KB dan Ibu Sejahtera

- Editor

Senin, 5 Maret 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Persoalan pertambahan penduduk sebenarnya sudah banyak didiskusikan, bahkan sejak abad ke-17. Teori kependudukan Malthus juga lahir pada abad itu.

Thomas Robert Malthus (1766-1834) adalah ekonom dari Inggris. Dalam karyanya, ”The Essay on the Principle of Population”, Malthus menyebutkan pertumbuhan penduduk seperti deret ukur dan pangan seperti deret hitung.

Teori Malthus berdampak besar terhadap kebijakan kependudukan di Inggris dan dunia. Kalau semula masyarakat percaya banyak anak banyak rezeki, terkait kecukupan pangan muncul pemikiran bahwa sedikit anak akan lebih menyejahterakan anak sekaligus keluarga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kenyataannya peningkatan jumlah populasi terkait dengan banyak hal: kemampuan pemerintah menyediakan kebutuhan perumahan, lapangan kerja, kesempatan sekolah, ketersediaan pangan, dan fasilitas kesehatan.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Banner tentang alat kontrasepsi dipasang di salah satu stan peserta Pameran Peringatan Hari Keluarga Nasional XXI di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (12/6/2014).

Pelbagai alasan itu pula yang melandasi introduksi keluarga berencana di Indonesia. Kalau pada tahun 1969 sudah 100.000 orang menerima alat kontrasepsi di Jawa dan Bali, tahun 1970 diharapkan tercapai 200.000 penerima.

Di awal pengenalan pengendalian kelahiran di Indonesia, sejumlah obat dan alat kontrasepsi dibagikan ke 13 instansi pemerintah yang memiliki klinik keluarga berencana. Pola kebijakan Orde Baru yang serba top down membuat program yang populer dengan sebutan KB itu berjalan demi target. Pelaksanaan yang koersif—pemaksaan dalam bentuk insentif-disinsentif ataupun langsung—kala itu, banyak dicatat aktivis hak asasi manusia.

Keluarga berencana sebenarnya lebih dari sekadar hitung- hitungan ekonomi. Ia berperan menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir sekaligus menjaga kesehatan reproduksi. Apalagi, kehadiran revolusi pertanian telah membuat produksi pangan berlipat dan mematahkan teori Malthus.

Betul kontrasepsi masih lebih banyak untuk perempuan walau upaya koersif sudah jarang, tetapi perempuan bisa mendapat banyak manfaat dari KB. Jika dipraktikkan dalam kesadaran penuh, keluarga berencana memberi ruang kepada perempuan untuk mengatur kelahiran, mencegah kematian, sekaligus membuka kesempatan untuk mengembangkan seluruh potensi dirinya. (nes)

Sumber: Kompas, 3 Maret 2018
———-
Kompas, 3 Maret 1970, 100.000 Wanita Mendapat Alat Kontrasepsi

Program Keluarga Berencana di wilayah Jawa dan Bali berhasil mencapai sasaran pada tahun 1969. Jumlah wanita yang bersedia menggunakan alat pengendali kelahiran mencapai 100.000 orang dan ditargetkan mencapai 200.000 orang pada tahun 1970. Untuk itu, bantuan obat-obatan dan alat kontrasepsi diberikan ke beberapa departemen dan instansi pemerintah yang memiliki klinik keluarga berencana.

Sumber: Kompas, 3 Maret 2018

Informasi terkait

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:30 WIB

Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB