Home / Berita / Kolaborasi Kampus dengan Industri untuk Pengembangan Kecerdasan Buatan

Kolaborasi Kampus dengan Industri untuk Pengembangan Kecerdasan Buatan

Kerja sama perguruan tinggi dengan dunia industri menjadi penting untuk mendapatkan pengalaman pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan secara praktis. Kerja sama ini memudahkan penyesuaian dengan kebutuhan industri.

TANGKAPAN LAYAR ZOOM—Peragaan operasional alat berat secara jarak jauh yang dimungkinkan oleh teknologi jaringan cepat 5G yang ditunjukkan dalam Huawei Connect 2020 yang digelar di Shanghai. Media dari Asia diajak mengunjungi acara ini secara virtual pada Jumat (25/9/2020).

Kerja sama antara perguruan tinggi dan industri dinilai sangat krusial pada bidang teknologi kecerdasan buatan, mengingat usia teknologi tersebut yang masih sangat muda. Kerja sama semacam ini akan mempercepat adopsi teknologi dan agar manfaatnya segera dirasakan oleh masyarakat.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Prof Nizam mengatakan, pemerintah secara aktif mendukung pengembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Teknologi ini sudah mulai diintegrasikan dengan berbagai mata kuliah di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Ia mencontohkan, Universitas Airlangga memiliki gelar sarjana di bidang robotika dan kecerdasan buatan.

Pembangunan ekosistem sumber daya manusia yang mampu memanfaatkan teknologi AI ia pahami sebagai kebutuhan yang mendesak.

Mengutip studi dari perusahaan konsultan McKinsey, Nizam memprediksi bahwa 23 juta pekerjaan akan hilang digantikan teknologi kecerdasan buatan pada 2030 atau kurang dari 10 tahun ke depan.

MCKINSEY—Infografis pekerjaan yang hilang dan muncul akibat teknologi kecerdasan buatan atau AI di Indonesia berdasarkan studi oleh perusahaan konsultan McKinsey yang diterbitkan pada September 2019.

Namun, ada peluang teknologi ini akan dapat menyediakan pekerjaan hingga dua kali lipatnya jika Indonesia dapat menyediakan manusia yang kreatif memanfaatkan AI.

Untuk itu, menurut dia, penting bagi perguruan tinggi Indonesia guna bekerja sama dengan pelaku industri AI untuk bisa belajar memanfaatkan AI dan menciptakan peluang ekonomi baru dari teknologi baru tersebut.

”Harapannya, kampus semakin pintar dan membuat lingkungan pembelajarannya semakin selaras dengan kebutuhan abad ke-21,” kata Nizam saat berbicara dalam acara Huawei Asia Pacific Ascend Ecosystem Online Forum 2020 yang digelar virtual pada Jumat (25/9/2020) sore.

Selain itu, pada 10 Agustus lalu, pemerintah telah meluncurkan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial Indonesia (Stranas KA). Dalam dokumen tersebut disebut berbagai hal yang harus dilakukan untuk mencapai pemanfaatan AI yang maksimal bagi Indonesia.

Salah satunya adalah penciptaan tenaga kerja dengan kompetensi yang akan dibutuhkan untuk dapat memanfaatkan AI dengan baik, antara lain data analyst, data engineer, data scientist, solution architect, system engineering, dan network engineering.

HUAWEI—Penandatanganan nota kesepahaman antara Ditjen Dikti dan Huawei untuk bekerja sama selama dua tahun pengembangan ekosistem AI di Indonesia pada 24 Juli 2020. Bentuk kerja sama ini berwujud penyediaan penerapan platform e-learning, pelatihan TIK, kompetisi TIK, program magang siswa, serta pengembangan ekosistem komputasi awan dan AI melalui penelitian bersama Huawei.

Pada Juli 2020, Ditjen Dikti dan Huawei telah menandatangani nota kesepahaman untuk bekerja sama selama dua tahun pengembangan ekosistem AI di Indonesia.

Bentuk kerja sama ini berwujud penyediaan penerapan platform e-learning, pelatihan TIK, kompetisi TIK, program magang siswa, dan pengembangan ekosistem komputasi awan dan AI melalui penelitian bersama Huawei.

Pandangan senada disampaikan oleh Vice President dari Institution of Engineers Singapore (IES) Prof Teo Tee Hui. Ia menilai, cara yang tepat untuk menyediakan pool talent AI yang besar dan kapabel adalah dengan mengintegrasikan penggunaan AI ke seluruh jenis mata kuliah.

Hal ini menjadi penting karena tanpa adanya bidang terapan, ahli teknologi AI sendiri tidak akan bisa berkontribusi secara maksimal ke masyarakat ataupun industri.

”Apakah kita mau membuat jurusan khusus mendidik talenta AI yang hanya mendidik sedikit orang? Tidak, cara yang tepat adalah mengintegrasikan AI ke seluruh jurusan dari teknik, ilmu alam, kedokteran, seni, hingga humaniora,” kata Teo yang juga pengajar senior di Singapore University of Technology and Design.

Menurut dia, AI harus menjadi bahasa kedua dari tiap-tiap mahasiswa di jurusan tersebut. Dengan demikian, AI dapat menjadi solusi di sejumlah bidang tersebut.

Di sini peran kerja sama kampus-industri menjadi penting untuk mendapatkan pengalaman pemanfaatan AI secara praktis dan sesuai dengan kebutuhan industri.

Vice Presiden Huawei Asia Pacific Jay Chen mengatakan, Huawei selama beberapa waktu terakhir telah berupaya untuk meningkatkan jumlah talenta industri informasi dan teknologi. Harapannya, dalam lima tahun ke depan, Huawei bisa menghasilkan 200.000 tenaga ahli TIK di Asia Asifik.

Lompatan katak
Kecepatan adopsi dan pemanfaatan sejumlah teknologi baru, seperti AI, komputasi awan, dan jaringan 5G, menjadi lebih penting bagi negara-negara berkembang di Asia Tenggara, seperti Myanmar dan Indonesia, dibandingkan dengan negara maju.

Chief Digital Officer Huawei Asia Pacific Michael Macdonald mengatakan, penggunaan teknologi 5G sebagai infrastruktur jaringan telekomunikasi akan menjadi momentum negara-negara berkembang untuk melakukan lompatan katak (leapfrog) menyamai negara Barat yang sudah maju.

Hal ini karena, menurut Macdonald, adopsi 5G akan lebih cocok bagi negara yang belum memiliki infrastruktur jaringan konvensional yang mahal, seperti serat fiber yang sudah ekstensif seperti di Eropa ataupun Amerika Serikat.

Usaha mikro, kecil, dan menengah di negara berkembang pun langsung dapat memanfaatkan komputasi awan ketimbang harus melawati fase penggunaan komputer dan server tradisional.

”Negara berkembang berada di posisi yang lebih mudah untuk mengadopsi sejumlah teknologi baru ini. Negara berkembang bisa level up untuk setara dengan negara-negara Barat,” kata Macdonald.

Oleh SATRIO PANGARSO WISANGGENI

Editor: KHAERUDIN KHAERUDIN

Sumber: Kompas, 25 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: