Home / Berita / Indonesia-Jerman Jalin Kerja Sama Majukan Energi Terbarukan

Indonesia-Jerman Jalin Kerja Sama Majukan Energi Terbarukan

Ada juga kisah sukses perusahaan Indonesia yang ditularkan terkait keberhasilannya dalam mengembangkan bisnis energi terbarukan hingga mancanegara. Selain itu, perusahaan yang berhasil menjual listrik dari limbah cair.

KOMPAS/ADITYA DIVERANTA–Pembangkit Listrik Tenaga Air Rajamandala di Cianjur, Jawa Barat, Jumat (12/7/2019). Pembangkit listrik ini menjadi pembangkit dengan energi baru terbarukan yang mendukung wilayah Cianjur dan kawasan Kabupaten Bandung.

Indonesia dan Jerman menjalin kerja sama dalam memajukan energi terbarukan melalui Indonesia-Jerman Renewable Energy Day 2019. Kerja sama ini sekaligus bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan pihak swasta dalam sektor energi terbarukan.

Kerja sama tersebut diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian Sumber Daya Mineral dengan The Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit. Acara ini juga merupakan tindak lanjut dari proyek kerja sama Indonesia-Jerman 1.000 Islands Renewable Energy for Electrification Programme (REEP).

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Tata Mustasya mengatakan, kesadaran publik terhadap pentingnya beralih dari energi fosil ke energi bersih dan terbarukan telah meningkat, terutama untuk beralih dari penggunaan batubara. Meski begitu, langkah ini perlu lebih dimasifkan.

”Kita memiliki potensi yang besar, apalagi kita sedang mengembangkan mobil listrik,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Presiden Joko Widodo dalam sambutan di hadapan anggota Asosiasi Tambang Indonesia, kemarin, mengatakan, Indonesia tengah dalam transisi menuju implementasi energi baru dan terbarukan. Langkah ini dimulai dengan memacu pembangunan pembangkit-pembangkit listrik bersih, mulai dari tenaga air, panas bumi, surya, hingga mikrohidro.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO–Sejumlah turbin Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Sidrap terlihat di salah satu dari tiga bukit di Desa Mattirosi dan Desa Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, Senin (22/7/2019). Pembangkit dengan kapasitas total sebesar 75 MW ini terdiri atas 30 turbin yang masing-masing berkapasitas 2,5 MW.

Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia Peter Schoof mengatakan, tren transisi energi ini juga terjadi di hampir semua negara. Meski begitu, pekerjaan ini tidak mudah serta membutuhkan pengetahuan dan pembiayaan yang tidak kecil.

”Komunitas internasional, termasuk Jerman siap mendukung bila diperlukan,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (20/11/2019).

Schoof turut menyambut baik kesiapan sektor swasta di Indonesia untuk berinvestasi pada energi terbarukan. Hal ini membuktikan bahwa transisi energi bukan hanya sekadar tantangan, melainkan juga peluang bagi Indonesia dan perekonomiannya.

Dalam Renewable Energy (RE) Day 2019 tersebut, tiga perusahaan multinasional menyatakan komitmen mereka untuk menggunakan listrik dan pembangkit energi terbarukan untuk operasional mereka. Mereka adalah Multi Bintang Indonesia, Nike Indonesia, dan Danone-AQUA.

Peran swasta
Komitmen ini merupakan bentuk peran aktif sektor swasta dalam mendukung pencapaian target bauran energi nasional sebesar 23 persen pada 2025. Direktur Program Energi untuk Indonesia/ASEAN (GIZ) Rudolf Rauch mengatakan, komitmen serupa kini telah dilakukan oleh banyak perusahaan dunia.

”Sektor swasta turut memainkan peran penting dalam mengembangkan energi terbarukan. Banyak perusahaan dunia yang berkomitmen going green untuk menggunakannya untuk pasokan listrik mereka. Bahkan, ada yang mencapai 100 persen,” ujarnya.

Hasil studi GIZ tentang proyek REEP 2019 menyebutkan, bauran energi paling murah untuk Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, dan Pulau Bangka akan tercapai melalui penetrasi PLTS yang signifikan. Hingga 2029, penetrasi PLTS di Pulau Selayar sebesar 7,8 megawatt (MW) dan Pulau Bangka 230 MW.

Pada RE Day juga berlangsung diskusi yang membahas berbagai topik. Sejumlah topik tersebut, antara lain, peran dan kontribusi energi terbarukan, mitigasi masalah pasokan listrik yang belum stabil, peningkatan kualitas udara melalui panel surya di atap, inovasi mobil listrik berbasis tenaga surya, dan penyediaan harga listrik yang terjangkau.

DOKUMENTAS KEDUBES JERMAN UNTUK KOMPAS–Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia Peter Schoof berfoto bersama para pembicara dan peserta pertemuan di Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Ada juga kisah sukses perusahaan Indonesia yang ditularkan terkait keberhasilannya dalam mengembangkan bisnis energi terbarukan hingga mancanegara. Selain itu, ada pula perusahaan yang berhasil menjual listrik dari limbah cair kelapa sawit. Malaysia juga turut memberikan pengalamannya tentang model kerja sama antarlembaga dan model bisnis surya atap mereka.

”Berkaitan dengan mobil listrik, pemerintah perlu mempertimbangkan sumber listrik seperti apa yang akan digunakan untuk mengisi ulang daya listriknya. Salah satu yang ramah lingkungan adalah dari sistem PLTS Atap,” kata Rudolf.

Oleh FAJAR RAMADHAN

Editor HAMZIRWAN HAM

Sumber: Kompas, 21 November 2019

Share
x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: