Kilatan Cahaya di Bengkulu Diduga Meteor

- Editor

Rabu, 28 Oktober 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kilatan cahaya dan suara dentuman keras yang disaksikan sejumlah warga di perbatasan Kabupaten Kepahiang dan Rejang Lebong, Bengkulu, Senin (26/10) malam, diduga adalah meteor. Namun, hingga Selasa, belum ditemukan ada meteorit di lokasi dugaan jatuhnya batuan antariksa itu.

Gunardi, warga Desa Pelalo, Curup Timur, Rejang Lebong, seperti dikutip Antara, mengatakan, kilatan cahaya itu tampak sekitar pukul 19.00. “Setelah kilatan itu, ada bunyi dentuman keras,” tuturnya. Namun, Gunardi yang melihat kilatan cahaya itu bersama rekannya mengaku tak mengetahui lokasi dentuman.

Kepala Kepolisian Resor Kepahiang Ajun Komisaris Besar Iskandar ZA mengatakan, timnya menemukan satu lokasi di hutan di perbatasan Kepahiang dan Rejang Lebong yang diduga asal terjadinya dentuman. Saat ditemukan, lokasi itu sudah terbakar. Namun, asal atau sumber dentuman belum ditemukan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Secara terpisah, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, di Jakarta, mengatakan, kilatan cahaya yang diikuti dentuman keras itu diduga meteor. “Dari pantauan dan analisis Lapan, tak ada sampah antariksa yang jatuh di Bengkulu pada Senin malam. Karena itu, dugaannya adalah meteorit,” katanya.

Benda-Asing-Jatuh-Dan-Meledak-Dari-Langit-Di-Bengkulu-UFO-Atau-MeteorMeteor adalah batuan antariksa yang masuk ke atmosfer Bumi dan terbakar sehingga menimbulkan kilatan cahaya atau orang Indonesia menyebutnya bintang jatuh. Sebelum masuk ke atmosfer Bumi, batuan itu disebut meteoroid. Meteor yang tersisa saat jatuh di tanah, tak habis terbakar di atmosfer, disebut meteorit.

Dentuman yang terjadi adalah gelombang kejut yang dihasilkan gerak meteor di dekat permukaan Bumi. Karena tak ada laporan terjadi getaran pada kaca-kaca rumah, Thomas menduga meteorit yang jatuh di Bengkulu berukuran kecil, kurang dari 1 meter.

Namun, meteorit tak menimbulkan efek panas. Meteor biasanya bercahaya, tetapi ada efek pendinginan saat mendekati permukaan Bumi. Jadi, meteorit tak memicu kebakaran. “Kalau terjadi kebakaran di tempat yang diduga jatuhnya meteorit, itu dari sumber api lain,” ujarnya.

Meteor dan meteorit adalah fenomena alam biasa. Bagi warga yang tinggal jauh dari cahaya, seperti di pedesaan, meteor bisa dilihat tiap hari. Peluang terbesar melihat meteor adalah tengah malam hingga menjelang fajar.

Meteoroid atau batuan antariksa banyak terdapat di sekitar Bumi atau benda langit lain. Tiap tahun diperkirakan 25.000 batuan dan debu antariksa menumbuk Bumi. Makin besar ukurannya, berdiameter ratusan meter, jumlahnya kian kecil dan frekuensi menghantam Bumi makin jarang, seperti meteor yang menghancurkan dinosaurus 65 juta tahun lalu.

Thomas menegaskan, meteor tak berbahaya. Karakternya mirip batuan Bumi, tak ada radiasi dan tak mengandung zat kimia berbahaya. (MZW)
————————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 Oktober 2015, di halaman 13 dengan judul “Kilatan Cahaya di Bengkulu Diduga Meteor”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 58 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB