Kalpataru; Matinya Pohon Kehidupan

- Editor

Minggu, 10 April 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jalan berlapis beton itu menurun tajam, menikung ke lapangan kecil yang dikelilingi rumah berdinding batako. Menunggu setengah jam, muncul Santo Rauf, pemimpin Kelompok Tani Karya Lestari Dusun III Desa Langge, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

Santo (41) adalah putra Pulu Rauf, pemimpin kelompok tani itu, yang 25 tahun lalu menerima penghargaan Kalpataru. Saat itu, mereka dinilai berhasil menyejahterakan masyarakat desa dengan mengembangkan tanaman bernilai ekonomi.

Pulu, ayah enam anak itu, bersama kelompoknya yang beranggotakan 50 orang tak hanya mencetak sawah, tetapi juga membuat kolam ikan, dam mini, dan menyelamatkan sumber mata air. Menurut Pulu Rauf, saat itu, areal yang kembali produktif mencapai 500 hektar. Sekitar 325 ha ditanami cokelat, kopi, vanili, kemiri, dan jambu mete, sedangkan selebihnya, 175 ha, untuk sawah dan tambak ikan (Kompas, 5/6/1991).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tahun 2008, ketika pengajar LPDS, Warief Djajadi, mewawancarai Pulu, jagung jadi komoditas utama kelompok itu. Itu tak lepas dari kebijakan Gubernur Fadel Muhammad yang memimpin dua periode sejak 2001. Fadel memiliki kebijakan menciptakan agropolitan dengan tanaman utama jagung.

Juni 2015, Pulu Rauf meninggal. Almarhum meninggalkan kenangan yang baik dalam hal kesejahteraan kelompok taninya. Semua berangsur berubah.

Awal Maret 2016, sore demikian panas. Tanah coklat kekuningan. Kering. Gersang. “Lama sekali tidak hujan. Hampir setahun. Mulai tidak hujan sekitar Juni tahun lalu,” kata Suharni, istri Santo Rauf. Panen jagung pun dua kali gagal.

d914fbb9adab4096a806f51a150b0771KOMPAS/BRIGITTA ISWORO LAKSMI–Santo Rauf menyangga Kalpataru yang diterima Kelompok Tani Karya Lestari 25 tahun lalu yang diterima ayahnya, Pulu Rauf. Warga, yang dulu hidup sejahtera karena kebun buah dan pangan yang subur, kini menghadapi kondisi iklim kering yang mematikan tanaman-tanaman produktif mereka.

Sementara itu, pohon-pohon durian jenis montong milik mereka mati. “Hampir dua tahun terakhir cuaca panas sekali,” katanya.

Apa yang terjadi itu sesuai prakiraan musim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sejumlah wilayah di Sulawesi, di antaranya Gorontalo, pada bulan-bulan itu, curah hujan di bawah normal. Sore tersebut, di ruang tamu Santo berkumpul Suharni, Haisa Taba (71), istri Pulu Rauf, dan sejumlah kerabatnya.

Sungai di belakang rumah Santo yang menuju rumah Pulu, airnya semata kaki. Delapan tahun lalu airnya setinggi lutut orang dewasa. Kini, alirannya pun menyempit, menyisakan kira-kira 1 meter lebarnya. Dulu, sungainya lebih lebar.

Menghadapi kekeringan, kata Santo, warga dusun berhati-hati menjaga kebun mereka dari api.

Gagal panen
Kondisi nyaris tanpa hujan selama tujuh bulan dan cuaca panas sekitar dua tahun menghancurkan mata pencarian warga dusun. Berkebun adalah mata pencarian pokok. Jagung dua kali gagal panen. Sementara berbagai pohon buah-buahan sebagian besar mati atau buahnya kecil-kecil.

Selain pohon-pohon durian mati, musim langsat pun tak ada buah. “Sekarang tidak ada,” tutur Suharni. Cokelat seharusnya juga panen. “Buahnya langsung kering,” ucapnya.

Setidaknya dari 2015 hampir tak ada hujan. “Semua semakin tak jelas,” kata Santo. Panen terakhir mereka nikmati awal 2015. “Kami melapor ke kecamatan dan diberi bibit (durian). Tapi, saat ditanam, mati lagi,” katanya. Pohon rambutan, juga mangga lokal (garipta), semua mati. Kemiri dan cokelat buahnya kering. Tak ada panen. Dulu, mereka bisa dapat penghasilan dari panen jagung dan berbagai buah-buahan.

Untuk bertahan, “Ikut proyek bangunan di kota. Kami juga menanam pohon-pohon berkayu, seperti mahoni, kemiri, dan jati di atas (bukit),” kata Suharni. Luas tanah yang mereka garap sekitar 850 hektar.

Serai, yang mudah ditanam dan tak butuh banyak air, salah satu jalan keluar menyambung penghasilan. Keluarga Santo menanam serai di umah, sekitar 0,25 hektar. Setelah tiga bulan ditanam bisa dipanen, bergilir seminggu sekali. “Panen 10-12 pohon bisa dapat satu karung,” ujar Ani. Harga per karung serai Rp 70.000.

Di Desa Langge, jejak kesejahteraan warga yang disimbolkan Piala Kalpataru kini memprihatinkan. Kalpataru bermakna pohon kehidupan. Faktanya, warga kelompok tani itu kini berada dalam kondisi ekonomi subsisten. “Pohon kehidupan” mereka telah mati.(BRIGITTA ISWORO LAKSMI)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 April 2016, di halaman 14 dengan judul “Matinya Pohon Kehidupan”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 75 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru