Iklim yang Memanas Menguntungkan Ular Derik

- Editor

Kamis, 14 November 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Iklim yang lebih hangat dapat membantu ular derik memanas hingga suhu yang lebih optimal untuk pencernaan atau reproduksi. Periode suhu yang lebih hangat juga akan memberi ular derik musim aktif yang lebih lama.

Cuaca yang kian memanas akibat dampak dari perubahan iklim dapat mengancam keanekaragaman hayati flora dan fauna. Namun, studi terbaru menemukan bahwa ular derik cenderung mendapat manfaat dari iklim yang memanas karena dapat aktif bergerak dan mencari makan.

Studi yang dilakukan peneliti dari California Polytechnic State University, Amerika Serikat, itu terbit di jurnal Ecology and Evolution Volume 11, Mei 2021. Dalam studi ini, peneliti menggunakan data termal yang diambil dalam kurun waktu delapan tahun dan perilaku empat populasi ular derik (Crotalus oreganus) yang hidup di habitat berbeda di AS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hasil studi menunjukkan, ular derik lebih menyukai suhu tubuhnya di kisaran 86-89 derajat fahrenheit atau 30-31 derajat celsius. Suhu tubuh tersebut jauh lebih hangat dibandingkan saat berada di alam. Suhu tubuh rata-rata ular derik pesisir yang digunakan studi ini adalah 70 derajat fahrenheit atau 21 derajat celsius. Sementara suhu tubuh rata-rata ular derik pedalaman 74 derajat fahrenheit atau 23 derajat celsius.

”Kami terkejut melihat seberapa rendah suhu tubuh ular liar dibandingkan dengan suhu tubuh yang mereka sukai di laboratorium. Terdapat banyak tekanan ekologis di alam yang dapat mencegah ular derik berjemur, seperti risiko peningkatan paparan predator,” ujar kepala peneliti Hayley Crowell, dikutip dari laman resmi California Polytechnic State University, Jumat (2/7/2021).

HAYLEY CROWELL ET ALL—–Peta sebaran penelitian tentang ular derik dari peneliti di California Polytechnic State University, Amerika Serikat.

Menurut Crowell, iklim yang lebih hangat dapat membantu ular-ular derik ini memanas hingga suhu yang lebih optimal untuk pencernaan atau reproduksi. Periode suhu yang lebih hangat juga akan memberi ular derik musim aktif yang lebih lama. Hal ini juga akan memberikan mereka lebih banyak waktu untuk berburu dan mencari makan.

Semua ular derik tidak dapat mengatur suhu tubuhnya seperti hewan berdarah panas karena bersifat ektotermik atau berdarah dingin. Sebaliknya, ular derik mengandalkan kondisi lingkungan untuk menyediakan panas sehingga mereka akan membatasi aktivitas dalam cuaca dingin.

Selain itu, tim peneliti juga menemukan bahwa ular menggunakan energi dengan sangat efisien. Untuk bertahan hidup, seekor ular derik jantan dewasa hanya membutuhkan 500-600 kalori selama satu tahun penuh. Energi tersebut setara dengan memakan satu tupai tanah atau sekitar setengah burrito besar (makanan khas Meksiko). Sebagai perbandingan, manusia membutuhkan 1.600-3.000 kalori per hari untuk bertahan hidup.

Ular derik tersebar luas di seluruh California dan dapat ditemukan dari kawasan pantai hingga gurun. Peningkatan jumlah ular dapat memengaruhi seluruh ekosistem. Ular derik merupakan predator utama bagi tupai tanah di California dan hewan lainnya.

KOMPAS/HERPIN DEWANTO PUTRO—-Seekor ular laut belang (Laticauda colubrina) yang menghuni Pulau Ular di Desa Pai, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Rabu (1/11/2017). Pulau yang berupa batu karang itu merupakan habitat bagi ular-ular laut tersebut.

Sebelumnya, hasil penelitian para peneliti McGill University, Kanada, menunjukkan bahwa ikan punggung duri atau stickleback threespine menjadi salah satu spesies yang diprediksi dapat bertahan dan beradaptasi dari perubahan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Laporan penelitian tersebut terbit di jurnal Molecular Ecology Volume 30, Mei 2021.

Para peneliti kemudian menemukan bukti adanya perubahan genetik ikan punggung duri. Faktor yang mendorong perubahan genetik ini adalah perubahan musim di habitat karena perbedaan populasi air tawar dan air asin yang sudah lama ada. Perubahan genetik ini terjadi pada populasi independen selama satu musim.

Alan Garcia-Elfring, salah satu penulis utama laporan tersebut, mengatakan, temuan ini sangat penting untuk menunjukkan bagaimana populasi dapat beradaptasi dengan tekanan lingkungan seperti perubahan iklim di masa depan. Para peneliti dapat menggunakan perbedaan genetik yang berkembang di masa lalu sebagai cara untuk memprediksi adaptasi dari suatu populasi spesies yang diamati (Kompas.id, 15/6/2021).

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 2 Juli 2021

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 52 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB