Home / Berita / Kisah Para Petani Muda Lamongan yang Menerapkan Pertanian Organik

Kisah Para Petani Muda Lamongan yang Menerapkan Pertanian Organik

Para petani di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, khususnya kalangan petani muda, mulai didorong menerapkan pertanian organik. Pertanian organik mulai diterapkan petani di sejumlah wilayah, seperti Desa Besur, Kecamatan Sekaran; Desa Kaligerman, Kecamatan Karanggeneng; Desa Kemlagilor, Kecamatan Turi; dan Desa Lembor, Kecamatan Brondong.

Pemuda tani asal Kemlagi Lor, Kecamatan Turi, Husni Munbarok, bahkan bekerja sama dengan Lembaga Gema Desantara menerapkan 100 persen betul-betul padi organik. Artinya tidak menggunakan pupuk kimia ataupun insektisida sedikit pun.

KOMPAS/ADI SUCIPTO KISSWARA–Air kencing kelinci dicampur karbit dan probiotik lalu difermentasikan selama tiga hari bisa digunakan untuk mencegah hama penggerek batang dan mengusir tikus.

Ia memelopori padi organik dengan menggunakan pupuk organik (Mikroba 5) menggunakan bahan-bahan dari alam sekitar, di antaranya beras, tanah pohom bambu, gula merah, batang pisang, dan kotoran sapi. Air kencing kelinci pun dimanfaatkan untuk mengusir hama tikus. Dalam sekali membuat Mikroba 5 bisa digunakan hingga empat musim tanam.

Awalnya, ia dicemooh petani lainnya sebab sawah di kiri-kanannya masih menggunakan pupuk kimia dan insektisida. Padinya terlihat tidak menghijau dan cenderung kuning terus. Bahkan, warga menyindirnya jika tidak sanggup membeli pupuk tidak usah bertani. ”Ada yang salah kaprah. Padi subur itu tidak harus hijau,” katanya, Minggu (8/4/2018).

Ia juga memanfaatkan air kencing kelinci untuk mengusir tikus. Cara pembuatan antihama tikus itu sangat sederhana dan mudah. Kandang kelinci dimodifikasi agar bisa memisahkan air kencing kelinci dengan feses (kotoran) kelinci.

Air kencing kelinci dicampur dengan karbit, probiotik, dan air kelapa setelah tercampur adonan itu difermentasikan selama tiga hari. Penggunaan fermentasi air kelinci pada tanaman padi cukup satu sendok hasil fermentasi itu dicampur lima liter air lalu sudah bisa disemprotkan ke tanaman padi.

Fermentasi tersebut juga bisa mencegah hama sundep (penggerek batang). Husni mendapatkan pasokan air kencing kelinci dari temannya yang memelihara kelinci.

Sementara Sasmito, warga Bakalanpule, Kecamatan Tikung, yang juga memanfaatkan fermentasi serupa membelinya dengan harga Rp 10.000 per liter. Fermentasi itu digunakan untuk mencegah hama padi di sawahnya.

KOMPAS/ADI SUCIPTO KISSWARA–Warga Lembor, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Rabu (18/10/2017), menunjukkan produk yang mereka hasilkan setelah mengikuti sekolah lapang, termasuk pupuk kompos hingga bakteri, pemacu pertumbuhan tanaman.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Lamongan Aris Setiadi mengingatkan petani bahwa potensi hama dan organisme pengganggu tanaman (OPT) lebih mudah berkembang pada musim kemarau basah. Musim kemarau basah diprediksi terjadi lagi ditandai musim hujan terasa lama karena saat kemarau pun masih sering hujan.

Pengendalian hama terpadu di antaranya dilakukan dengan memfasilitasi petani yang secara mandiri memproduksi agen hayati atau musuh alami dari hama dan OPT. Mata rantai perkembangan hama dan OPT akan sulit diputus jika petani terus-menerus menanam padi sepanjang musim.

Menurut Aris, penggunaan agen hayati untuk pengendalian hama lebih efektif dan ramah lingkungan. Saat ini ada 36 kelompok tani yang konsisten menggunakan agen hayati untuk pertanian padi. Petani itu mengembangkan pertanian padi bebas pestisida. ”Produksi per hektar diharapkan mencapai 10 ton gabah kering giling,” ujarnya.

Ia mencontohkan di Desa Besur, Kecamatan Sekaran, petani tidak lagi menggunakan pestisida. Sekitar 60 hektar dari 100 hektar areal tanam padi telah bebas pestisida karena petani murni menggunakan agen hayati untuk mengendalikan hama dan OPT, pupuknya menggunakan kompos.

Inovasi itu mendongkrak produksi hingga 10 ton gabah kering panen (GKP) atau setara 8,94 ton gabah kering giling (GKG) per hektar. Kepala Desa Besur Abdul Haris Suhud mengatakan, penerapan agen hayati akan terus dikembangkan.

Agen hayati yang dikembangkan petani yakni Beauveria dan Trichoderma. Mereka juga memagari lahan padi mereka dengan tanaman refugia (tanaman berbunga) seperti bunga matahari. Tanaman berbunga (refugia), seperti kenikir, jengger ayam, tapak dara, bunga kertas dan bunga matahari, bisa digunakan untuk menarik serangga seperti lalat, kumbang, dan semut sehingga tidak mengganggu tanaman pokok.

Agen hayati berupa jamur Beauveria berfungsi mengendalikan serangga termasuk wereng, sedangkan jamur Trichoderma Sp bisa menjadi pupuk biologis sekaligus mencegah busuk pangkal batang tanaman.

Padi organik
Penerapan padi organik di Kaligerman, Kecamatan Karanggeneng, telah dipanen Sabtu (7/4/2018). Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga Bidang Kepemudaan Zainul Munasichin menilai Program Pemuda Tani Organik Berbasiskan Kearifan Lokal Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mulai dilirik warga.

Progam itu diselenggarakan di 10 provinsi dengan peserta binaan mencapai 1.000 pemuda. Program tersebut menjadi bagian dari regenerasi petani. Jumlah petani terus menurun karena minimnya pemuda mau menggeluti profesi petani karena dinilai tidak menjanjikan.

Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lamongan Bambang Didik Suparto menyambut baik program itu karena bisa membuat para pemuda tertarik menggeluti sektor petanian. Langkah itu perlu diperkuat dengan kebijakan dan regulasi, baik pusat maupun daerah, agar bisa masif dan Pemerintah Kabupaten Lamongan siap mendukung dan mendorong pemuda bertani, lebih khusus lagi petani organik.

Bupati Lamongan Fadeli berharap penerapan padi organik, agen hayati juga disertai pemilihan bibit unggul, sesuai dengan kondisi tanah dengan pola tanam jajar legowo. Pemanenan didukung alat modern diharapkan akan semakin meningkatkan produksi.

Fadeli menjelaskan, pada pertengahan Desember 2016 di Lamongan dimulai uji padi organik di lahan seluas 40 hektar di Kecamatan Kedungpring. Jenis padi itu diberi kode M70D ditanam di lahan uji coba di Desa Nglebur seluas 20 hektar dan M400 ditanam di Desa Majenang juga seluas 20 hektar.

”Hasil padi organik itu nantinya diharapkan bisa diaplikasikan di daerah lain dan akan memunculkan varietas spesifik yang cocok untuk wilayah Lamongan. Intinya penghasilan petani harus meningkat,” kata Fadeli.

Menurut pendamping Program Padi Organik, Dewi Kalifatullah, pada tahun pertama uji coba itu belum bisa sepenuhnya organik karena masih ada sisa pupuk anorganik dari pertanian sebelumnya. Tahun pertama hasil produksi ditargetkan 7 ton per hektar. Tahun ketiga ditargetkan 10 ton per hektar.

Harga beras organik bisa mencapai Rp 27.000 per kilogram, sementara beras dari padi anorganik tidak sampai Rp 10.000 per kg. Pihaknya sedang mencarikan pembeli beras dari padi organik agar bisa menyejahterakan petani.

Nantinya petani bisa memilih mau menggunakan jenis padi M70D atau M400. Jenis M70D sudah bisa dipanen dalam 70 hari dengan jumlah bulir malai (sekumpulan bunga padi) mencapai 150 hingga 200, sedangkan M400 baru bisa dipanen dalam 90 hari dengan jumlah bulir malai bisa mencapai 400.–ADI SUCIPTO KISSWARA

Sumber: Kompas, 9 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: