Kembangkan Kearifan Lokal Melalui Teknologi Modern

- Editor

Selasa, 12 Maret 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kreativitas dapat memicu seseorang untuk mengembangkan produk dengan mengangkat kearifan lokal dengan menggunakan teknologi modern. Mereka akan terus berinovasi menciptakan gagasan baru untuk meningkatkan produknya.

Pandangan tersebut dipegang oleh Executive Vice President PT Polymindo Permata Johan Yang. Ia mengembangkan bahan anyam mebel berbahan dasar polimer yang digunakan untuk di luar ruangan.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Kreativitas dapat digunakan untuk mengembangkan kearifan lokal dengan menggunakan teknologi modern. Salah satunya, produk furnitur berbahan dasar polimer yang dipamerkan dalam Indonesia Internasional Furniture Expo di Jakarta, Senin (11/3/2019)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Inovasi akan terus kami lakukan. Bisa melalui material tekstur, maupun teknik anyamannya,” kata Johan dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (11/3/2019). Ia mengatakan, inovasi tidak akan berhenti sepanjang ada imajinasi dan sumber inovasi ada pada kreativitas.

Ia menceritakan, produknya telah tersebar di Indonesia, Amerika Serikat, China, Maldives, Fiji, Timur Tengah, dan beberapa negara di Eropa. Bahkan, produknya ada yang digunakan di Disneyland, Florida, Amerika Serikat.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Executive Vice President PT Polymindo Permata Johan Yang

Johan menuturkan, ia menggunakan bahan dasar polimer karena lebih tahan lama ketika produk tersebut diletakkan di luar ruangan. Beda dengan bahan dasar bambu atau kayu yang dapat rusak ketika terkena langsung sinar matahari dan hujan.

Untuk waktu normal, produk dari Johan dapat bertahan selama 3 tahun. Namun, ada beberapa konsumennya yang menggunakan produknya hingga 5 tahun.

Ia mengatakan, produknya dapat didaur ulang untuk berbagai macam produk baru, salah satunya dapat digunakan untuk atap rumbia. Selain itu, ia menjamin produknya bebas logam berat dan tidak beracun ketika terjadi kebakaran.

Inovasi yang terus dikembangkan Johan pun mengundang minat perusahaan polimer asal Jerman, Rehau untuk berkolaborasi. Chairman for South East Asia Rehau David Herensperger mengatakan, salah satu alasan perusahaannya tertarik berkolaborasi dengan Johan yakni komitmennya untuk menghasilkan produk yang ramah lingkungan.

“Sesuai dengan standar di Eropa, semua produk harus ramah lingkungan dan non toksik atau tidak beracun,” kata David. Ia menambahkan, pada saat ini produk yang ramah lingkungan harus dapat didaur ulang dan dikembangkan menjadi produk yang baru.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Chairman for South East Asia Rehau David Herensperger

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Soenoto mengatakan, penggunaan teknologi menjadi hal yang mutlak dalam berbagai industri, termasuk furnitur dan kerajinan tangan.

“Pemanfaatan teknologi di industri ini tidak saja dilakukan di pabrik atau pusat kerajinan, tetapi juga tingkat manajemen untuk mempermudah interaksi antara produsen dan konsumen,” kata Soenoto.

Masyarakat lokal
Dalam usaha menjaga kearifan lokal, Johan menggunakan beberapa motif anyaman dari beberapa daerah di Indonesia. Salah satunya, ia menggunakan motif anyaman dari Cirebon, Jawa Barat.

Ia pun bekerjasama dengan perajin di salah satu desa di Jawa Barat. Namun, usahanya terkendala dengan kebiasaan perajin menganyam dengan bambu.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Salah satu anyaman berbahan dasar polimer dipamerkan dalam Indonesia Internasional Furniture Expo di Jakarta., Senin (11/3/2019)

“Mereka mengaku kesulitan sehingga harus kami beri pelatihan,” ujar Johan. Ia juga bekerjasama dengan salah satu yayasan sosial dengan melatih menganyam bagi ibu yang sudah menjadi orangtua tunggal sehingga mereka mendapatkan keterampilan untuk mendapatkan uang tambahan.–PRAYOGI DWI SULISTYO

Editor HAMZIRWAN HAM

Sumber: Kompas, 11 Maret 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 24 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB