Kebutuhan Teknologi Tepat Guna Tetap Tinggi

- Editor

Rabu, 9 Mei 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengetahuan dan kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia sangat beragam. Karena itu, penggunaan teknologi jenis apapun, mulai dari yang sederhana sampai maju, harus disesuaikan dengan karakter masyarakat.

Kehadiran sistem industri 4.0 yang bertumpu pada teknologi informasi dan komunikasi adalah sebuah keniscayaan. Namun, kebutuhan dan pengembangan teknologi tepat guna dalam berbagai bentuknya tidak dapat ditinggalkan karena sebagian besar masyarakat masih membutuhkannya.

“Sekitar 80 persen masyarakat dengan tingkat ekonomi terbawah, terutama di perdesaan, belum terpapar model aktivitas ekonomi seperti dalam industri 4.0,” kata Direktur Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa) Ahmad Erani Yustika, di Jakarta, Selasa (8/5/2018).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagian masyarakat Indonesia sudah akrab dengan teknologi digital, otomatisasi, ataupun kecerdasan buatan. Namun, sebagian besar masyarakat justru belum terbiasa dengan model teknologi paling sederhana buah revolusi industri 1.0 pada abad ke-18, yaitu teknologi mekanik.

–Pemanfaatan Industri 4.0 – Aktivitas pekerja di dalam pabrik Feuerbach milik Bosch, di Stuttgart, Jerman, Selasa (26/4/2016). Salah satu pabrik tertua dan tercanggih yang dimiliki Bosch ini telah menerapkan teknologi industri 4.0 untuk menunjang kinerja dan aktivitas produksi. Industri 4.0 yang memanfaatkan internet yang terhubung ke benda dapat meningkatkan produktivitas dan menekan ongkos produksi sebuah industri.–Kompas/Harry Susilo

Kebutuhan teknologi mekanik di Indonesia masih besar. Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Unggul Priyanto mengatakan sejatinya, teknologi digunakan untuk meningkatkan nilai tambah produk industri. Namun struktur terbesar ekonomi Indonesia kini masih bertumpu pada penjualan komoditas mentah, seperti minyak sawit mentah (CPO) dan tembakau.

Indonesia juga belum sepenuhnya bisa memproduksi teknologi hasil revolusi industri 1.0, seperti ketel uap pendukung proyek listrik 35.000 megawatt yang sebagian besar masih diimpor. Kondisi itu terjadi akibat lemahnya kebijakan inovasi, hilirisasi hasil riset ke industri, dan godaan membeli teknologi tanpa mendayagunakan potensi negeri.

“Dunia memang mengarah ke model industri 4.0, tapi Indonesia belum selesai dengan model industri 1.0,” katanya.

Sesuai kebutuhan
Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Jumain Appe mengatakan penerapan teknologi perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan budaya masyarakat. “Teknologi apapun bisa digunakan asal bisa meningkatkan efisiensi, produktivitas dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Kondisi itu membuat pemanfaatan dan pengembangan teknologi tepat guna (TTG) tetap diperlukan. TTG bukan hanya teknologi rendah atau teknologi perdesaan, namun teknologi apapun yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat.

–Merontokan Jagung – Pekerja merontokan biji jagung dengan memakai ban sepeda di Desa Pagerwojo, Desa Limbangan, Kabupapaten Kendal, Kamis (25/2/2016).–Kompas/P Raditya Mahendra Yasa

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Haris Munandar mengatakan penerapan industri 4.0 memang diutamakan untuk industri besar karena butuh investasi besar agar bisa melaksanakannya, baik untuk menyiapkan perangkat teknologi atau infrastruktur digitalnya.

“Pemerintah tetap mendukung semua jenis teknologi, termasuk TTG, bagi industri skala tertentu yang masih membutuhkannya,” katanya.

Pemerintah tetap mendukung semua jenis teknologi, termasuk TTG, bagi industri skala tertentu yang masih membutuhkannya.

TTG bisa dimanfaatkan untuk mengungkit pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan wilayah sesuai konsep Nawa Cita Presiden Joko Widodo untuk membangun dari pinggiran.

Karena itu, lanjut Erani, Kemendesa memastikan agar masyarakat desa mampu mengembangkan potensi ekonomi mereka sesuai kondisi sosial budayanya. Cara itu diharapkan bisa mempersempit ketimpangan dan kesenjangan ekonomi serta akses teknologi dan informasi antarmasyarakat dan antarwilayah.

Namun, Jumain menilai model industri 4.0 juga tidak menutup kemungkinan digunakan oleh industri skala kecil atau masyarakat di daerah. Perpaduan pemakaian jenis teknologi berbeda itu diharapkan makin mempercepat peningkatan nilai tambah ekonomi dan kesejaheraan masyarakat.–M ZAID WAHYUDI/YUNI IKAWATI/CYPRIANUS ANTO SAPTOWALYONO

Sumber: Kompas, 9 Mei 2018

Informasi terkait

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan
Biomedis atau Teknik Biomedis?
Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Berita ini 38 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:48 WIB

Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya

Sabtu, 26 September 2026 - 21:10 WIB

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 September 2026 - 20:32 WIB

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Berita Terbaru

Artikel

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:10 WIB

Artikel

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:32 WIB