Home / Berita / Kisah Anak Petugas Satpam Peraih Gelar Doktor

Kisah Anak Petugas Satpam Peraih Gelar Doktor

Bertahun-tahun lalu, Teguh Tuparman (56) kerap mengajak putri sulungnya yang masih kecil mengunjungi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Sehari-hari, Teguh memang bekerja di UGM, tetapi bukan sebagai dosen atau peneliti, tetapi sebagai petugas satpam atau penjaga keamanan.
”Dulu, kalau pas kerja, putri saya itu kerap saya ajak. Saya kenalkan, ini lho UGM walaupun waktu itu saya enggak tahu apa dia bisa kuliah di sini atau enggak,” kata Teguh yang sudah 33 tahun bekerja sebagai petugas satpam di Pusat Keamanan, Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (PK4L) UGM.Sebagai pekerja dengan penghasilan pas-pasan, Teguh memang tak terlalu berharap anak-anaknya bisa kuliah di kampus bergengsi seperti UGM. Namun, berkat kerja keras dan kegigihannya, putri sulung Teguh, Retnaningtyas Susanti, akhirnya bisa kuliah di UGM. Yang luar biasa, perempuan yang biasa dipanggil Tyas itu bukan hanya menempuh jenjang sarjana atau S-1 di UGM, melainkan juga berhasil merampungkan pendidikan magister dan doktor di kampus tersebut.

Pada Kamis (19/4/2018), Tyas resmi diwisuda sebagai lulusan program doktor Kajian Pariwisata Sekolah Pascasarjana UGM. Prosesi wisuda yang dijalani perempuan berusia 33 tahun itu berlangsung penuh keharuan karena sang ayah hadir ke ruangan wisuda di Grha Sabha Pramana UGM mengenakan seragam satpam UGM, lengkap dengan beragam aksesorinya.

”Saya bangga sekali dengan Tyas yang akhirnya bisa menjadi doktor. Saya ini kan orang golongan kecil yang cuma lulusan SMP.”

Teguh mengatakan, sejak Tyas diterima sebagai mahasiswa S-1 Jurusan Antropologi UGM tahun 2003, ia bertekad untuk mendukung penuh cita-cita sang anak meraih pendidikan setinggi mungkin. Segala cara pun dilakoni warga Desa Donokerto, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu agar bisa membiayai kuliah Tyas, termasuk dengan berutang ke sana sini.

”Sampai sekarang, dari gaji saya yang Rp 3,5 juta sebulan, yang saya terima bersih cuma Rp 1,3 juta. Sisanya untuk nyicil membayar utang,” kata Teguh yang pernah nyambi bekerja sebagai sopir bus kota untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Kerja sambilan
Di sisi lain, sebagai anak sulung, Tyas juga sadar diri bahwa sang ayah tak bisa membiayai kuliahnya secara penuh terus-menerus. Apalagi, Tyas masih memiliki tiga adik yang tentu membutuhkan biaya pendidikan juga. ”Waktu S-1, uang kuliah dan uang saku itu masih dari ayah. Tapi, uang sakunya tentu pas-pasan, kadang Rp 5.000 untuk dua hari,” ujarnya.

DOK HUMAS UGM–Retnaningtyas Susanti (tengah) bersama ayah dan ibunya seusai diwisuda di Universitas Gadjah Mada (UGM), Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (19/4/2018).

 

 

 

 

Oleh karena itu, sejak awal kuliah S-1 pada tahun 2003, Tyas sudah berinisiatif mencari uang sendiri. Bersama kawannya, ia berinisiatif berjualan salak di pasar dadakan yang biasa digelar di UGM tiap Minggu. ”Selain itu, saya juga jualan salak saat ada wisuda di UGM,” kata Tyas yang lulus S-1 tahun 2007.
Setelah lulus S-1, Tyas sempat bekerja di lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan membantu penelitian bekas dosennya. Namun, pada tahun 2009 atau dua tahun sesudah lulus S-1, Tyas berkeinginan melanjutkan program magister atau S-2. Ia pun mendaftar ke program magister Kajian Pariwisata Sekolah Pascasarjana UGM dan diterima.

Namun, saat itu, Tyas tidak bisa lagi mengandalkan bantuan keuangan dari sang ayah. Oleh karena itu, ia harus bekerja di beberapa tempat agar bisa membayar uang kuliah S-2 yang jumlahnya Rp 5.500.000 per semester. ”Saya pernah kerja jadi pelayan di warung kopi,” kata Tyas yang lahir di Yogyakarta, 25 Mei 1985.

Selain itu, Tyas juga aktif ikut serta dalam berbagai proyek penelitian. Dengan kerja keras itulah, Tyas akhirnya bisa membiayai kuliahnya hingga lulus S-2 pada tahun 2011. Setelah lulus S-2, Tyas berhasil diterima sebagai dosen luar biasa di Universitas Andalas di Padang, Sumatera Barat.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS–Kisah tentang Retnaningtyas Susanti dimuat akun Instagram resmi milik Universitas Gadjah Mada (UGM) dan mendapat banyak tanggapan dari warganet.

Pada tahun 2013, Tyas kembali tergerak untuk melanjutkan pendidikan setelah melihat ada pendaftaran Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPPDN) dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Tyas pun mendaftar dan terpilih menjadi salah satu penerima beasiswa tersebut.

”Untuk S-3, saya kembali memilih UGM karena UGM ini kan kampus terbaik di Indonesia. Selain itu, agar saya bisa berkumpul bersama keluarga lagi di Yogyakarta,” kata Tyas.

Meski sudah mendapat beasiswa, bukan berarti pendidikan doktoral yang dijalani Tyas berlangsung mulus. Menjelang akhir masa studinya, Tyas mesti pontang-panting lagi mencari dana untuk membayar uang kuliah S-3 yang besarnya Rp 11.000.000 per semester karena beasiswa yang diterimanya hanya diberikan dalam jangka 3 tahun.

”Padahal, masa studi saya menghabiskan waktu 4,5 tahun. Jadi, uang kuliah untuk 1,5 tahun atau 3 semester itu harus saya tanggung sendiri,” kata Tyas yang lulus S-3 dengan indeks prestasi kumulatif 3,7.

Sempat kebingungan mencari bantuan dana, Tyas akhirnya bisa membayar uang kuliahnya berkat bantuan dari sejumlah pihak. Salah satu bantuan itu datang dari dosennya yang menawarkan Tyas untuk mengikuti proyek penelitian agar ia bisa mendapatkan uang untuk membayar uang kuliah.

”Di semester terakhir, saya juga mengajukan keringanan ke kampus karena tidak mampu kalau harus membayar penuh uang kuliah. Akhirnya, dari uang kuliah yang harusnya Rp 11 juta, saya hanya diminta membayar Rp 2.750.000,” kata Tyas yang setelah lulus program doktor akan kembali mengajar di Universitas Andalas.

”Anak rektor”
Meskipun ayahnya bekerja sebagai petugas satpam, Tyas tak pernah merasa malu dengan profesi sang ayah. Sejak kuliah S-1 hingga S-3, ia tak pernah menutup-nutupi bahwa ayahnya bekerja sebagai petugas satpam di UGM. ”Bahkan, saya sering nunjukin kepada teman-teman saya, itu lho bapak saya lagi jaga,” ungkapnya.

Di sisi lain, Tyas mengatakan, posisi sebagai anak petugas satpam UGM justru memberi pengalaman lucu. Sebagai petugas satpam senior, Teguh dikenal oleh banyak kalangan di UGM sehingga Tyas pun kemudian dikenal banyak orang di kampusnya.

”Karena saya kenal banyak orang di UGM, teman-teman bahkan menjuluki saya sebagai ’anak rektor’ walaupun kenyataannya saya anak petugas satpam,” kata Tyas sambil tertawa.

Saat ditanya bagaimana perasaannya diwisuda sebagai doktor dengan diantar ayahnya yang memakai seragam satpam, Tyas kembali menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak malu. ”Saya malah makin bangga kepada Bapak,” tuturnya mantap.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: