Kelapa Indonesia dan Dunia

- Editor

Selasa, 31 Mei 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pada 1961, kelapa menginspirasi Sedyatmo menciptakan fondasi cakar ayam. Sederhana saja. Pada saat berkunjung ke Pantai Cilincing, Jakarta, Sedyatmo melihat pohon kelapa masih berdiri tegak kendati tanah di sekitarnya sudah terkikis ombak. Cengkeraman kuat akar pohon itu merupakan kuncinya.

Berkat Sedyatmo dan kelapa, bidang konstruksi Indonesia berkembang pesat. Fondasi cakar ayam digunakan di mana-mana, termasuk menjadi solusi bagi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) membangun menara di daerah rawa-rawa.

Dua tahun terakhir, kelapa menjadi perbincangan hangat di tingkat nasional dan dunia. Permintaan ekspor kelapa dunia meningkat, terutama dari Amerika Serikat dan Eropa, yang meminati produk turunan kelapa. Bahkan, Jepang mulai meminta produk kelapa organik. Adapun Tiongkok banyak mengimpor butir kelapa segar untuk bahan baku industri makanan-minuman dan produk kesehatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Indonesia, kelapa tidak diurus secara optimal. Akibatnya, produksi turun. Butir kelapa segar banyak yang diekspor. Industri pengolahan kelapa di Tanah Air pun dilanda kekurangan bahan baku. Industri ini terpaksa mengurangi kapasitas produksi sekitar 30 persen hingga 50 persen dari kondisi normal. Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI) sampai meminta pemerintah melarang ekspor butir kelapa segar.

Di sisi hulu, petani tidak pernah memperoleh harga bagus. Sebab, pemasaran bahan baku dikuasai pedagang perantara. Perkebunan kelapa rakyat menyusut karena tanaman telah menua dan produktivitasnya rendah.

Pada 23-26 Mei lalu, Asian Pacific Coconut Community (APCC) menggelar sidang dan pertemuan tingkat menteri di Jakarta. Forum itu dihadiri negara-negara anggota APCC, yaitu Mikronesia, Fiji, India, Kiribati, Kepulauan Marshall, Malaysia, Papua Niugini, Filipina, Samoa, Kepulauan Solomon, Sri Lanka, Tonga, Thailand, Kenya, dan Jamaika.

48e66c2c181f4589a936234aa18044b6Forum tersebut membahas empat agenda. Pertama, ekspansi APCC dari organisasi regional menjadi badan antar-pemerintah internasional. Untuk itu, perluasan cakupan dan keanggotaan negara APCC diperlukan untuk meningkatkan keterlibatan semua negara produsen kelapa dengan membentuk International Coconut Comunity pada 2019. Tujuannya, memajukan sektor industri kelapa sehingga kompetitif dan berkelanjutan.

Kedua, memfasilitasi pasar internasional bagi produk kelapa. Sebagai upaya mendorong akses pasar yang lebih besar dan luas bagi produk kelapa, para menteri sepakat membentuk platform informasi perdagangan dan pemasaran produk kelapa, termasuk rantai pasok, di tingkat internasional. Kesejahteraan petani kelapa juga akan menjadi fokus utama.

Ketiga, penguatan kerja sama penelitian untuk peningkatan produktivitas. India berkomitmen membentuk International Centre of Excellence for Coconut (ICEC) yang akan memfasilitasi kegiatan penelitian dan pengembangan kelapa, khususnya pengembangan teknologi dan peningkatan produktivitas. APCC menyambut baik inisiatif India tersebut dan mendorong penelitian serupa di setiap negara.

Keempat, APCC juga akan membentuk komite untuk meneliti secara ilmiah manfaat kelapa dan produk turunannya bagi kesehatan. Selain penelitian terkait teknologi, akan dibentuk pula International Scientific Advisory Committee sebagai komite yang akan menjalankan tugas penelitian terhadap manfaat produk kelapa dari aspek kesehatan.

Mengutip pernyataan Ketua Sidang APCC Ke-52 Denny Kurnia, agenda ketiga dan keempat sangat penting untuk menopang produktivitas dan kualitas kelapa Indonesia. Produktivitas penting guna menjawab persoalan keterbatasan produksi. Adapun pembuktian ilmiah kelapa dan produk turunannya penting untuk meningkatkan citra kelapa, terutama di sektor kesehatan.

Indonesia bukannya tidak berupaya meningkatkan kualitas bibit kelapa. Di beberapa wilayah sudah dilakukan sistem tumpang sari tanaman. Tujuannya, mengoptimalkan lahan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Seperti berbagai hal lain, Indonesia memang kerap terlambat dalam menjawab beragam persoalan komoditas kelapa. Namun, selama akar kelapa masih mencengkeram kuat, kelapa nusantara masih bisa diselamatkan. (HENDRIYO WIDI)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 31 Mei 2016, di halaman 17 dengan judul “Kelapa Indonesia dan Dunia”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 23 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB