Home / Berita / Koasistensi Dokter; Saatnya Melihat, Menyentuh, dan Melakukan

Koasistensi Dokter; Saatnya Melihat, Menyentuh, dan Melakukan

Menjadi seorang dokter yang berkompeten tidaklah mudah. Selain pendidikan akademik, untuk jadi dokter juga harus menyelesaikan pendidikan profesi. Dokter yang kompeten akan bisa menjawab tuntutan kualitas pelayanan yang tinggi dari masyarakat dan kompetisi yang ketat di tengah globalisasi.

Namun, realitas di lapangan kadang tak sejalan dengan harapan dan tuntutan. Itu tergambar dari bagaimana dokter muda menjalani koasistensi (koas) di rumah sakit pendidikan.

Eka Putra Anto (22), sarjana kedokteran yang menjalani koas di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi, Medan, Sumatera Utara, belum lama ini menuturkan, peserta koas hanya bertemu dokter pembimbing satu kali setiap minggu dengan waktu satu-dua jam. Mereka lebih banyak berinteraksi dengan dokter umum yang ikut program pendidikan dokter spesialis (PPDS).

Bimbingan kepada Dokter Muda Masih Minim
Transfer ilmu secara langsung antara dokter pembimbing dan dokter muda masih sangat minim. Dokter muda biasanya hanya bertemu satu kali dalam satu minggu dengan dokter pembimbing. Minimnya pertemuan itu biasanya disebabkan kesibukan dokter pembimbing, yang umumnya dokter spesialis, karena bekerja di beberapa rumah sakit.

Salah seorang dokter muda di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Pirngadi Medan, Sumatera Utara, Eka Putra Anto (22), Kamis (12/5), mengatakan, para dokter muda hanya bertemu dengan dokter pembimbing satu kalitiap minggu dengan waktu 1-2 jam. Para dokter muda lebih banyak berinteraksi dengan dokter umum yang tengah mengikuti program pendidikan dokter spesialis (PPDS).

”Ini menjadi salah satu permasalahan yang kami hadapi. Interaksi dokter muda dengan dokter pembimbing sangat minim. Hal ini membuat transfer ilmu dari dokter pembimbing sangat minim. Dengan sistem seperti ini, kami dituntut lebih banyak menggali ilmu dari literatur yang tersedia,” kata Eka.

Eka lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahman pada2015. Ia mengikuti pendidikan profesi dokterdi RSUD Dr Pirngadi pada tahunini. Seorang dokter muda harus mengikuti pendidikan profesi dokter selama 1 tahun 10 bulan sebagai salah satu syarat mendapat gelar dokter umum.

Saat ini Eka tengah mengikuti praktik di poliklinik penyakit dalam. Di sana ia harus mengikuti bimbingan selama 12 minggu. Setiap minggu itu juga merupakan tanda tiap tingkatan. Artinya, ada 12 tingkatan yang harus dilalui dokter muda di poliklinik penyakit dalam.

Eka mengatakan, setiap tingkatan di poliklinik penyakit dalam maksimal diikutitujuh dokter muda sehingga ada 84 dokter muda yang mengikuti pendidikan di sana. Banyaknya dokter muda dalam satu poliklinik ini juga menjadi permasalahan tersendiri.

Para dokter muda harus memanfaatkan waktu yang sangat minim itu untuk bertanya dan menggali ilmu dari dokter spesialis yang menjadi pembimbing mereka. Di RSUD Dr Pirngadi dokter muda hanya diizinkan berpraktik di kelas bangsal.

Kesempatan mereka menggali ilmu pada dokter spesialis salah satunya ketika dokter spesialis itu mengunjungi pasien di bangsal. ”Saat sedang berkunjung ke bangsal, dokter spesialis akan dikerumunisemua dokter muda itu,” kata Eka.

Eka mengatakan, untuk menggali ilmu tentang praktik kedokteran, mereka lebih banyak berinteraksi dengan dokter umum yang tengah mengikuti PPDS. ”Kalau dokter PPDS, kan, hampir setiap hari masuk dan bertemu dengan kami. Jadi, kami lebih banyak bertanya dan berkonsultasi kepada mereka,” katanya.

Menurut dokter muda lain, Ayu Mega Pratiwi (25), meskipun mereka hanya bertemu satu kali setiap minggu dengan dokter pembimbing, hal itu sudah cukup untuk menggali ilmunya.

Menurut dia, dokter pembimbing hanya bertugas untuk mengarahkan. Untuk mendalami lagi ilmunya, dokter muda harus lebih banyak membaca dari literatur yang tesedia.

Kondisi itu terjadi karena dokter pembimbing sibuk akibat bekerja di sejumlah rumah sakit sekaligus. ”Minimnya interaksi dokter muda dengan dokter pembimbing jadi salah satu masalah kami. Akibatnya, transfer ilmu dari dokter pembimbing amat minim. Dengan sistem seperti ini, kami dituntut lebih banyak menggali ilmu dari literatur,” kata Eka, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah, Padang, itu.

Peserta koas akhirnya lebih kerap berkonsultasi dengan dokter peserta PPDS. ”Kalau dokter PPDS hampir setiap hari masuk dan bertemu kami. Jadi, kami lebih banyak bertanya dan berkonsultasi kepada mereka,” kata Eka yang koas di poliklinik penyakit dalam itu.

Selain FK Baiturrahmah Padang, RSUD Pirngadi Medan jadi lokasi koas dokter muda dari FK Universitas Sumatera Utara, FK Universitas Islam Sumatera Utara, dan FK Universitas Methodis Indonesia Medan.

Apa yang dialami Eka berbeda dengan yang dijalani Tari Nasawida, sarjana kedokteran FK Universitas Bengkulu yang sedang koas di RSUD Dr M Yunus, Bengkulu.

Menurut Tari, dokter spesialis di Bengkulu masih sedikit sehingga pasien di RSUD M Yunus banyak. Karena di RSUD Dr M Yunus hanya ada satu PPDS, maka kehadiran koas dari FK Unib membantu dokter yang ada di rumah sakit.

Dampak positifnya, Tari tak berebut pasien dengan PPDS. Mereka memiliki lebih banyak pengalaman menangani pasien. Misalnya, dalam satu periode koas, ia bisa punya pengalaman membantu persalinan hingga puluhan kasus. ”Pasien umumnya senang karena rumah sakit ada banyak dokter meski sebenarnya baru koas,” kata Tari.

Menurut Irwanda, sarjana kedokteran FK Universitas Tanjungpura, Pontianak, yang sedang koas di RS Kartika Husada, Pontianak, pengalaman menangani banyak pasien di RS dengan variasi penyakit beragam akan melatih kompetensi.

”Pengalaman melihat contoh tindakan dari pembimbing, menyentuh langsung pasien, dan melakukan tindakan sendiri akan terekam dalam ingatan. Beda rasanya kalau hanya melihat,” katanya.

Untuk itu, pembimbing memberi koas kepercayaan melaksanakan tindakan medis. Itu dilakukan sesuai tuntutan kompetensi setelah menguji kemampuan koas, membimbing, dan mengawasinya.

Sementara di Lampung, Nur Hidayah (21), mahasiswa FK Universitas Malahayati, menghabiskan biaya lebih dari Rp 500 juta untuk meraih gelar dokter. Mahasiswa pendidikan profesi dokter itu masih perlu lebih dari Rp 10 juta sampai lulus ujian kompetensi. Fasilitas di FK universitas itu cukup, kecuali dosen. FK Malahayati juga memiliki RS pendidikan RS Pertamina Bintang Amin tipe C.

Dengan melihat, menyentuh langsung pasien, dan melakukan tindakan medis, kompetensi untuk jadi dokter pun teruji.(ADH/ESA/NSA)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Mei 2016, di halaman 14 dengan judul “Saatnya Melihat, Menyentuh, dan Melakukan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: