan produk layanan ini.

“Menurut rencana, kami akan menawarkan Satria dengan harga Rp 15 juta. Masa pemakaian 10 tahun,” ujar Henri.

Terlambat
Meski begitu, Suroto, Ketua Koperasi Trisakti Bakti Pertiwi (Kosakti), berpendapat, perkembangan koperasi di Indonesia masih sangat lambat. Di negara-negara maju, koperasi sudah lebih mampu berkiprah.

Di Spanyol, misalnya, terdapat perusahaan pembuat alat-alat besi yang dimiliki oleh 80.000 karyawannya. Di Amerika Serikat ada jaringan rumah sakit yang dipunyai koperasi. Ada juga perusahaan listrik yang dimiliki koperasi. Di Belanda, produsen susu terbesar yang mengekspor produk ke banyak negara juga dipunyai oleh koperasi peternak.

“Di Indonesia, koperasi tidak beken karena pemerintah pun lebih cenderung membuat korporasi dibandingkan koperasi. BUMN (badan usaha milik negara) kita berbentuk korporasi, bukan koperasi. Padahal, koperasi bisa menghilangkan kesenjangan,” tutur Suroto.

Ia menilai, tak sedikit peraturan melemahkan koperasi di Indonesia. Bank Indonesia, misalnya, hanya mengizinkan sistem pembayaran elektronik dilakukan oleh korporasi. Rumah sakit pun harus berbentuk korporasi. Akibatnya, koperasi berkutat di lingkup kecil.

Semua pihak memang perlu bahu-membahu dalam komitmen memajukan koperasi.

(M CLARA WRESTI/MEDIANA)

Sumber: kompas, 19 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: