Kampus Adaptif Hadapi Disrupsi

- Editor

Kamis, 13 Juni 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kampus negeri termasuk di Surabaya, Jawa Timur, tetap perlu adaptif dengan memunculkan program studi baru yang diyakini mampu menjawab kebutuhan revolusi indutri 4.0 dan menjawab tantangan disrupsi.

Revolusi industri 4.0 dan disrupsi ekonomi jadi tantangan zaman yang patut dijawab dunia pendidikan. Kampus harus adaptif dengan menambah atau mengurangi program studi untuk menghasilkan lulusan atau generasi yang tak sekadar memenuhi kebutuhan dunia kerja, tetapi juga mengoptimalkan tantangan revolusi industri untuk kebaikan umat manusia.

Di Surabaya, Universitas Airlangga dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember menempuh berbagai kebijakan sebagai adaptasi untuk menjawab tantangan tadi. Revolusi industri keempat dipenuhi kemajuan teknologi dalam otomasi, robotika, big data, internet, dan kecerdasan buatan (AI).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Unair telah membuka lima program studi baru, yakni Teknik Industri, Teknik Elektro, Rekayasa Nanoteknologi, Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan, serta Teknik Sains Data. Tahun ini, ITS membuka dua program studi, yakni Teknik Lepas Pantai dan Teknik Pangan. Rektor Unair Mochamad Nasih dan Rektor ITS Mochamad Ashari meyakini pembukaan program studi baru salah satunya untuk menghasilkan lulusan yang dapat menjawab tantangan masa depan kehidupan.

Beberapa program studi baru itu bahkan menjadi salah satu sasaran pelajar dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2021. Tahun ini, ada 2.000 pelajar yang lolos ke Unair. Jumlah yang lolos itu di atas daya tampung 1.893 orang dan terseleksi dari 27.338 orang peminat. ITS menerima 1.899 pelajar dari SBMPTN.

Menurut Nasih, 2.000 pelajar yang lolos itu berasal dari 742 sekolah lanjutan tingkat atas di 29 provinsi. ”Mayoritas atau 69,1 persen berasal dari Jawa Timur. Selanjutnya, DKI Jakarta dan Jawa Tengah,” ujarnya.

Sebanyak 350 pelajar di antaranya berstatus pemegang Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KPIK). Mereka tersebar antara lain di program studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Biologi, Fisika, Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Ilmu Sejarah, Keperawatan, Kesehatan Masyarakat (PSDKU Banyuwangi), Kimia, dan Studi Kejepangan.

”Program studi terketat bidang saintek adalah Kedokteran (3,35 persen) dan Farmasi (4,41 persen). Terketat di bidang sosbud adalah Psikologi (3,46 persen) dan Ilmu Komunikasi (4,2 persen),” ujar Nasih. Skor ujian tulis berbasis komputer (UTBK) tertinggi ada pada program studi Kedokteran (863) dan Ilmu Komunikasi (781).

Pelajar termuda yang diterima di Unair melalui SBMPTN ialah Aqila Jazilaturrahma (15 tahun 11 bulan) dari MAS Unggulan Amanatul Ummah untuk Biologi. Berikutnya berusia kurang dari 17 tahun ialah Kinanti Pradnya Paramitha (16 tahun 2 bulan) dari SMA Negeri 1 Kraksaan dan Mocca Cintaura (16 tahun 3 bulan) dari SMA Negeri 1 Krian. Keduanya diterima di Kedokteran Hewan.

Selain itu, Fatimah Hasya Puspa Kasih (16 tahun 5 bulan) dari MA Negeri 2 Malang untuk Teknik Biomedis dan Dhafina Nadhira (16 tahun 6 bulan) dari SMA Negeri 1 Banjarmasin untuk Teknologi Sains Data.

Direktur Pendidikan ITS Siti Machmudah mengatakan, jumlah pelajar yang diterima di Kampus Sukolilo tahun ini melalui SBMPTN naik 243 orang. ”Peningkatan karena masuknya fakultas vokasi dalam daftar pilihan pada SBMPTN 2021,” katanya.

Menurut Machmudah, peminat ke ITS melalui SBMPTN 2021 lebih dari 16.000 pelajar. Teknik Informatika masih menjadi program studi terfavorit. Tahun ini, Teknik Informatika menerima 95 pelajar atau terbanyak di antara program studi jalur SBMPTN. Berikutnya adalah Teknik Elektro (85 orang) dan Teknik Mesin (81 orang).

Bagi yang belum diterima lewat SBMPTN agar tidak putus asa. Bisa dicoba jalur SKMP (Seleksi Kemitraan, Mandiri, dan Prestasi) atau jalur IUP (International Undergraduate Program),” kata Machmudah. Pendaftaran untuk dua jalur itu ditutup pada Kamis (17/6/2021).

Oleh AMBROSIUS HARTO

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 16 Juni 2021

Informasi terkait

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan
Biomedis atau Teknik Biomedis?
Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 21:10 WIB

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 September 2026 - 20:32 WIB

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 September 2026 - 20:13 WIB

Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan

Jumat, 18 September 2026 - 06:33 WIB

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Berita Terbaru

Artikel

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:10 WIB

Artikel

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:32 WIB

Artikel

Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:13 WIB

Artikel

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Jumat, 18 Sep 2026 - 06:33 WIB

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB