Home / Artikel / Inspirator Pesawat Terbang; Antara Capung dan Albratoss

Inspirator Pesawat Terbang; Antara Capung dan Albratoss

TIDAK sia-sia Tuhan menciptakan binatang bersayap seperti capung  dan burung. Keduanya memiliki sayap yang luar biasa dan mampu bermanuver  bebas di udara. Faktor-faktor itulah yang diaplikasikan ke dalam desain sayap pesawat terbang.

Wright bersaudara, penemu pesawat terbang, telah mempelajari sayap burung sebagai inspirasi utama. Sayap burung memiliki kerangka yang ringan, otot dada yang kuat, tulang yang menyatu dan sayap yang memiliki prinsip aerodinamika yang sempurna.

Sementara capung dapat melayang pada posisi tetap di udara atau mendarat di tempat yang diinginkan adalah sama pentingnya dengan kemampuan terbang itu sendiri. Itulah sebabnya  manusia merancang pesawat terbang  dengan kemampuan manuver yang tinggi, yakni helikopter.

Sejumlah produsen pesawat terkemuka dunia seperti Boeing dan Airbus juga menggunakan biomimikri untuk evolusi industri. Mereka menerapkan cara terbang burung untuk mendesain dan mengembangkan model sayap-sayap pesawat serta menghasilkan sensor yang lebih positif terhadap angin. Dengan begitu, maka dapat membuat perjalanan udara di masa depan lebih hemat, bersih,dan cepat.

Prinsip peniruan sayap burung pada pesawat terbang kini dikembangkan lebih jauh. Burung yang sedang dibidik untuk diselidiki sayapnya adalah jenis Albratoss, sejenis elang laut yang  mampu terbang ribuan kilometer tanpa mengepakkan sayap.

Dengan bentangan sayap sepanjang tiga meter, burung laut terbesar ini sanggup terbang, hingga kecepatan 115 kilometer per jam. Elang laut memang tampak kaku di darat, tetapi di angkasa dia benar-benar anggun dan menakjubkan.

Dari kira-kira 20 spesies elang laut yang diketahui, kurang lebih 15 spesies dapat ditemukan di laut sekitar Selandia Baru. Elang anggun ini sedang dianalisa para peneliti bagaimana ia menaikkan tubuhnya secara signifikan. Para ilmuwan ingin mendesain pesawat canggih yang mampu terbang efisien.

Insinyur Kedirgantaraan Jerman Johannes Traugott dan rekan-rekannya mencoba memetakan pola penerbangan ala Albatross. Burung ini pertama-tama terbang rendah di permukaan, namun tiba-tiba dia menuju ke arah angin untuk mencapai posisi yang lebih tinggi.

Setelah mencapai ketinggian 15 meter, albatross berputar di bawah angin. Lalu meluncur dengan mudahnya untuk kemudian mulai terbang tinggi lagi. Semua ini didukung oleh anatomi albatross yang memungkinkan untuk terbang jauh dan tinggi dengan energi yang efisien.

Alat Khusus

Albatross memiliki otot khusus di masing-masing bahunya sehingga bisa mengunci sayapnya di satu posisi. Kualitas anatomi ini sama dengan bagian sayap di pesawat.

Menurut Traugott dari Technical University of Munich, ada aplikasi yang cocok untuk pesawat terbang yang harus tetap berada di udara selama memungkinkan. Untuk penerbangan yang diperpanjang di mana tujuan utamanya adalah bertahan di udara.

Janine Benyus, presiden dari Biomimicry Institute mengungkapkan, albatross mampu merasakan perubahan kecil dari tekanan udara dan arah angin. ”Agar dapat melakukan hal tersebut, kita membutuhkan sensor yang sangat sensitif pada pesawat masa depan kita,” kata Benyus.

Pengaplikasian proses evolusi ke dalam ilmu teknik disebut biomimikri atau biomimetics. Biomimikri merupakan ilmu yang menempatkan objek alam, khususnya makhluk hidup sebagai model perancangan dan proses, menirunya dan diaplikasikan dalam teknologi modern. (24)

Kawe Shamudra, penulis lepas, tinggal di Batang

Sumber: Suara Merdeka, 1 Oktober 2012

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: