Home / Berita / Ketika ”Kelas” Pindah ke Rumah

Ketika ”Kelas” Pindah ke Rumah

Orangtua dengan segala profesinya kini dituntut mau disiplin memantau dan mendampingi anak mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh. Beberapa di antara mereka tidak siap dengan konsekuensi itu.

KOMPAS/ZULKARNAINI–Kayyisah Khazimah, siswa MIN 5 Banda Aceh, sedang belajar di rumah mengikuti paparan pelajaran yang dikirimkan guru melalui aplikasi Whatshapp, Rabu (18/3/2020).

Pandemi penyakit Covid-19 tiba-tiba mengubah segalanya. Dulu anak-anak belajar tenang-tenang saja di kelas di sekolah. Kini, demi mengurangi kerumunan yang rentan menyebarkan virus korona baru, kegiatan tatap muka di kelas digeser menjadi belajar di rumah. Hanya saja, pelaksanaannya tak selalu mudah.

Selasa (17/3/2020) pagi yang cerah. Titi (33), seorang ibu rumah tangga di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, baru saja kelar mendampingi belajar Noura (5), anak sulungnya. Suasananya santai. Siswi kelas satu Madrasah Ibtidaiyah As Salaamah itu mengenakan baju bergambar Elsa, salah satu karakter di film Frozen. Katanya, biar lebih bersemangat.

Ibu dan anak itu duduk di atas karpet di ruang tamu. Di dekatnya, ada tiga puzzle angka dan berhitung, meja lipat berukuran mini, dan map transparan berisi kertas serta materi belajar–pemberian wali kelas saat pertemuan dengan wali murid di sekolah, Senin lalu.

Sekolah Noura mengikuti arahan pemerintah untuk mengganti kegiatan belajar-mengajar (KBM) di kelas dengan belajar di rumah. Pergeseran ini dijadwalkan dua pekan. Orangtua diminta mendampingi anak belajar di rumah, mulai dari mendisiplinkan waktu belajar sesuai agenda sampai menjaga anak mengerjakan tugas. Dalam sehari, rata-rata ada tiga pelajaran yang mesti dituntaskan.

Titi bercerita, sejak tidak berangkat sekolah, Noura bangun lebih siang, sekitar pukul 09.00. Ini imbas dari tidur malamnya yang lebih larut. Gadis itu merasa, tidak pergi ke sekolah berarti bisa bangun agak siangan.

”Ini tantangan bagi orangtua. Saya bebaskan bangun siang, tetapi saya dorong dia mengikuti agenda belajar. Saya kan harus memfoto kegiatan belajar tiap hari dan mengirimkannya ke guru lewat Whatsapp,” kata Titi.

Menggelar kelas di rumah tidak gampang. Apalagi, kegiatan itu dilakoni tanpa boleh meninggalkan seabrek pekerjaan harian rumah tangga. Contohnya, saat mendampingi Noura belajar, Titi bahkan nyambi mengurus bayi. Belum lagi menemani suami yang juga mesti bekerja di rumah.

”Ini aja aku belum mandi dari tadi. Suami masih conference call urusan kerja dengan atasannya,” katanya sambil tertawa.

Beban bertambah
Di Depok, Jawa Barat, Kartika Anindita, seorang konsultan hubungan masyarakat, juga bergelut dengan agenda serupa. Dia masih tetap ke kantor dengan jadwal berselang-seling hari. Suaminya, yang bekerja di perusahaan layanan penerbangan, tetap masuk ke kantor setiap hari.

Saat bekerja di rumah, Kartika harus mendampingi belajar anaknya, Cyla, siswa kelas dua di sekolah dasar negeri di Cimanggis, Depok. Sekolah meminta semua orangtua mengikuti briefing pukul 08.00-09.00 di grup Whatsapp. Isinya daftar pelajaran lengkap berisi buku dan tugas yang harus dikerjakan anak. Setiap kegiatan harus difoto dan dikirim ke Whatsapp guru. Orangtua dapat melengkapi latihan tugas dengan mengunduh soal-soal di aplikasi edukasi.

Kartika pun membuat jadwal belajar sesuai arahan guru, waktu istirahat, mengerjakan tugas sekolah, lalu mengisi soal dari aplikasi edukasi. Jadwal itu ternyata sukar diterapkan. ”Cyla sekarang bangun siang, sekitar pukul 09.00. Saya minta dia mandi, sarapan, dan segera memenuhi agenda belajar,” ujar Kartika.

Ketika bekerja di kantor, Kartika menyerahkan pemantauan jadwal itu kepada pembantu dan orangtuanya. ”Di kantor, pikiranku terpecah antara rumah dan kantor. Aku sampai membekali ponsel pintar ke Cyla agar bisa laporan sendiri ke gurunya,” tuturnya.

Meski terasa membebani, mau tidak mau harus dijalani demi menjaga kesehatan keluarga. Grup Whatsapp wali murid dimanfaatkan untuk udar rasa dan berbagi semangat dengan orangtua lain. ”Saya dan suami saling menguatkan karena siapa pun maunya tetap sehat dan berharap pandemi Covid-19 segera selesai,” ujar Kartika.

Hingga pukul 12.30, Cyla belum mandi. Tetapi begitu kelar mengerjakan tugas belajar, dia langsung bermain di dalam rumah. ”Tugasnya dari guru jadi lumayan banyak,” kata Cyla sambil malu-malu.

DOKUMENTASI PRIBADI–Dito, anak Shinta Setyaningsih, sedang mengikuti kegiatan belajar-mengajar dalam jaringan melalui aplikasi Zoom. Dito bersekolah di salah satu sekolah di bawah Yayasan Lazuardi Hayati.

Rasa kantor
Lain cerita dengan Shinta Setyaningsih, seorang karyawan perusahaan teknologi yang berdomisili di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Suaminya juga seorang pekerja kantoran. Saat ini, keduanya bekerja di rumah atas kebijakan kantor masing-masing.

Salah satu anak Shinta, yakni Dito, merupakan siswa kelas 4 di salah satu sekolah di bawah Yayasan Lazuardi Hayati. Pada akhir pekan lalu, pihak sekolah sudah meminta semua orangtua murid mengunduh aplikasi yang memungkinkan berlangsungnya KBM dalam jaringan dengan mengandalkan interaksi melalui internet, misalnya Google Classroom dan Zoom Cloud Meeting.

Setelah itu, pada Senin (16/3/2020), seluruh siswa diminta datang ke sekolah dengan membawa gawainya masing-masing. Siswa dibuatkan alamat surel. Guru pun memastikan siswa memiliki aplikasi yang bisa dipakai belajar dalam jaringan. Untuk setor tugas latihan, guru memperkenalkan pula aplikasi Google Drive.

”Intinya, siswa diberikan penjelasan cara belajar dalam jaringan. Sosialisasi aplikasi. Sebelumnya, sekolah anakku tidak ada belajar dalam jaringan dan kalaupun pakai internet cuma untuk riset,” ujarnya.

Sekolah anaknya meniadakan KBM di kelas mulai 17-30 Maret. KBM diganti dalam jaringan di rumah masing-masing yang berdurasi tiga jam setiap harinya. Karena Shinta tetap bekerja dengan jam kerja normal, yakni pukul 09.00-18.00, makanya dia sendiri tetap memakai pakaian rapi dan make up menyerupai hendak bekerja di kantor. Dia pun meminta Dito berpakaian rapi dan tidak kaus oblong rumahan.

Secara kebetulan, Shinta sudah mempunyai workspace di rumahnya. Jadi, dia dan suami bisa menjalankan pekerjaannya dengan tenang. Si anak pun sudah mempunyai perabot khusus berupa meja belajar.

”Harus berpakaian rapi dong karena kan tetap tatap muka meskipun dalam jaringan. Karena dalam satu atap, jadi aku dan suami bisa mudah memantau, tepatnya sih ngintip bagaimana sih anakku belajar dengan siswa lainnya lewat aplikasi Zoom Cloud Meeting,” katanya.

Shinta membaca berita bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana memperpanjang masa tanggap darurat penyakit Covid-19 sampai Mei 2020. Dia bersama keluarga relatif sudah pasrah. Arahan pemerintah untuk hidup sehat sampai bekerja dan belajar di rumah diikuti.

Belum semua siap
Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) M Ramli Rahim mengatakan, hingga sekarang, belum semua guru siap dengan KBM dalam jaringan dengan mengandalkan interaksi melalui internet. Ada beberapa daerah mengarahkan guru dan siswa belajar dalam jaringan dengan mengirimkan penugasan pekerjaan rumah saja.

”Padahal, banyak aplikasi untuk menjalankan KBM dalam jaringan. Kuncinya adalah guru-guru dilatih dan dibiasakan,” katanya.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Ahmad M Ramli mengimbau kepada seluruh operator telekomunikasi seluler untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi data seluler. Kemkominfo meminta agar operator memprioritaskan layanan telekomunikasi seluler kepada masyarakat yang bekerja, belajar di rumah, dan tenaga kesehatan di rumah sakit.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Kebijakan belajar di rumah yang ditetapkan pemerintah terkait wabah Covid-19 dimanfaatkan SD Al Azhar 15 Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, untuk menggelar kegiatan belajar-mengajar secara daring, Selasa (17/3/2020). Para siswa dan guru memanfaatkan aplikasi Google Class Room untuk ruang belajar dan Zoom Cloud Meeting untuk telekonferensi. Perkembangan teknologi dimanfaatkan pihak sekolah untuk menyiasati keadaan yang tak diduga, seperti wabah Covid-19. Pembelajaran dimulai sejak pukul 07.30 hingga pukul 13.30.

Sejumlah daerah
Hingga kemarin, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memperkirakan 140 pemerintah kabupaten/kota telah menetapkan kebijakan meniadakan KBM tatap muka di kelas. Durasinya bersifat sementara untuk merespons masa tanggap darurat dalam keadaan tertentu penyakit Covid-19. Jumlah itu diperkirakan terus bergerak.

Wali Kota Banda Aceh mengatakan semua pihak, terutama guru dan orangtua siswa, harus memiliki komitmen untuk menjalankan pendidikan daring selama sekolah diliburkan. ”Saya minta para orangtua bisa membimbing anak-anak untuk sementara belajar dari rumah,” ujar Aminullah.

Kepala Dinas Pendidikan Lampung Sulpakar menjelaskan, pembelajaran jarak jauh diterapkan sejak 17-30 Maret 2020 sesuai instruksi gubernur. Selain menerapkan sistem daring, sekolah juga diminta tidak menggelar kegiatan yang mengundang banyak peserta dalam satu ruangan selama beberapa bulan ke depan.

Pemerintah Kota Tegal memutuskan untuk meliburkan kegiatan belajar-mengajar di sekolah dan menggantinya dengan sistem belajar di rumah mulai 16-29 Maret 2020. Keputusan itu berlaku untuk seluruh jenjang pendidikan mulai dari PAUD hingga SMP. Adapun pelajar tingkat SMA juga sudah diliburkan sesuai dengan arahan Pemerintah Provinsi Jateng. Upaya penggantian sistem belajar di sekolah menjadi di rumah itu dilakukan untuk menekan risiko penyebaran infeksi virus korona jenis baru (SARS-CoV-2).

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal Ismail Fahmi mengatakan, pihaknya akan mengerahkan relawan pendidikan untuk ikut mengawasi dan memastikan para pelajar tetap belajar di rumahnya masing-masing selama dua pekan ini. Sukarelawan pendidikan ini akan bekerja sama dengan pejabat rukun tetangga, pejabat rukun warga, dan para orangtua dalam mengawasi pelajar di lingkungannya.

”Kami akan menempatkan sukarelawan pendidikan ini di setiap RT. Selain bertugas untuk memastikan para pelajar tetap belajar, sukarelawan pendidikan ini juga akan mengedukasi masyarakat terkait bahaya virus korona,” ujar Fahmi.

Demi menyelamatkan bangsa
Mendikbud Nadiem Anwar Makarim menyampaikan, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, saat ini pegawai negeri sipil Kemendikbud menjalankan tugas, pekerjaan, dan rapat-rapat koordinasi dari rumah menggunakan berbagai teknologi konferensi yang telah tersedia. Upaya ini bersifat sementara waktu untuk menjalankan penjauhan diri.

Dia mengapresiasi dukungan berbagai perusahaan di bidang teknologi pendidikan yang membantu siswa dan guru di wilayah terdampak penyakit Covid-19 untuk terus menjalankan KBM. Nadiem menyebutkan mereka menyatakan kesanggupan berkontribusi. Setiap platform memberikan fasilitas layanan yang dapat diakses secara umum dan gratis.

Sebagai contoh Google. Google menyediakan Google Suite for Education, alat pembelajaran kolaboratif antara guru dan siswa yang tersedia gratis. Salah satu aplikasi di Google Suite for Education adalah Hangouts Meet dan Google Classroom. Aplikasi Hangouts Meet, khususnya, dilengkapi kemampuan live streaming hingga 100.000 penonton.

Dalam video singkat 16 Maret 2020, Nadiem menekankan, virus korona sangat berbahaya dan tingkat penularan sangat cepat. Orang yang tidak memiliki gejala penyakit Covid-19 dapat membawa virus dan menularkan kepada orang-orang dengan kondisi kesehatan kurang memadai.

”Marilah kita menyelamatkan nyawa masyarakat Indonesia dengan bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah,” katanya.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Siswa kelas 2 di SD Al-Bayan Islamic School, Kota Tangerang, Banten, mengerjakan tugas dari guru saat belajar di rumah (home learning), Selasa (17/3/2020).

Oleh MEDIANA/KRISTI DWI UTAMI/VINA OCTAVIA/ZULKARNAINI

Editor: ILHAM KHOIRI

Sumber: Kompas, 19 Maret 2020

Share
x

Check Also

Hati-hati Mengonsumsi Vitamin C dan Vitamin E

Vitamin C dan vitamin E banyak disebut dalam upaya menangkal Covid-19. Meski mampu meningkatkan kekebalan ...