Home / Berita / Kentang Berbuah Tomat

Kentang Berbuah Tomat

BAYANGKAN satu tanaman bagian atasnya menghasilkan buah tomat ranum bersamaan ’dengan akarnya menghasilkan kentang besar-besar. Para ilmuwan di negara maju sudah mulai melakukan percobaan ini pada kentang sejak awal 1970-an. Tahun 1978, ilmuwan Jerman G Melchers berhasil menggabungkan protoplasma tomat dan protoplasma kentang. Sayangnya hibrida somatik (disebut demikian karena merupakan hasil penggabungan protoplasma) itu, tidak bisa tumbuh dengan baik dan tidak bisa menghasilkan buah tomat maupun umbi kentang untuk dimakan.

Berdasarkan teori hibridisasi vegetatif adalah memungkinkan menyambung dua jenis tanaman yang masih satu famili. Majalah Seoul edisi Januari 1993 melaporkan para ilmuwan Korea Selatan, di Chungnam Provincial Rural Development Administration (RDA), berhasil menyambung kedua jenis tanaman itu. Para ilmuwan di RDA propinsi sudah mulai penelitian menyambung kentang tomat dua tahun yang lalu. Togam, demikian orang Korea Selatan menyebut tanaman kentang sambung tomat itu, hasil sambungan bulan November 1991, sudah dipanen 17 Maret 1992 yang lalu.

“Kami mulai penelitian itu untuk mencari cara bagaimana mencegah penyakit layu bakteri yang sering menyerang tanaman tomat, tetapi tidak menyerang kentang. Kami cukup puas apa yang sudah dihasilkan sekarang. Walapun demikian kami akan terus meneliti penyakit layu bakteri itu,” ungkap Dr Lee Eung-mo, anggota tim peneliti.

Sudah pasti, jika dibandingkan panenan tomat saja atau kentang saja, hasil tanaman tomat-kentang lebih banyak per satuan luas. Hasil panenan kentang dan togam yang ditanam di rumah kaca selama musim dingin, di Korsel, tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan kentang dari tanaman aslinya. Walaupun panenan tomatnya lebih sedikit, tetapi tomat yang dihasilkan mengandung lebih banyak gula.

Bandingkan, pada satu luasan lahan yang sama bisa dihasilkan 2,178 ton kentang dan 4,512 ton tomat dart togam. Sedangkan pada satuan lahan yang sama hanya bisa dipanen 687 kilogram kentang dari tanaman kentang biasa atau hanya 4,84 ton tomat dari tanaman tomat biasa. Kadar gula tomat hasil penenan togam 11,5 Brix, kadar gula pada tomat biasa hanya 8,5 Brix.

”Kentang dari tanaman sambungan itu lebih besar dibandingkan dengan kentang dari tanaman kentang yang biasa. Beratnya bisa mencapai 700-800 gram per butir. Kentang- kentang itu bisa juga dibiarkan di dalam tanah untuk waktu tertentu agar rasanya dan teksturnya lebih baik lagi, ” kata salah seorang peneliti lainnya Lee Hwanoku.

Sudah bisa
Rupanya, diam-diam Balai Penelitian Hortikultura Lembang (BPHL) tahun 1987 sudah berhasil melakukan hibridisasi vegetatif dua jenis tanaman famili Solanaceae itu. Penelitian sambung menyambung dua jenis tanaman berbeda genus itu sudah dimulai sejak awal 1980-an. Pada awalnya penelitian sambung-menyambung itu untuk merangsang pembungaan kentang, yang pada iklim tropis sulit sekali berbunga, dengan menyambung kentang pada tomat. Tetapi kemudian dicoba juga menyambung tomat pada kentang. Malahan menurut keterangan staf peneliti pemuliaan BPHL Ir Sudjoko Sahat, petani di kawasan Gunung Tampomas sudah lama melakukan sendiri penyambungan kentang-tomat. Tetapi, ”Saya tidak memantaunya lagi. Setahu saya petani di Tampomas sudah bisa menghasilkan sendiri bibit kentang-tomat,” kata Sudjoko.

Menurut Sudjoko, seorang petani Tampomas yang sudah terampil, dengan menggunakan silet, mampu membuat 200 bibit kentang-tomat sambungan sehari. Tingkat keberhasilannya mencapai 60 persen. Menurut Sudjoko tidak ada pengaruh varietas kentang atau tomat yang digunakan terhadap kebarhasilan penyambungan. Satu tanaman kentang-tomat bisa menghasilkan rata-rata masing-masing satu kilogram kentang dan satu kilogram tomat. Pemupukannya menggunakan 1.000 kilogram per hektar pupuk NPK dengan perbandingan N:P:K=4:4:1, ditambah 20 ton pupuk kandang per hektar.

Caranya
Cara penyambungan kentang-tomat tidak sulit, hanya perlu menentukan kapan waktu yang paling tepat untuk melakukannya, ungkap para ilmuwan Korsel itu. Alasannya karena ada perbedaan laju pertumbuhan kedua tanaman itu. Para ilmuwan di Korsel menggunakan tomat hasil semaian berumur 50-60 hari dan semaian kentang berumur 10-15 hari. Batang tomat yang akan disambung di atasnya, dipotong miring ke atas sepertiga bagiannya. Batang kentang dipotong miring kebawah kurang lebih 10 cm dari tanah. Kemudian kedua irisan itu disambung dan diperlukan kurang lebih 10-15 hari agar sambungan itu betul-betul sempurna. Tomat dan kentangnya sudah bisa dipanen setelah sebulan berbuah.

Cara yang dilakukan oleh Sudjoko tidak jauh berbeda dengan para ahli dari Korsel itu. Sudjoko menggunakan semaian kentang dari umbi berumur 25-30 hari dan semaian tomat dari biji berumur 25-30 hari. Sudjoko menggunakan cara , cleft grafting yaitu sambung berbentuk V.

Batang kentang, yang akan menjadi batang bawah, dibelah dua di tengah-tengah penampangnya sepanjang dua centi meter. Kemudian batang tomat, yang akan menjadi batang atas, dipotong meruncing pada dua sisinya agar bisa masuk pada potongan batang kentang. Setelah disambung kedua batang tanaman itu, sambungan diikat dengan plastik atau rafia. Kurang lebih 10 hari sudah bisa dilihat sambungannya berhasil atau tidak, ”Sejumlah daun tomat harus tetap disisakan. Dan tidak boleh ada daun kentang yang tersisa,” kata Sudjoko.

Sudjoko sekarang sedang mengembangkan penyambungan kentang-tomat yang kentangnnya berasal dari biji bukan dari umbi. Kemungkinan, ”Jika asal tanamannya dari biji bisa mencapai keberhasilan 90 persen,” kata Sudjoko memperkirakan.

Biji kentang
Teknik hibrida vegetatif ini yang lebih penting adalah untuk memaksa pembungaan kentang. Pemuliaan kentang untuk mendapatkan kentang hibrida unggul, bukan hanya unggul produksinya tetapi juga unggul karena tahan sejumlah penyakit, mengalami kesulitan karena kentang sering kali tidak mau berbunga. Dan, bila berbunga sering tidak bisa menjadi buah. Kondisi lingkungan yang tidak cocok atau adanya kemandulan bunga jantan menyebabkan gagal menjadi buah.

Bila bisa menghasilkan biji kentang akan murah produksi kentang. Bayangkan, sekarang banyak petani menggunakan bibit umbi kentang. Satu hektar tanah perlu 1,5 ton umbi kentang, yang seharusnya bisa dikonsumsi. Atau jika menggunakan bibit umbi mini hasil dari kultur jaringan dan stek daun perlu 10 kilogram per hektar lahan. Atau jika menggunakan bibit umbi mikro hanya perlu 10 kilogram per hektar lahan. Tetapi jika menggunakan biji hanya diperlukan satu ons biji untuk lahan satu hektar.

Tomat, takokak dan terong di Indonesia, mudah sekali berbunga dan berbuah. Secara logika sederhana, mungkin, jika kentang disambung dengan salah satu tanaman itu bisa dipaksa untuk berbunga. BPHL sudah berhasil membungakan kentang dan menghasilkan biji kentang. Lebih jauh lagi BPHL juga mencoba membungakan petsai yang disambung dengan caisim dan kubis yang disambung dengan caisim. (Harry Surjadi/Tri Haryono)

Sumber: Kompas, 2 Maret 1993

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: