Indonesia Kekurangan Tenaga Kompeten di Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi

- Editor

Senin, 17 Desember 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia kekurangan sumber daya manusia atau SDM yang kompeten di bidang teknologi informasi dan komunikasi atau TIK untuk menghadapi industri 4.0 yang bertumpu pada digitalisasi. Tanpa SDM yang kompeten, maka teknologi benda terhubung internet, kecerdasan buatan, human-machine interface, robotik dan teknologi sensor, serta percetakan 3D tidak akan berguna.

Bank Dunia, yang merujuk pada penelitian Tan dan Tang (2016), memproyeksikan Indonesia akan kekurangan 9 juta pekerja semi-terampil dan terampil di bidang TIK sepanjang 2015-2030.

Bahkan, berdasarkan prediksi Oxford Economics dan Cisco di tahun 2017, sekitar 9,5 juta tenaga kerja Indonesia diperkirakan akan terdampak langsung oleh teknologi berbasis kecerdasan buatan sampai tahun 2028. Imbasnya, 2 juta posisi dalam pekerjaan akan hilang dan memaksa para pekerja berganti profesi atau industri (Kompas, 12/11/2018).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kepala Balitbang SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Basuki Yusuf Iskandar, di Jakarta, Kamis (6/12/2018), mengatakan, perkembangan TIK begitu cepat dan pesat. Indonesia baru sampai pada tahap menghadapi industri 3.0, secara mendadak harus beralih ke industri 4.0.

FRANSISKUS WISNU W DANY UNTUK KOMPAS–Global Head Developer Training Google William Florance (tengah) di Jakarta, Kamis (6/12/2018). Ia menjelaskan tentang upaya Google mendukung pengembangan SDM di Indonesia dalam bidang TIK.

“SDM di Indonesia belum siap atau belum mampu untuk otomatisasi dalam industri 4.0. Kemampuan SDM masih sangat kurang dalam penggunaan dan penerapan kecerdasan buatan. Kita wajib mengembangkan SDM yang sesuai dengan kebutuhan industri 4.0,” ucap Basuki dalam acara “Google for Indonesia Developer Showcase 2018”.

Kemkominfo telah meluncurkan program pendidikan tanpa gelar “Digital Talent Scholarship” pada September. Program ini berbentuk beasiswa pelatihan intensif selama dua bulan kepada 1.000 peserta. Peserta mempelajari sejumlah materi terkait kompetensi yang dibutuhkan dalam menghadapi industri 4.0 yang telah disiapkan dengan melibatkan perusahaan teknologi.

Program itu bertujuan menghasilkan teknisi yang siap berkecimpung ke dalam industri 4.0. Selain itu, juga dikembangkan untuk menjangkau 20.000 peserta pelatihan pada tahun 2019. “Pemerintah membutuhkan dukungan perusahaan teknologi untuk meningkatkan kualitas SDM untuk menghadapi industri 4.0,” ujar Basuki.

FRANSISKUS WISNU W DANY UNTUK KOMPAS–Kepala Balitbang SDM Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Basuki Yusuf Iskandar bersama peserta pelatihan Google di Jakarta, Kamis (6/12/2018).

Pelatihan Google
Pemerintah telah bekerja sama dengan perusahaan teknologi untuk pengembangan SDM. Salah satu perusahaan teknologi itu adalah Google.

Google melalui program Indonesia Android Kejar, Faculty Trainings, Developer Student Clubs, dan Google Developer Certification telah melatih 110.000 pengembang lokal tentang pemrograman berbasis Android.

Public Policy and Government Relations Manager Google Indonesia Danny Ardianto mengatakan, kecerdasan buatan merupakan teknologi yang memberikan manfaat kepada banyak orang. Google membantu pelajar, pengembang, dan industri untuk mempelajari cara menggunakan kecerdasan buatan.

“Kami (Google) membuat kursus gratis dalam bahasa Indonesia untuk menjaring banyak peserta dan membantu mereka belajar dengan baik. Target kami (Google) bukan angka lagi (jumlah peserta) tetapi fokus pada membantu dan memberikan solusi bagi lingkungan, pengembangan usaha rintisan, dan industri melalui inovasi dan penggunaan teknologi,” kata Danny.

Global Head Developer Training Google William Florance menyebutkan, google akan melanjutkan pelatihan serta menambah pembelajaran machine learning secara gratis bagi semua orang dalam bahasa Indonesia.

Machine learning merupakan salah satu bagian dari kecerdasan buatan dan google meluncurkan Machine Learning Crash Course (MLCC) sebagai sarana pembelajaran.

Kursus itu merupakan bagian dari “Learn with Google AI” yakni serangkaian informasi tentang machine learning, langkah praktis, hingga contoh machine learning yang diterapkan pada dunia nyata. Dalam kursus juga terdapat latihan pemrograman, visualisasi interaktif, dan video dari pakar Machine Learning Google. (FRANSISKUS WISNU WARDHANA DHANY)-ADHI KUSUMAPUTRA

Sumber: Kompas, 6 Desember 2018

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 19 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:21 WIB

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Berita Terbaru

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB

Artikel

Menyusuri Jejak Awal Semesta

Selasa, 16 Jun 2026 - 21:21 WIB