Home / Berita / Kasus Kanker di Sumatera Barat Terus Meningkat

Kasus Kanker di Sumatera Barat Terus Meningkat

Sumatera Barat menjadi salah satu provinsi dengan jumlah kasus kanker terbanyak di Indonesia. Tingginya angka kasus kanker di daerah itu dipicu gaya hidup tidak sehat, yaitu kurang mengonsumsi sayur dan buah.

Kasus kanker di Sumatera Barat mengalami tren peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Kanker jenis tertentu yang dulu jarang ditemukan juga mulai masuk ke dalam daftar teratas kasus kanker terbanyak.

KOMPAS/YOLA SASTRA–Irfan (4,5), pasien kanker leukemia, bermain sepeda di dekat ibunya, Maimunah (47), di Rumah Singgah Pasien Inisiatif Zakat Indonesia Sumatera Barat, Padang, Sumbar, Kamis (30/1/2020). Warga asal Kecamatan Palupuah, Agam, Sumbar, itu menumpang di rumah singgah selama menjalani kemoterapi di RSUP Dr M Djamil, Padang.

Sebagaimana diberitakan Kompas, Senin (3/2/2020), kasus kanker terus meningkat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sebagian besar masyarakat sudah sadar akan ancaman kanker. Namun, ini tidak mendorong tiap orang melakukan pencegahan, apalagi deteksi dini. Faktor risiko pemicu kanker lebih sering dilakukan, mulai dari pola hidup tidak sehat, kurang aktivias fisik, merokok, dan konsumsi makan berlebihan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, kematian akibat kanker naik dari 7,6 juta jiwa tahun 2008 menjadi 9,5 juta jiwa pada 2018. Kanker trakea, bronkus, dan paru-paru termasuk jenis kanker terbanyak penyebab kematian. Di Asia Tenggara, pada 2018 Indonesia menempati urutan pertama jumlah penderita baru kanker, yakni 348.809 orang, terutama kanker payudara, serviks, paru-paru, hati, dan nasofaring.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar yang diolah Litbang Kompas, prevalensi kanker di Indonesia naik dalam lima tahun terakhir. Pada 2013, prevalensi kanker di Indonesia 1,4 per 1.000 penduduk dan naik menjadi 1,79 per 1.000 penduduk pada 2018. Sejumlah provinsi dengan prevalensi kanker tertinggi meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta, Sumatera Barat, Gorontalo, DKI Jakarta, dan Bali.

Data Dinas Kesehatan Sumatera Barat mencatat, jumlah kasus kanker periode Januari-September 2019 mencapai 2.350 kasus. Angka ini hampir sama dan bisa melampaui data tahun 2018 serta lebih banyak dibandingkan data 2017. Pada tahun 2018 jumlah kanker 2.396 kasus, sedangkan tahun 2017 tercatat ada 1.746 penderita. Pada periode Januari-September 2019, kanker payudara, kanker serviks, kanker darah, kanker tiroid, dan kanker paru menjadi kasus terbanyak. Adapun jumlah kanker payudara 479 kasus, serviks 257 kasus, darah 246 kasus, tiroid 202 kasus, dan paru 175 kasus.
Sementara pada 2018 kasus terbanyak adalah kanker darah 512 kasus, payudara 422 kasus, paru 334 kasus, hati 243 kasus, dan serviks 207 kasus. Adapun pada 2017 lima kasus teratas adalah kanker payudara 303 kasus, paru 282 kasus, darah 154 kasus, hati 150 kasus, dan serviks 124 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Merry Yuliesday, Kamis (30/1/2020), mengatakan, selain menandakan gaya hidup tidak sehat, meningkatnya kasus juga turut dipengaruhi semakin mudahnya akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan dan informasi.

”Sekarang warga lebih mudah mengakses fasilitas kesehatan dengan adanya BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Pasien ataupun keluarganya juga bisa mendapatkan informasi dari internet jika mengalami gejala penyakit. Kemudahan akses itu membuat penyakit kanker terdeteksi,” katanya.

Kasus kanker jenis tertentu, misalnya kanker kolon atau usus besar, yang dulu jarang ditemukan mulai masuk ke dalam daftar teratas kasus kanker terbanyak. Kondisi ini diharapkan menjadi perhatian masyarakat. ”Kanker kolon atau usus besar sudah masuk sepuluh besar di Sumbar. Biasanya tidak pernah disebut-sebut orang,” ujarnya.

Kanker usus besar pada 2017, 2018, dan Januari-September 2019 selalu masuk peringkat sepuluh teratas dengan tren cenderung meningkat. Jumlah kasus kanker usus besar tahun 2017 sebanyak 62 kasus, tahun 2018 sebanyak 162 kasus, dan Januari-September 2019 sebanyak 125 kasus.

Menurut Merry, merangseknya kasus kanker usus besar ke deretan teratas kasus terbanyak tidak terlepas dari pola makan masyarakat Sumbar. Umumnya, warga Sumbar kurang memakan sayur dan buah. Padahal, sayur dan buah dapat membantu melancarkan pencernaan dan mengurangi risiko kanker usus besar.

Merry menambahkan, di Sumbar saat ini terdapat dua rumah sakit yang bisa melayani pasien kanker, yaitu RS Umum Pusat Dr M Djamil Padang dan terbaru RS Universitas Andalas yang fokus pada terapi kanker. Dua RS itu memiliki fasilitas terapi kanker dan dokter spesialis onkologi. ”Secara umum pasien kanker bisa dilayani di Sumbar, tidak perlu keluar,” ungkapnya.

Kanker anak
Sementara Dedi Kurnia Putra, Ketua Yayasan Komunitas Cahaya, yayasan yang menaruh perhatian pada kanker anak, mengatakan, kanker anak di Sumbar dan sekitarnya relatif banyak. Sekarang, yayasan mendampingi sekitar 160 anak pengidap kanker dari Sumbar serta dari Riau, Kepulauan Riau, dan Jambi. RSUP Dr M Djamil Padang merupakan rujukan regional bagi ketiga provinsi itu.

”Kanker anak terbanyak adalah leukimia, khususnya leukimia ALL. Baru-baru ini juga marak osteosarkoma atau kanker tulang,” kata Dedi, Jumat (30/1/2020).

KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA—Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno (paling kanan) menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara Ketua Yayasan Komunitas Cahaya Dedi Kurnia Putra (paling kanan) dan Direktur Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M DJamil Padang Yusirwan Yusuf pada acara peringatan Hari Kanker Anak Internasional di Padang, Minggu (17/2/2019). Kerja sama itu salah satunya terkait pendirian rumah singgah di RSUP M Djamil bagi anak penderita kanker.

Menurut Dedi, pasien kanker anak paling banyak dari Dharmasraya, Pesisir Selatan, Pasaman Barat, Agam, Pasaman, dan Solok. Kanker ditemukan pada stadium awal ataupun lanjut, tetapi cenderung lebih banyak pada stadium lanjut.

Kecenderungan kanker ditemukan pada stadium lanjut karena ketidaktahuan terhadap kanker atau dianggap penyakit biasa. Selain itu, ada pula orangtua yang belum bisa menerima anaknya divonis mengidap kanker sehingga memilih pengobatan alternatif. Kondisi itu membuat kanker terlambat ditangani.

Terkait fasilitas terapi dan dokter, kata Dedi, secara umum tidak ada masalah meskipun jumlah dokter spesialis onkologi anak baru ada tiga orang di RSUP Dr M Djamil Padang. ”Pasien yang berobat ke Jakarta kasusnya bukan karena kekurangan dokter, melainkan lebih karena penyakit tertentu yang tidak bisa ditangani di Padang,” ujarnya.

Gejala kanker
Maimunah (47), orangtua pasien kanker leukemia asal Kecamatan Palupuah, Agam, mengatakan, putranya Irfan (4,5) mulai menunjukkan gejala kanker pada Desember 2018. Waktu itu Irfan mengalami demam dan panas tinggi. Maimunah berulang kali membawa anaknya ke puskesmas kelurahan hingga kecamatan tetapi kondisinya terus memburuk.

Dari puskesmas, Irfan kemudian dirujuk ke RS Ibnu Sina Bukittinggi dan diketahui Hb-nya rendah. Irfan sempat mendapatkan transfusi darah. Beberapa waktu kemudian ia kembali dirawat ke RS Ibnu Sina Bukittinggi, kemudian dirujuk ke RSUP Dr M Djamil Padang.

Irfan baru diketahui mengidap kanker leukemia setelah RSUP Dr M Djamil mendapat hasil laboratorium sampel yang dikirimkan ke Jakarta. ”Ternyata Irfan mengidap kanker leukemia tingkat II ALL standaris. Ada sekitar dua bulan Irfan diketahui mengidap kanker sejak gejala pertama, termasuk cepat kata dokter,” kata Maimunah di Rumah Singgah Pasien (RSP) Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) Sumbar, Kamis (30/1/2020).

Kini Irfan menjalani kemoterapi di RSUP Dr M Djamil Padang. Sejauh ini, putra kelima dari enam bersaudara ini telah menjalani 19 kali kemoterapi melewati satu tahun satu bulan dari total tiga tahun protokol medis kemoterapi.

KOMPAS/YOLA SASTRA–Irfan (4,5), pasien kanker leukemia, bermain sepeda di Rumah Singgah Pasien Inisiatif Zakat Indonesia Sumatera Barat, Padang, Sumbar, Kamis (30/1/2020). Irfan beserta ibu dan ayahnya yang berasal Kecamatan Palupuah, Agam, Sumbar, menumpang di rumah singgah selama menjalani kemoterapi di RSUP Dr M Djamil, Padang.

Empat bulan terakhir, kata Maimunah, sudah tampak kemajuan pada Irfan. Bocah pemalu itu sekarang sudah ceria, punya selera makan, dan tidur nyaman. Biasanya, Irfan lebih sering menangis dan tidak mau makan sehingga bobot badannya rendah.

Menurut penuturan Maimunah, fasilitas terapi dan ketersediaan dokter onkologi di RSUP Dr M Djamil relatif memadai. Proses pengobatan relatif lancar walaupun seminggu ini terjadi antrean untuk kemoterapi.

Maimunah mengaku awalnya kaget dan sedih ketika anaknya dinyatakan mengidap kanker. Penyakit kanker sangat langka di lingkungan tempat tinggalnya. Di desa, bahkan di kecamatan, setahu Maimunah hanya anaknya yang mengidap kanker.

Tidak hanya karena anaknya mengidap penyakit langka yang membuat Maimunah sedih. Ia dan suaminya, Sudirman (52), yang merupakan petani kecil dengan penghasilan seadanya ini harus memikirkan ongkos transportasi dan biaya hidup selama mendampingi anaknya berobat di Padang meski biaya terapi ditanggung BPJS Kesehatan.

Proses pengobatan yang intensif membuat Maimunah dan suaminya hampir selalu di Padang. Mereka pernah tidak pulang selama empat bulan. Selama di Padang, pasangan itu tidak dapat bekerja. Beruntungnya ada orang kampung yang menggalang dana melalui grup Whatsapp serta sedikit bantuan dari keluarga dan tetangganya yang juga hidup sederhana.

Selain itu, Maimunah terpaksa jauh dari kelima anaknya. Putri bungsunya yang sekarang berusia 2 tahun 2 bulan terpaksa berhenti mendapat air susu ibu secara eksklusif sejak usia 9 bulan. Putri bungsunya itu dititipkan dengan sang nenek. Sementara itu, anak-anaknya juga diurus dua anak paling dewasa.

Barulah dua-tiga bulan terakhir, Maimunah dan suaminya bisa punya waktu lebih di rumah. Jadwal kemoterapi yang awalnya setiap minggu sekarang sudah sekali sebulan. Mereka punya waktu sekitar tiga minggu untuk bekerja mencari uang dari bertani di sawah sendiri dan buruh tani di sawah orang.

Untuk mengurangi beban ongkos dan biaya hidup, tujuh bulan terakhir, Maimunah menumpang di RSP IZI Sumbar setiap ke Padang untuk kemoterapi. Sebelumnya, mereka menumpang di rumah saudara di Kecamatan Lubuk Begalung Padang.

Selain karena jaraknya lebih jauh ke rumah sakit dibandingkan tinggal di RSP IZI, Maimunah pindah karena ongkos dan biaya hidup lebih hemat. Di RSP IZI, Maimunah dan belasan keluarga lainnya tinggal tanpa dipungut biaya dan bahan makanan pun disediakan. Keluarga pasien cukup membantu dengan apa yang bisa dikerjakan, seperti bersih-bersih rumah, memasak, dan cuci piring.

Kanker serviks
Suratmini (68), orangtua dari pasien kanker serviks asal Kota Payakumbuh, mengatakan, putrinya, Dewi (44), juga diketahui mengalami kanker lebih dari setahun lalu. Gejala kanker serviks bermula dari perdarahan yang dialami Dewi. Tiga kali berobat bolak-balik ke RSUD Dr Adnaan WD Payakumbuh, Dewi dirujuk ke Bukittinggi, kemudian dirujuk ke RSUP Dr M Djamil Padang.

”Butuh waktu sekitar lima bulan untuk tahu bahwa anak saya kena kanker. Ketika ditemukan baru stadium satu. Saat dioperasi dua bulan kemudian sudah stadium 3 dan saat menjalani terapi sinar sudah meningkat menjadi stadium 4B,” kata Suratmini di Rumah Singgah Pasien Dompet Dhuafa, Padang. Dewi telah menjalani serangkaian kemoterapi.

Kanker yang dialami Dewi juga memukul kondisi kelurganya meskipun biaya pengobatan ditanggung BPJS Kesehatan. Sebelumnya, Dewi yang sudah berpisah dari suami menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari dia berjualan pecel ayam di kantin sebuah sekolah. Namun, sejak ia terkena kanker, ibunya yang telah ditinggal suaminya meninggal dunia menjadi tulang punggung.

Suratmini harus pandai-pandai membagi waktu selama masa pengobatan Dewi. Setiap 21 hari, Dewi menjalani kemoterapi di Padang. Setiap kemoterapi, mereka menghabiskan sekitar 10 hari di Padang. Waktu 11 hari di Payakumbuh digunakan Suratmini untuk mengumpulkan uang dengan berjualan lontong, nasi goreng, dan sarapan lainnya di depan rumah.

Untuk menghemat ongkos dan biaya hidup, sejak Agustus 2019, Suratmini dan Dewi menumpang di Rumah Singgah Pasien Dompet Dhuafa, yang berjarak kurang dari 1 kilometer dari RSUP Dr M Djamil Padang. Sebelumnya, mereka tinggal di tempat saudara di Padang Timur dan menghabiskan ongkos Rp 80.000 sehari. ”Keberadaan rumah singgah ini sangat membantu kami,” kata Suratmini.

Oleh YOLA SASTRA

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 3 Februari 2020

Share
x

Check Also

Berdamai dengan Matematika

Matematika sudah bergenerasi memiliki predikat ”momok” bagi siswa. Saatnya memutus stigma tersebut yang bisa dimulai ...

%d blogger menyukai ini: