Infrastruktur Saja Tak Cukup

- Editor

Jumat, 11 Mei 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pembangunan infrastruktur yang berlangsung secara masif di negara ini mesti dilanjutkan dengan “pembangunan” manusia.

Koordinator Mufakat Budaya Indonesia (MBI) Radhar Panca Dahana menegaskan bagaimanapun pesatnya pembangunan infrastruktur atau material apapun pada akhirnya berpulang kembali kepada figur-figur manusia yang menjalaninya.

“Mau membangun seperti apapun, kalau operatornya (manusianya) busuk, maka tidak akan berarti. Negeri ini akan tetap kacau,”ucapnya di sela acara Focus Group Discussion (FGD) 1 menyongsong Temu Akbar MBI III dengan tema “Mencermati Kembali Visi Kebangsaan Kita” yang digelar, Kamis (10/5/2018) di Jakarta. MBI merupakan sebuah forum pertemuan gagasan terbuka bagi para pemikir terkemuka Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Radhar, sesederhana apapun perangkat jika dijalankan oleh manusia yang tulus, baik, dan mau total membaktikan diri kepada masyarakat, maka pasti yang dihasilkannya akan bermanfaat bagi publik. Sebaliknya, secanggih apapun perangkat apabila yang menjalankannya adalah manusia korup dan oportunis, maka negara dan masyarakat akan sangat dirugikan.

Karena itulah, Radhar mengusulkan agar pembangunan infrastruktur nasional yang tengah berlangsung saat ini harus segera dilanjutkan dengan pembangunan adab manusia-manusia Indonesia yang ternyata justru lebih utama dan mesti didahulukan daripada pembangunan fisik. Gagasan tersebut sempat disampaikan Radhar kepada Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu dan presiden menyepakatinya.

Fenomena keterpecahan
Budayawan asal Riau, Al Azhar merasakan semakin kentaranya situasi keterpecahan di antara masyarakat Indonesia. “Orang Melayu dulu menganggap yang liyan sebagia bagian dari diri mereka. Ini yang hancur dan sulit ditemukan sekarang. Mengapa kita sekarang terpecah-pecah?,”ujarnya.

Hal serupa dirasakan penyair asal Jawa Barat, Acep Zamzam Noer yang semakin sulit menemukan kerukunan hidup bermasyarakat lintas agama dan kepercayaan yang dulu menjadi bagian indah dari kehidupan sehari-hari di kampungnya Cipasung, Tasikmalaya. Bahkan, sekarang banyak nilai-nilai dan ahlak budaya yang semakin terlupakan dan hilang di masyarakat.

Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh, Aceh, Teuku Kemal Fasya memotret fenomena keterpecahan ini sebagai akibat dari praktik demokrasi elektoral yang justru menciptakan segregasi sosial di dalam masyarakat.

“Betul-betul bangsa ini dipecah-pecah oleh momentum pemilihan kepala daerah (pilkada) yang merusak kekerabatan kita. Begitu pilkada digelar, orang kemudian berupaya mengintip asal-usul seseorang, mereka yang bukan warga asli tidak usah dipilih. Masyarakat akhirnya terfragmentasi,”paparnya.

Yang lebih parah lagi adalah, dari sejumlah pilkada yang telah digelar selama bertahun-tahun, banyak sekali kepada daerah yang akhirnya justru masuk penjara karena terbukti korupsi. Selain memicu terjadinya perpecahan sosial, pilkada juga melahirkan koruptor-koruptor di negeri ini.

Sementara itu, Ketua Nichiren Shoshu Indonesia Suhadi Sendjaja menyayangkan masih sering munculnya diskriminasi ras di negeri ini. Padahal, menurutnya bangsa Indonesia terbentuk atas dasar rasa senasib sepenanggungan, bukan berdasarkan kategori pendatang atau tidak, masyarakat pribumi atau non pribumi.

Revitalisasi peradaban kepulauan
Dalam Deklarasi Ancol 2014 yang merupakan hasil mufakat dari Temu Akbar MBI II dirumuskan bagaimana pembangunan Indonesia ke depan semestinya memperhatikan keseimbangan laut dan darat. Orientasi kelautan harus diarusutamakan dalam setiap kebijakan publik karena pada dasarnya kebudayaan Indonesia adalah pertemuan ratusan suku bangsa, agama, dan kepercayaan yang harus diperlakukan setara.

Kebudayaan pada dasarnya merupakan strategi untuk menjawab tantangan zaman. Karena kebudayaan Indonesia terbentuk dari pertemuan suku, agama, dan kepercayaan, maka publik, negara, dan masyarakat harus memberi ruang untuk menumbuhkan keanekaragaman.

Bulan Agustus 2018 mendatang akan digelar kembali Temu Akbar MBI III di Jakarta. Untuk menyiapkannya, maka digelar tiga kali FGD di tiga kota, yaitu Jakarta, Yogyakarta, dan Makassar. ”

Kita akan mencermati kembali visi kebangsaan kita. Negara-negara lain telah menciptakan lonjakan tinggi tapi mengapa negara kita masih saja mandeg. Kita perlu memikirkan ulang di mana sebenarnya kekuatan kita,”tambah Radhar.–ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 11 Mei 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa
Cerpen: Lagu dari Koloni Senyap
Di Balik Lembar Jawaban: Ketika Psikotes Menentukan Jalan — Antara Harapan, Risiko, dan Tanggung Jawab
Tabel Periodik: Peta Rahasia Kehidupan
Kincir Angin: Dari Ladang Belanda Hingga Pesisir Nusantara
Surat Panjang dari Pinggir Tata Surya
Berita ini 3 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 19 November 2025 - 16:44 WIB

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami

Rabu, 12 November 2025 - 20:57 WIB

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Sabtu, 1 November 2025 - 13:01 WIB

Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa

Kamis, 2 Oktober 2025 - 16:30 WIB

Di Balik Lembar Jawaban: Ketika Psikotes Menentukan Jalan — Antara Harapan, Risiko, dan Tanggung Jawab

Rabu, 1 Oktober 2025 - 19:43 WIB

Tabel Periodik: Peta Rahasia Kehidupan

Berita Terbaru

Berita

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami

Rabu, 19 Nov 2025 - 16:44 WIB

Artikel

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Rabu, 12 Nov 2025 - 20:57 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Tarian Terakhir Merpati Hutan

Sabtu, 18 Okt 2025 - 13:23 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Hutan yang Menolak Mati

Sabtu, 18 Okt 2025 - 12:10 WIB