Home / Artikel / Kewarasan Ilmiah dan Kedaruratan

Kewarasan Ilmiah dan Kedaruratan

Dalam masa darurat, kewarasan ilmiah bukanlah soal patriotisme, melainkan nilai humanisme dalam melindungi nyawa manusia. Hanya dengan kewarasan ilmiah kita dapat melewati pandemi ini dengan aman.

Penulis Inggris terkenal, Charles Dickens, pernah berkata, ”There is nothing so strong or safe in an emergency of life as the simple truth.” Ketika kita berada dalam masa penuh bahaya, tak ada yang begitu kuat dan begitu melindungi selain kebenaran bersahaja. Kebenaran bersahaja adalah kebenaran yang tidak dibumbui pernyataan bombastis, kebenaran yang tidak dibungkus dengan informasi tanpa bukti, kebenaran yang tidak dibingkai pandangan ideologis.

Mengapa kebenaran itu penting di masa pandemi saat ini? Para ahli bencana sepakat bahwa dalam situasi darurat, satu-satunya cara manusia untuk bertahan adalah adanya kebenaran atas dua hal. Pertama, kebenaran tentang apa yang sedang terjadi. Kedua, kebenaran tentang apa yang kita harus lakukan. Dua kebenaran ini akan membimbing kita melewati masa darurat yang gelap dan penuh ketidakpastian.

Kebenaran bisa datang dari berbagai sumber. Namun, dalam keadaan darurat yang diakibatkan oleh fenomena alam seperti tsunami, gempa bumi, badai topan, dan wabah penyakit, sumber kebenaran yang paling valid adalah sains.

Seperti kata sosiolog Amerika Serikat, Robert Merton, sains adalah institusi sosial yang peran dan fungsinya sudah sangat jelas, yakni memproduksi pengetahuan ilmiah berdasarkan metode empiris dan nalar yang teruji. Ini merupakan fondasi kewarasan ilmiah yang menjadi benteng sains dari penyalahgunaan kekuasaan.

Musuh sains
Dalam konteks kebencanaan, peran sains menjadi jauh lebih penting karena lewat sains kita mendapat pedoman tentang apa yang terjadi dan apa yang harus kita lakukan. Sains membelah fakta-fakta alam untuk kemudian kita telaah secara rasional dalam mendapatkan jawaban tentang mengapa tsunami terjadi, apa yang menyebabkan gunung berapi meletus, atau dari mana asal-usul virus yang menyebabkan pandemi Covid-19.

Lebih penting lagi, sains memberi solusi dalam menghadapi bencana tersebut. Artinya, sains adalah bagian yang tidak terpisahkan dari resiliensi manusia terhadap guncangan alam.

Di dalam era pasca-kebenaran (post-truth), otoritas sains mendapat tantangan yang luar biasa dari dua musuh utama. Musuh pertama adalah kelompok ideologis yang tidak percaya pada sains, misalnya kaum penyangkal perubahan cuaca dan kaum ”bumi datar”.

Teori konspirasi adalah senjata dari kelompok ini untuk mempertanyakan keabsahan sains. Mereka ”percaya” sains hanya jika menguntungkan mereka. Mereka menyangkal kebenaran sains jika itu mengancam kepentingan mereka.

Jika musuh sains yang pertama dapat dikenali dengan mudah, musuh sains yang kedua bersifat terselubung dan karena itu lebih berbahaya. Mereka adalah orang-orang yang mengklaim menggunakan metode sains, tetapi sebenarnya tidak mengikuti standar praktik ilmiah.

Mereka mengaku melakukan penelitian berbasis sains, tetapi memanipulasi hasil penelitian atau tidak membuka secara transparan proses yang mereka lakukan agar dapat diverifikasi oleh para ilmuwan yang lain lewat peer-review (penelaahan sejawat). Dan ini menyimpang dari kewarasan ilmiah.

Dalam masa pandemi ini, kedua musuh sains ini muncul di mana-mana, termasuk di Indonesia sebagai salah satu episentrum Covid-19. Tipe musuh sains yang pertama kita tahu. Mereka adalah kelompok yang tidak percaya bahwa Covid-19 itu nyata dan menganggap bahwa virus korona adalah hasil konspirasi elite global yang mencoba mendapatkan keuntungan dari bisnis vaksin.

Yang perlu lebih diawasi adalah tipe musuh sains yang kedua karena muncul seakan-akan mewakili otoritas sains, tetapi sebenarnya memelintir kewarasan ilmiah. Mereka menawarkan optimisme lewat solusi pamungkas untuk menangani virus korona. Faktanya, ”solusi” yang ditawarkan adalah hasil yang tidak mengikuti prosedur standar dalam penelitian ilmiah.

Skandal peneliti ramuan herbal yang heboh lewat seorang selebritas beberapa waktu lalu adalah salah satu contoh klaim kebenaran yang tidak berlandaskan kewarasan ilmiah dan dapat merugikan masyarakat.

Hal senada adalah klaim ”penemuan” obat Covid-19 oleh Universitas Airlangga yang bekerja sama dengan BIN dan TNI. Kolaborasi riset antara universitas dengan militer dan badan intelijen bukan hal aneh. Di Amerika Serikat, sains dan teknologi berkembang pesat salah satunya karena keterlibatan Pentagon dalam berbagai proyek penelitian.

Hanya saja, dalam proyek ini otoritas sains harus terus dijaga. Jika tidak, ada risiko di mana hasil penelitian menjadi bias karena campur tangan pihak militer dan badan intelijen justru berujung pada pembelotan kewarasan ilmiah. Misalnya, klaim ”penemuan” obat Covid-19 yang dibumbui oleh narasi patriotisme dengan slogan ”karya anak bangsa” yang harus diapresiasi dan disambut baik.

Aspek kedaruratan
Yang lebih mengkhawatirkan, pihak TNI dan BIN mengedepankan status ”kedaruratan” untuk membenarkan ”percepatan” uji klinis obat Covid-19 walaupun tidak melewati prosedur standar yang aman. Cara pandang ini kontradiktif terhadap kewarasan ilmiah.

Modus yang sama bisa kita lihat dari sikap pemerintah dalam penggunaan vaksin Sinovac yang masih dalam uji klinis. Didorong nafsu ekonomi, ada keinginan pemerintah untuk mempercepat penggunaan vaksin Sinovac di Indonesia. Padahal, secara ilmiah kita belum yakin apakah vaksin ini efektif dan aman untuk digunakan.

Dalam menghadapi wabah Covid-19, memang kita harus bergerak cepat. Namun, narasi patriotisme dan kedaruratan ini jangan sampai menafikan kewarasan ilmiah yang mengedepankan proses verifikasi yang valid dan transparan. Sebab, ini adalah kunci untuk menghasilkan produk medis yang tidak mengorbankan masyarakat.

Dalam masa darurat, kewarasan ilmiah bukanlah soal patriotisme, melainkan nilai humanisme dalam melindungi nyawa manusia. Hanya dengan kewarasan ilmiah kita dapat melewati pandemi ini dengan aman. Kewajiban negara untuk menjaganya.

Sulfikar Amir, Associate Professor dan Sosiolog Bencana di Nanyang Technological University.

Sumber: Kompas, 26 Agustus 2020

Share
%d blogger menyukai ini: