Home / Berita / Konsorsium, Solusi Komersialisasi Riset

Konsorsium, Solusi Komersialisasi Riset

Pengakses Insentif yang Disiapkan Masih Minim
Produk riset para peneliti kerap terhenti pada tahap purwarupa akibat hasil tidak layak produksi massal. Industri perlu digaet sejak awal, terutama melalui konsorsium riset, guna memastikan hasil penelitian diterima di pasar.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir menuturkan, menggandeng industri agar mau membuat produk massal hasil riset peneliti merupakan tantangan berat pemerintah. Kebanyakan peneliti berhenti pada purwarupa produk dan belum memikirkan sisi komersial hasil riset, termasuk harga yang terjangkau.

“Inovasi baik, tapi harga tidak kompetitif, pasti ditinggalkan pembeli,” kata Nasir, Selasa (15/3), di Jakarta, di sela peluncuran Ristekdikti-Kalbe Science Awards 2016 serta diskusi “Optimalisasi dan Komersialisasi Hasil Penelitian untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa”. Kegiatan diadakan PT Kalbe Farma Tbk bekerja sama dengan Kemristek dan Dikti.

Turut hadir Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Roy A Sparringa, dan Staf Ahli Menteri Keuangan Singgih Riphat.

Menurut Direktur Manufaktur Kalbe Pre Agusta, dalam data Global Innovation Index, Indonesia berada di peringkat ke-87 dari 143 negara pada 2014. Data Business Innovation Center, dari 700 inovasi di Indonesia, 18 persen yang menembus pasar.

Karena kondisi itu, pemerintah mendorong peneliti bergotong royong dengan peneliti lain dan industri menggarap satu target riset melalui pembentukan konsorsium. Hasil terarah karena industri mampu membaca kebutuhan dan selera pasar.

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemristek dan Dikti Muhammad Dimyati mengatakan, hasil riset konsorsium lebih mudah ditangkap industri ketimbang riset mandiri. Misalnya, 55 persen hasil riset dengan hibah program Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional diserap industri dan mayoritasnya produk konsorsium.

“Mayoritas penelitian mandiri sekarang TRL (tingkat kesiapan teknologi)-nya di bawah enam,” ujar Dimyati. Artinya, hasil riset maksimal baru tahap purwarupa, belum siap dipasarkan.

Efisiensi anggaran
Dimyati menjelaskan, pembentukan konsorsium membuat riset lebih efisien dan efektif karena lembaga yang tergabung bisa saling memanfaatkan sarana dan tenaga ahli mitra. Selain itu, “mengeroyok” proyek riset bisa menyiasati anggaran minim.

Data indikator Iptek dari Pusat Penelitian Perkembangan Iptek Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2014, anggaran belanja penelitian dan pengembangan Indonesia hanya 0,09 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Di level Asia Tenggara, persentase itu kalah dari Thailand (0,85 persen terhadap PDB) dan Malaysia (di atas 1 persen terhadap PDB).

Menurut Amin, lembaganya sudah merasakan manfaat konsorsium. Contohnya, LBM Eijkman mengerjakan riset vaksin flu burung bersama Balitbang Kesehatan Kementerian Kesehatan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Fakultas Teknik Universitas Indonesia, PT Biofarma, serta Universitas Airlangga.

Sebelum dengan pendekatan konsorsium, peneliti mendapat dana hibah kecil, Rp 200 juta- Rp 300 juta, dari Kemristek dan Dikti untuk riset. Melalui konsorsium, tim peneliti mengumpulkan dana Rp 2,5 miliar. Produk yang ada, yaitu kandidat vaksin dalam skala laboratorium dan penemuan sistem pemberian vaksin injeksi tanpa jarum.

Insentif tersedia
Pada sisi lain, kata Nasir, sulitnya menggandeng industri juga karena belum jelasnya insentif jika mau memproduksi massal hasil riset. Ia berharap kemauan mengeluarkan biaya pengembangan hasil riset bisa mengurangi pajak penghasilan industri.

Namun, Singgih Riphat menegaskan, skema insentif fiskal, termasuk keringanan pajak penghasilan, sudah tersedia. Bentuk insentif lain di antaranya pembebasan bea masuk atas impor barang untuk keperluan litbang serta fasilitas pembebasan cukai untuk etil alkohol dengan kadar paling rendah 85 persen yang digunakan untuk litbang. “Semua tersedia, tapi tidak ada yang datang meminta,” ujarnya.

Menurut FX Widiyatmo, Asisten Direktur Pengembangan Bisnis Kalbe, Kalbe merasakan manfaat insentif, salah satunya pembebasan bea masuk bahan baku dan alat pengembangan obat biosimilar. Namun, pemanfaatan insentif memang belum optimal, salah satunya karena informasi kurang jelas. Karena itu, pembentukan konsorsium, terutama jika melibatkan lembaga pemerintah, juga penting guna memudahkan komunikasi terkait potensi insentif riset. (JOG)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Maret 2016, di halaman 14 dengan judul “Konsorsium, Solusi Komersialisasi Riset”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: