Home / Berita / Kontes Robot Terbang; Mencetak Ahli Dirgantara Penerus BJ Habibie

Kontes Robot Terbang; Mencetak Ahli Dirgantara Penerus BJ Habibie

Kepala Elius Salman (20) menengadah. Matanya memicing mengurangi cahaya matahari yang masuk. Kedua tangannya erat memegang remote control, mengendalikan robot terbang yang mengudara di kawasan Kota Baru-Jati Agung, Lampung Selatan.

Elius adalah Ketua Tim Fixed Wings Fiachra Aeromapper dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang mengikuti Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2016, Rabu (23/11), ia dan sejumlah rekannya sibuk melakukan uji coba terbang sebelum berlaga pada Jumat dan Sabtu (26/11).

KRTI 2016 memperlombakan empat divisi, Fixed Wings, Vertical Take Off-Landing, Racing Plane, dan Technology Development. Di divisi Fixed Wings peserta diminta menyelesaikan misi pemetaan (mapping) dan pengamatan (monitoring).

“Kami harus menerbangkan pesawat di ketinggian tertentu untuk mengambil rangkaian foto untuk pemetaan udara dan mengambil video untuk pengamatan. Pesawat harus terbang secara otomatis ke titik awal dalam batas waktu yang ditentukan,” ujarnya.

Tim Fixed Wings dari UGM menggunakan antenna telemetri yang dilengkapi dengan teknologi autotracking. Teknologi itu mampu melacak keberadaan pesawat yang sedang terbang, mengirimkan perintah dan menerima laporan atau data yang dikirimkan oleh pesawat.

Teknologi itu merupakan pengembangan selama setahun terakhir sejak KRTI 2015. Upaya pengembangan mereka tak sia-sia. Mereka kembali mengulang sukses di KRTI 2016 dengan membawa pulang gelar juara 1 Divisi Fixed Wings sekaligus meraih Best System.

Keseruan menerbangkan pesawat dan menyelesaikan misi juga dirasakan tim Unggeh Tabang dari Universitas Andalas, Padang. Ketua Tim Unggeh Tabang sekaligus pilot, Fahmul Ihsan Khairul, dengan tegas dan cekatan mengomando rekan-rekannya. Dalam lomba itu, mereka membawa pulang juara harapan 1 Divisi, Fixed Wings.

Fahmul mengatakan, saat ini Unggeh Tabang sudah mampu merancang bangun pesawat (air frame) secara mandiri. Namun, untuk pemrograman, mereka masih menggunakan open source. Dengan modal riset dan pengembangan Rp 25 juta, Unggeh Tabang melahirkan pesawat yang dapat terbang selama 90 menit dengan daya jelajah radius 30 kilometer dan kecepatan maksimal 135 km per jam.

”Misi dalam lomba seperti simulasi saja. Kami berharap pesawat dapat membantu pemerintah atau perusahaan melakukan pemetaan perkebunan, pemantauan kawasan perbatasan, atau perairan yang sulit dijangkau lewat darat,” katanya.

Ketua Panitia KRTI 2016 Ardian Ulvan menuturkan, Indonesia punya banyak kebutuhan yang selama ini belum terpecahkan. KRTI merupakan stimulans agar pemuda-pemudi Indonesia mampu menjadi ahli kedirgantaraan yang dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan.

Membantu mitigasi
Robot terbang dengan kemampuan tertentu, kata Ardian, dapat dimodifikasi untuk membantu mitigasi bencana, pemantauan lahan pertanian atau perkebunan, dan mendukung sistem keamanan negara.

“Untuk mitigasi bencana, kami bisa merancang robot terbang yang mampu memantau Gunung Krakatau secara periodik. Hasil pemantauan itu bisa dijadikan data primer untuk penelitiain dan mitigasi bencana,” kata Ardian.

Ardian yakin, pemuda Indonesia mampu menghasilkan robot terbang yang memiliki kemampuan yang baik. Namun, ia tidak menampik banyak kendala yang dihadapi.

Selain pendanaan, kendala besar pengembangan robotika di Indonesia ialah sulitnya mendapatkan komponen program dari dalam negeri. Sebagian besar komponen dan pemrograman dalam robotika harus diimpor.

Karena itulah, panitia KRTI 2016 memilih tema ”Kemandirian Teknologi Tanpa Awak”. Tema itu ingin mendorong agar peserta mampu menciptakan robot dengan komponen dun program asli Indonesia.

Menurut Ardian, kemampuan robot yang diciptakan peserta meningkat drastis jika dibandingkan kemampuan robot-robot peserta KRTI 2015. Peningkatan kemampuan juga tampak di Divisi Vertical Take Off-Landing (VTOL) dengan misi memadamkan api. Di KRTI 2015 tak satu pun robot yang mampu memadamkan api. Namun, di KRTI 2016, ada lima tim yang berhasil memadamkan api.

Salah satu tim peserta Divisi VTOL ialah Robot Terbang Sempati produksi Universitas Negeri Surabaya. Amirul Faris, ketua tim Sempati, menuturkan, misi dalam Divisi VTOL merupakan simulasi untuk memadamkan kebakaran lahan.

Dalam KRTI 2016 terdapat 73 tim peserta yang terdiri dari 20 peserta untuk Divisi Fixed Wings, VTOL, dan Racing Plane serta 13 peserta untuk Divisi Technology Development. Sedikitnya ada sekitar 300 mahasiswa terlibat dalam kontes itu.

Mereka merupakan calon ahli kedirgantaraan yang akan meneruskan sepak terjang Bapak Dirgantara Indonesia BJ Habibie. Kini mereka mungkin hanya menciptakan robot terbang, tetapi beberapa tahun mandatang mampu menciptakan pesawat terbang yang luar biasa.

Oleh ANGGER PUTRANTO

Sumber: Kompas, 27 Desember 2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: