Home / Berita / Kertas Pisang, Bukan Kertas Biasa

Kertas Pisang, Bukan Kertas Biasa

Pelepah pisang dapat menjelma menjadi benda-benda cantik, seperti kartu undangan, kotak hadiah, buku catatan, hingga kertas pelapis dinding. Ini berkat pelepah yang dapat diproses menjadi kertas, lantas diolah menjadi berbagai benda.

”Kertas pisang” dengan keunggulan tidak mudah menyerap air, kuat, dan tidak membutuhkan lem dalam pembuatannya, memikat Muhamad Syafiq (49). ”Serat dari pelepah pisang sifatnya kuat dan tahan air sehingga dulu banyak dijadikan tali kapal. Itu yang membuat saya tertarik mengolahnya,” kata Syafiq, yang membuka ruang usaha di Bandung, Jawa Barat.

Syafiq pernah bergelut lama dengan serat alam sebagai bahan pembuat kertas, seperti alang-alang, rumput liar, eceng gondok, merang, dan kulit bawang merah. Sembilan tahun lalu, ia memutuskan fokus pada pelepah pisang untuk menghasilkan helai demi helai kertas di bawah bendera usaha Banana Paper. Kertas pisang ini diolah lagi menjadi berbagai benda kerajinan, seperti tempat tisu, notes, tatakan gelas, nampan, kotak hadiah, wallpaper, dan media lukisan.

”Di Filipina, serat alam pelepah pisang dimanfaatkan untuk bahan baju. Sifatnya yang tahan air seperti daun talas membuat kertas ini cocok untuk diolah menjadi barang tertentu,” kata Syafiq, di sela-sela pameran Inacraft 2014.

Syafiq bekerja sama dengan sebuah keluarga yang juga tetangganya di Bandung untuk pasokan pelepah pisang dari jenis pisang lokal dan pisang Abaca, yakni pisang liar yang banyak tumbuh di Sumatera dan Filipina. Satu bulan ia bisa menghabiskan 1 ton-1,5 ton pelepah pisang. Kertas yang dihasilkan sebagian dipadukan dengan bahan alam lain, seperti daun karet, daun bambu, suplir, daun pinus, dan daun pakis sebagai ornamen kertas. Ia juga memanfaatkan teknik batik untuk menghasilkan variasi motif pada kertas.

Libatkan lingkungan
Bahan-bahan alam itu diolah terlebih dahulu. Untuk ini, Safiq melibatkan satu keluarga lain di lingkungannya. Sedangkan untuk pembuatan kertas ia dibantu 15 orang, sebagian besar ibu rumah tangga dan anak putus sekolah di kawasan Jalan Sadang Serang, Bandung, tempat tinggal sekaligus ruang usaha Syafiq.

M SyafiqProduksi kertas diawali dengan mengeringkan dan memotong-motong pelepah pisang. Setelah itu, pelepah direbus bersama soda agar cepat lunak. Jika direbus biasa butuh waktu sehari, sedangkan dengan tambahan soda waktu memasak dapat dipersingkat menjadi 3-4 jam.

Potongan pelepah yang telah lunak dijadikan bubur dengan mesin semacam blender. Bubur pelepah diputihkan dengan zat hidrogen peroksida lalu diwarnai. Setelah itu, dimasukkan ke dalam bak air lalu disaring dengan kawat nilon yang berperan sebagai cetakan. Setelah itu bisa ditambahkan daun-daun alam di atasnya. Setelah kering, jadilah selembar kertas.

Sedangkan untuk mengolah ornamen penghias kertas, seperti daun karet dilakukan dengan merendam daun di air kotor selama 10-15 hari. Ini agar bakteri memakan klorofil atau zat hijau daun sehingga hanya tersisa tulang-tulang daun. Setelah itu daun dibersihkan, dikeringkan, dan diwarnai.

Kertas produksi Syafiq dijual dengan harga Rp 3.500-Rp 60.000 per lembar. Setiap hari, Syafiq bisa menghasilkan 300 lembar kertas berukuran 62 sentimeter x 43 sentimeter dan 150 lembar kertas berukuran 64 sentimeter x 46 sentimeter. Selain kertas dari pelepah pisang, ia juga membuat kertas dari bahan daur ulang, seperti kertas koran, majalah, kardus, hingga kertas HVS yang diberi pewarna alami. Sedangkan ”kertas pisang”-nya diwarnai dengan pewarna sintetis.

Perkenalannya dengan dunia kertas berawal tahun 1995 saat Syafiq yang bekerja di Yayasan Mushaf Istiqlal terinspirasi membuat Al Quran dengan kertas buatan sendiri. Syafiq mengawali petualangannya dengan membuat kertas dari rumput liar dan koran bekas. Berbagai bahan baku lain juga dicobanya seperti kulit bawang merah dan bawang putih.

Seorang temannya yang pelukis kemudian memintanya membuat undangan pameran lukisan dari kertas kreasinya. Kertas ala Syafiq menarik perhatian dan kemudian mendorong Syafiq memproduksi kertas dari berbagai serat alam dalam jumlah besar. Ia lantas membangun usaha bersama lima rekannya yang diberi nama Suhuf Art Paper. Kertas yang dihasilkan dijual di puluhan jaringan dua toko buku terkenal serta pusat belanja asal Jepang. Kertasnya juga pernah dipakai sebuah hotel di Perancis untuk keperluan pertemuan serta bahan kartu undangan pernikahan pasangan artis terkenal.

”Waktu itu pegawai kami sampai 100 orang. Setelah itu muncul banyak usaha serupa, termasuk yang didirikan oleh mantan pegawai yang mendirikan usaha sendiri,” kata Syafiq.

Syafiq rajin mengajarkan cara pembuatan kertas. Ia menghitung sudah lebih dari 1.000 orang yang ikut pelatihannya. Syafiq tidak khawatir, murid-muridnya yang sudah pandai akan menambah persaingan. ”Kata bapak saya, kalau kita mengajarkan sesuatu, kita akan bertambah pintar di bidang itu. Soal persaingan, tergantung bagaimana kreativitas kita,” kata Syafiq yang mundur dari Suhuf Art Paper tahun 2005 dan merintis usaha sendiri dengan bendera Banana Paper.

Oleh: SRI REJEKI

Sumber: Kompas, 18Mei 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: