Klaim-klaim Diuji Terbuka

- Editor

Rabu, 26 April 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Klaim-klaim teknologi ramah lingkungan saat ini bermunculan dengan tujuan menjawab kebutuhan akan efisiensi pemakaian sumber daya alam dan energi. Agar klaim ini tak menyesatkan pemakai, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memverifikasi aplikasi teknologi itu dari sisi teknis, bisnis, serta dampaknya.

Kepala Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan KLHK Noer Adi Wardojo, Selasa (25/4), di Jakarta, mengatakan, verifikasi diperlukan untuk memberikan kepastian informasi terhadap pembeli atau pemberi izin. Verifikasi dilakukan Komite Teknis Verifikasi Teknologi Ramah Lingkungan yang beranggotakan pemerintah (KLHK, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Riset dan Dikti), asosiasi profesi, juga Kamar Dagang dan Industri Indonesia.

“Kami tidak akan proses sampai tahap registrasi jika mereka (pemilik/penjual teknologi) tak bisa menjelaskan atau meyakinkan kami,” kata Noer Adi di sela- sela lokakarya “Limbah/Sampah Menjadi Ethanol”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat ini, katanya, terdapat 12 teknologi ramah lingkungan yang terdaftar di KLHK. Teknologi ini didaftarkan perusahaan hingga Badan Litbang dan Inovasi KLHK serta bergerak di bidang pengolahan limbah medis hingga pengering kayu tenaga surya.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya Beracun KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih mengatakan, teknologi ramah lingkungan diperlukan sebagai jawaban atas perubahan iklim serta keterbatasan sumber daya alam dan energi. Namun, jika tidak dilakukan verifikasi, klaim teknologi ramah lingkungan malah bisa menimbulkan permasalahan lain. “Selain hemat sumber daya alam, sedikit keluar emisi/limbah, juga harus sedikit risiko bencana,” katanya.

Kemarin, Komite Teknik Verifikasi menguji secara teori teknologi ramah lingkungan pengolah limbah/sampah padat organik menjadi etanol (alkohol) dan pupuk milik Greenbelt Resources, Amerika Serikat. Penandatanganan pemakaian teknologi ini dengan manajemen Jababeka Group dilakukan di hadapan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Wakil Presiden AS Mike Pence, 21 April 2017.

Charles Ong Saerang, pemegang lisensi teknologi ini di Indonesia, mengatakan, pihaknya berinvestasi 4,5 juta dollar AS untuk membangun sistem dan infrastruktur. Ia mengatakan, Jababeka siap menyuplai sedikitnya 40 ton atau sekitar 40 truk sampah padat setiap hari.

Sampah ini, katanya, akan diubah melalui metode fermentasi dan proses lain menjadi bioetanol (40 persen) serta pupuk dan air bersih (60 persen). Di Jababeka, yang kawasan industrinya dihuni 1.400 industri, di antaranya terdapat perusahaan cat yang membutuhkan bahan baku etanol.

Dalam verifikasi kemarin, Greenbelt Resources dicecar terkait perhitungan keseimbangan karbon, proses peragian (yeast), dan jaminan ketersediaan suku cadang. (ICH)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 26 April 2017, di halaman 14 dengan judul “Klaim-klaim Diuji Terbuka”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 246 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB