Home / Berita / Kecerdasan Orangutan Diteliti di Jerman

Kecerdasan Orangutan Diteliti di Jerman

Orangutan adalah satwa liar asli Indonesia. Di tanah airnya sendiri, di Kalimantan dan Sumatera, orangutan kurang dihargai, diperdagangkan, hingga dibunuh. Namun di luar negeri, orangutan sangat dihargai. Tim ilmuwan Austria dan Inggris bahkan meneliti kecerdasan orangutan di Jerman.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO–CEO Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Jamartin Sihite melepaskan tutupan kandang sehingga Alba orangutan albino melesat keluar dan bebas di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, Rabu (19/12/2018). Alba dilepasliarkan di jantung hutan pulau Borneo setelah direhabilitasi selama 1,8 tahun.

Penelitian berjudul “Orangutan (Pongo abelii) Membuat Keputusan yang Relatif Fleksibel terhadap Kualitas Hadiah dan Fungsionalitas Alat dalam Tugas Penggunaan Alat Multi-Dimensi” itu dimuat dalam jurnal PLOS ONE yang juga dipublikasikan sciencedaily.com 14 Februari 2019.

Penelitian dilakukan ilmuwan dari Universitas Vienna, Austria, yaitu Isabelle B Laumer, Alice MI Auersperg, dan Thomas Bugnyar; serta Josep Call dari Universitas St Andrews, Inggris.

Seperti ditulis dalam jurnal, orangutan adalah hewan frugivora arboreal dominan terbesar. Frugivora adalah hewan pemakan tumbuhan yang suka makan buah. Arboreal adalah daya gerak di pohon. Jadi orangutan adalah hewan pemakan tumbuhan yang suka makan buah dan lebih banyak hidup di atas pohon.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki bagaimana proses pengambilan keputusan orangutan dipengaruhi oleh penggunaan alat. Orangutan secara teratur menggunakan alat di alam liar dan penangkaran. Namun demikian, di habitat alami mereka, seperti hutan lahan gambut Kalimantan yang merupakan rumah bagi populasi orangutan terbesar di Indonesia, buah-buahan didistribusikan dalam wadah dan tersedia dalam bentuk matang dalam waktu berfluktuasi.

ANTARA FOTO/HASAN–Seekor Orangutan sumatera (Pongo abelii) dewasa berjenis kelamin jantan terjebak di kebun warga desa Titi Pobin, Trumon Timur, Aceh Selatan, Aceh, Senin (14/1/2019). Setelah dievakuasi, Orangutan jantan itu akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya di kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil.

Dalam kasus ekstrem, orangutan Kalimantan harus menghadapi periode dengan hanya kurang dari 3 persen pohon yang berbuah selama hampir satu tahun. Orangutan harus membuat strategi mencari makan yang berbeda tergantung pada ketersediaan buah. Ketika makanan berkualitas tinggi seperti buah-buahan langka, mereka akan bereaksi dengan memasukkan makanan berkualitas rendah—seperti kulit kayu dan daun–ke dalam makanan mereka. Cara lain dengan melakukan perjalanan lebih jauh untuk menemukan makanan berkualitas tinggi.

Dengan demikian, menguji orangutan dalam lingkungan yang terkontrol memungkinkan peneliti lebih memahami kecenderungan alami dan proses pengambilan keputusan mereka.

Peneliti mengharapkan orangutan membuat keputusan yang menguntungkan sehubungan dengan fungsionalitas alat yang tersedia dan pada saat yang sama dapat memilih alat daripada item makanan langsung untuk mendapatkan hadiah makanan yang lebih berkualitas.

Penelitian dilakukan di Pusat Penelitian Primata Wolfgang Köhler di Kebun Binatang Leipzig, Jerman. Enam orangutan diteliti yang terdiri atas empat betina dewasa, satu jantan dewasa, dan satu jantan remaja. Semua orangutan diambil dari penangkaran. Mereka ditempatkan dalam kelompok sosial di dalam ruangan sekitar 200 meter persegi dan kandang luar seluas 1.800 meter persegi. Kandang dilengkapi dengan berbagai item pengayaan dan struktur panjat alami.

Makanan dan air tersedia terus-menerus. Selama tiga kali makan utama, orangutan menerima buah-buahan segar, sayuran, telur, sereal, daun dan kadang-kadang daging. Ada dua jenis buah yang menjadi favorit orangutan yaitu pelet pisang dan buah yang disukai yaitu apel.

KOMPAS–Dua orangutan tengah menikmati makan siang di hutan Taman Nasional Gunung Leuser, Desa Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Kamis (17/5/2012).

Dalam penelitian, tim menggunakan dua alat yaitu bola dan tongkat. Peralatan untuk bola terdiri dari sebuah kotak transparan yang berisi platform yang dapat dilipat yang menjadi tempat bahan makanan disediakan. Saat alat bola dimasukkan, makanan jatuh melalui tabung vertikal, menabrak dan menghancurkan platform dan melepaskan makanan.

Peralatan untuk tongkat juga menggunakan kotak transparan dengan bukaan yang lebih kecil. Hadiah makanan diletakkan di gelas transparan yang bisa dipindahkan. Dengan memasukkan alat tongkat, cangkir dapat didorong ke arah bukaan ke platform miring, sehingga melepaskan makanan.

Dengan kedua alat itu, peneliti melakukan beberapa uji yaitu tes memilih makanan, tes alokasi kualitas makanan, tes motivasi, tes fungsionalitas alat.

Hasilnya, orangutan memaksimalkan kualitas asupan makanan mereka dengan secara fleksibel memilih antara makanan dan alat tergantung pada kondisinya.

KOMPAS/ZULKARNAIN–Seekor orangutan sumatera berada di pohon di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser di Stasiun Penelitian Ketambe, Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara, Aceh, beberapa waktu lalu. Kawasan Ekosistem Leuser merupakan satu-satunya tempat orangutan, badak, gajah, dan harimau hidup bersama. Perusakan Kawasan Ekosistem Leuser kian mengancam keberadaan hewan lindung itu.

“Jika potongan apel atau pelet pisang berada di luar jangkauan langsung di dalam peralatan dan pilihannya adalah antara pelet pisang langsung dan alat, mereka memilih makanan di atas alat,” papar Isabelle Laumer.

Namun, ketika orangutan dapat memilih antara potongan apel dan alat, mereka memilih alat tetapi hanya jika itu berfungsi. Ketika alat tongkat dengan pelet pisang ada, orangutan langsung memilih alat tongkat di atas potongan apel.

Dalam tugas akhir, yang mengharuskan orangutan secara bersamaan fokus pada dua peralatan, satu umpan dengan pelet pisang dan alat lainnya dengan apel dan orangutan harus memilih antara dua alat, orangutan memilih alat. Alat itu memungkinkan mereka untuk mengoperasikan peralatan guna mengambil makanan favorit.

“Studi kami menunjukkan bahwa orangutan dapat secara bersamaan mempertimbangkan komponen tugas multidimensi untuk memaksimalkan keuntungan mereka,” kata Laumer.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO–Davina Veronica dan Bunga Jelitha Ibrani sedang bermain dengan bayi-bayi orangutan di Nyaru Menten, Pusat Reintroduksi dan Rehabilitasi Orangutan milik Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, beberapa waktu lalu. Mereka didampingi baby sitter orangutan.

Orangutan berbagi 97 persen DNA mereka dengan manusia, sehingga termasuk di antara primata yang paling cerdas. Mereka memiliki ingatan jangka panjang seperti manusia, secara rutin menggunakan berbagai alat canggih di alam liar dan membangun sarang tidur yang rumit setiap malam dari dedaunan dan cabang.

Saat ini orangutan hanya dapat ditemukan di hutan hujan Sumatra dan Kalimantan. Orangutan terdaftar sebagai spesies yang terancam punah. “Kehilangan habitat akibat produksi minyak kelapa sawit yang luas, perdagangan satwa liar ilegal, dan perburuan liar adalah ancaman utama,” kata Isabelle Laumer.

Isabelle Laumer dan Josep Call sebelumnya juga meneliti kemampuan orangutan menggunakan alat pengait. Penelitian berjudul “Inovasi Spontan tentang Pembengkokan dan Pelurusan Kait pada Orangutan” itu dimuat dalam jurnal Scientific Reports edisi 8 November 2019. Penelitian juga dilakukan di Pusat Penelitian Primata Wolfgang Köhler di Kebun Binatang Leipzig, Jerman.

Beberapa orangutan menguasai tugas membengkokkan dan meluruskan kait. Orangutan kebanyakan membengkokkan kait langsung dengan gigi dan mulut mereka sambil menjaga sisa alat tetap lurus.

“Menemukan kapasitas menggunakan alat pada salah satu kerabat terdekat manusia ini sangat mencengangkan. Orangutan menggunakan cabang yang terpisah sebelumnya untuk menangkap dan mengambil cabang yang tidak terjangkau untuk bergerak di kanopi,” kata Josep Call.

Oleh SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 15 Februari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: