Home / Berita / Jughuhn dan Sejarah Penemuan Kina di Indonesia

Jughuhn dan Sejarah Penemuan Kina di Indonesia

Nama Franz Wilhelm Junghuhn dikenang karena berhasil membudidayakan tanaman kina untuk industri obat malaria. Indonesia pernah menjadi produsen pil kina terbesar di dunia. Kini malaria unjuk gigi kembali.

Makamnya masih terawat bersih, dikelilingi 70 batang pohon kina muda yang tumbuh rimbun. Tidak jauh dari nisan itu ada tugu setinggi empat meter yang menandai tempat peristirahatan terakhir tokoh legendaris Dr. Frans Wilhelm Junghuhn. Ia meninggal 140 tahun silam, dalam usia 55 tahun, dan dimakamkan di Kampung Genteng, Lembang, Jawa Barat.

Junghuhn berdarah Jerman yang lahir di daerah Mansfeld. Namun, usai menjalani pendidikan dokter di Berlin, ia bekerja untuk Kerajaan Belanda. Ia ditugaskan ke Hindia Belanda sebagai dokter tentara. Dokter muda itu tiba pada 1835. Masa mudanya habis di daerah-daerah pedalaman Jawa dan Sumatera, mengikuti mobilitas serdadu-serdadu Belanda.

Sebagai intelektual muda, Junghuhn tidak mau menyia-nyiakan kesempatan berada di daerah perawan di kawasan hutan hujan tropis. Sembari mengurus kesehatan tentara, ia melakukan berbagai observasi. Minatnya besar terhadap ilmu botani (tumbuh-tumbuhan), geologi, selain klimatologi. Dari catatan yang ia himpun, kemudian ia menerbitkan buku-buku tentang kondisi alam di Jawa dan Sumatera. Ia termasuk generasi ilmuwan pertama yang membuat pemetaan botani mengikuti ketinggian tempat dan sebaran hujannya. Ia tahu persis, perbedaan formasi hutan pegunungan dan dataran rendah. Tulisannya indah.

Bertahun-tahun berkelana membuatnya sakit. Junghun pun kembali ke Belanda, 1948. Di kota Leiden, ia menemukan gadis pujaan yang kemudian disuntingnya. Toh, tahun 1852, ia sudah kembali berlayar ke Batavia dengan membawa serta isterinya. Ketika itu, Pemerintah Hindia Belanda sedang gencar merancang industri pil kina. Maklum, prevalensi malaria dikalangan penduduk bumi putra maupun warga kolonial cukup tinggi.

Benih pohon kina (Cinchona ledgerina) itu sendiri juga baru didatangkan dari Prancis oleh Prof. De Vriese, seorang ilmuwan dari Leiden. Ia memperoleh biji-biji itu setelah melakukan tukar-menukar benih dengan koleganya di Prancis. De Vriese menyemainya di taman koleksi botani Buitenzorg, kini Kebun Raya Bogor, pada 1852.

Rupanya, Bogor yang berada di ketinggian 250 meter dari permukaan laut tidak sesuai untuk pohon kina yang sesuku dengan kopi itu. Habitat aslinya di pegunungan Andes, Peru, Amerika Selatan, pada ketinggian 900-3.000 meter di atas permukaan laut. Pihak taman koleksi Buitenzorg lantas memindahkannya ke taman koleksi di Cobodas, di lereng Gunung Gede-Pangrango, di ketinggian di atas 1.000 meter. Kina tumbuh subur.

Mendengar adanya “proyek” kina di Cibodas itu, Junghuhn mencak-mencak. Ia khawatir bahwa proyek percontohan itu akan berkembang menjadi usaha komersial yang akan mengambil lahan untuk taman koleksi tanaman pegunungan (alpine) itu. Taman koleksi yang penting untuk ilmu pengetahuan itu bisa tergusur. Toh, protesnya tak didengar.

Bahkan, pada 1854, Justus Karl Hasskarl, yang diperintah langsung oleh Raja Willem III untuk memboyong langsung biji dan benih kina dari Peru, mengincar pula lahan Cibodas. Junghuhn protes lagi, tapi Bata via bungkam. Hasskarl membudidayakannya di Cibodas. Tapi, upaya itu tak lama. Hasskarl jatuh sakit dan Junghuhn diminta mengurusnya.

Oleh Junghuhn, bibit-bibit kina itu diboyong ke Pengalengan, dataran tinggi di selatan Bandung, yang memang sedang dikembangkan sebagai daerah perkebunan. Ia menanam dua spesies kina, Cinchona casilaya dan Cinchona pahudiana. Rupanya, ia bertangan dingin, usahanya berhasil. Pengetahuannya tentang iklim, tanah, dan botani membuat kinanya tumbuh subur. Dari sana, ia mengembangkan ke dataran tinggi sekitar Bandung, termasuk Lembang.

Junghuhn tak cuma mengembangkan aspek budi dayanya. Ia juga ikut merintis industri obat kina untuk memerangi malaria. Seiring dengan tumbuhnya industri pil kina, penanaman pohon yang berbunga wangi berwarna putih atau merah muda itu meluas, bahkan sampai ke Sumatera Utara. Hingga menjelang Perang Dunia II, di Hindia Belanda ada 107 perkebunan yang mengusahakan kina. Arena tanamnya mencapai 17.000 hektare. Produksi rata-rata 11.000 ton kulit kering per tahun atau setara dengan 3 3.000 ton kulit basah per tahan. Dari jumlah itu, 7.000 ton kulit keringnya diekspor. Hindia Belanda ketika itu dikenal sebagai produsen utama kina dunia yang menguasai 85% -90% pasokan ke pasar dunia.

Usai Perang Dunia II, hubungan Indonesia dengan pengimpor terputus. Sebagai komoditas kina turun pamor. Para pengelola kebun mengalihkan ke tanaman lain. Sejak itu, peran Indonesia di industri kina pun pudar. India, Rwanda, dan Afrika Selatan menjadi pemain utamanya. Apalagi, industri farmasi di negara Barat mulai memproduksi kina sintetis yang lebih murah.

Pada 1960-an dan 1970-an, Indonesia memerangi sisa-sisa epidemi malaria. Produksi pil kina digenjot. Upaya itu berhasil. Di dekade 1980-an, prevalensi malaria nyaris tidak berarti. Bahkan, sempat pemerintah mengumumkan negeri ini bebas malaria di awal 1990-an. Akibatnya, pabrik kina di Bandung pun megap-megap. Meski kini masih berproduksi, volumenya sangat kecil.

Namun, kuman plasmodium malaria tidak bisa dienyahkan begitu saja. Ia beradaptasi dengan lingkungan baru, mungkin menumpang inang nyamuk Anopheles biotipe baru, dan menyerang lagi 1999 di Jawa. Bahkan, tahun 2004 ini malaria kembali beraksi di sejumlah daerah pesisir di Sukabumi. Tak ada jaminan epidemi yang telah berlangsung ribuan itu terhenti. Spirit Junghuhn masih perlu dipertahankan. Aries Kelana dan Rachmat Hidayat

Sumber: Majalah Gatra Edisi Khusus 17 Agustus 2004

Share
%d blogger menyukai ini: