Home / Berita / Hour of Code, Gerakan Satu Jam Belajar Ilmu Komputer Bersama 200 Juta Orang

Hour of Code, Gerakan Satu Jam Belajar Ilmu Komputer Bersama 200 Juta Orang

Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta guru Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) dihilangkan sejak Kurikulum 2013 diterapkan. Sejak saat itu, sekolah yang mengacu pada Kurikulum 2013 mengalihkan guru TIK/KKPI sebagai guru prakarya ataupun guru layanan TIK selayaknya guru Bimbingan Konseling.

Ada pula sekolah yang menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dengan konsekuensi pengakuan atas keberadaan guru TIK/KKPI. Akan tetapi, penghilangan mata pelajaran TIK dan KKPI sebagai acuan sekolah-sekolah sesuai dengan Kurikulum 2013 tersebut jelas merupakan langkah mundur di tengah keniscayaan peradaban masyarakat informasi yang makin berderap di masa ini.

Bertepatan dengan fakta tersebut, pada akhir tahun ini bakal dilangsungkan sebuah gerakan kolaboratif dengan tajuk “Hour of Code Indonesia”. Ini merupakan gerakan yang bertujuan mengajak seluruh kalangan berpartisipasi aktif dalam mengenal, memahami, dan mengaplikasikan bahasa pemrograman komputer (computer coding) untuk pembuatan berbagai aplikasi guna mempermudah ataupun memberikan solusi bagi kehidupan manusia.

Hour of Code Indonesia mulai ditetapkan sejak 14 Oktober 2015. Sebuah lembaga nonprofit code.org yang berasal dari Amerika Serikat dan telah memulai gerakan Hour of Code pada Desember 2013 menunjuk pendiri Clevio Coder Camp, Aranggi Soemardjan, sebagai Country Leader Hour of Code Indonesia.

Fokus gerakan ini tidak untuk menghasilkan jago-jago computer coding, tetapi lebih pada pemahaman mengenai logika atau computational thinking dan pengertian ihwal relatif mudahnya coding. Gerakan Hour of Code adalah satu jam perkenalan mengenai ilmu komputer yang didesain untuk melawan mitos tentang kode dan menunjukkan kepada siapa pun bisa belajar dasar-dasarnya.

Sejak saat Oktober lalu itulah, sejumlah sukarelawan yang berasal dari berbagai latar belakang, seperti guru, kaum profesional, orangtua, pekerja di berbagai perusahaan, yayasan, dan sejumlah institusi bisnis, telah menyatakan komitmen mereka. Komitmen untuk menyelenggarakan Hour of Code pada 12-20 Desember 2015, dengan puncaknya pada 20 Desember, dan target utama di sejumlah sekolah.

Jumlah siswa dan penduduk yang relatif lebih besar dibandingkan dengan negara-negara lain membuat Komunitas Hour of Code Indonesia memasang target dan ambisi sebagai penyelenggara Hour of Code terbesar di dunia. Akan tetapi, ambisi hanyalah sebagian motivasi penggerak gerakan tersebut karena menurut Aranggi yang terpenting adalah mengejar ketertinggalan atau bahkan membalik arah perhatian agar anak-anak Indonesia kompetitif di tengah pasar global di abad ke-21.

44a649acc98347e8b8d25df7b41b01fdKOMPAS/INGKI RINALDI–Salah satu aktivitas dalam kegiatan Train the Trainer bagi orang dewasa yang belum mengerti computer coding di Clevio Coder Camp, Jalan Lamandau, Jakarta, Sabtu (7/11). Kegiatan tersebut sebagai bagian dari program Hour of Code yang akan dilangsungkan secara serentak di seluruh dunia pada Desember.

Konteks membalik kesadaran peradaban inilah yang menjadi penting bagi kondisi Indonesia saat ini tatkala Kurikulim 2013 yang menghela aktivitas pendidikan cenderung menjauhi teknologi informasi sebagai penghela utamanya.

Dalam kerangka tujuan itulah, pada Sabtu (7/11) diselenggarakan Train the Trainer (TTT) bagi sejumlah orang dewasa guna menjadi sukarelawan pelatih Hour of Code bagi anak-anak pada Desember kelak. TTT yang dilangsungkan di salah satu lokasi Clevio Coder Camp di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, pada Sabtu pagi hingga siang itu dihadiri sejumlah guru dan orangtua yang sebagian di antaranya juga belum mengerti tentang computer coding.

Hal itu bukan menjadi masalah. Sebab, dalam pelaksanaan kegiatan Hour of Code, materi bahkan bisa disampaikan tanpa harus menggunakan komputer. Materi bisa disampaikan secara analog-manual, misalnya dengan cangkir-cangkir yang disusun dan kode-kode tertentu yang ditulis untuk menghasilkan pola gerakan dalam membentuk susunan cangkir-cangkir tadi.

Atau demonstrasi robot dengan diperankan manusia yang digerakkan dengan sejumlah bahasa kode tertentu untuk melakukan sejumlah gerakan dengan perintah akhir mengambil sebuah obyek tertentu. Melatih logika berpikir orang-orang dengan algoritma dan komputasi tertentu dengan cara yang menyenangkan.

Di antara orang-orang dewasa yang Sabtu itu mengikuti pelatihan tersebut adalah Muhammad Imamuddin, Arif Heriyanto, Achmad Fathullah, Wiwit Wiharto, Lanie Ananto, Anna Meilanny, Muhamad Yunus, dan Tegar SB.

Celotehan, tak jarang perang urat saraf, dilontarkan di antara sesama mereka. Lewat pelantar yang disediakan laman code.org, mereka mencoba menggerakkan subyek tertentu dalam antarmuka gim Angry Birds lewat kode-kode tertentu sesuai dengan logika komputer.

4f4a58095549483ab80dd57847262a35KOMPAS/INGKI RINALDI–Salah satu aktivitas dalam kegiatan Train the Trainer bagi orang dewasa yang belum mengerti computer coding di Clevio Coder Camp, Jalan Lamandau, Jakarta, Sabtu (7/11).

Keriuhan makin menjadi tatkala materi coding dilakukan secara luring atau offline. Saat seseorang yang berperan sebagai robot digerakkan orang lain sebagai penulis coding berisikan perintah-perintah agar “robot” itu bergerak sesuai yang diinginkan.

Relatif sederhananya metode yang dipergunakan untuk membuka mata publik dalam gerakan bertarget 200 juta peserta di seluruh dunia itu, atau lebih besar dibandingkan 100 juta peserta di tahun sebelumnya, karena beragamnya tingkat pemahaman masyarakat yang dihadapi.

Pemahaman mengenai industri dengan basis pengetahuan seperti inilah yang menjadi penggerak di era ekonomi digital dengan titik berat pada tiga hal, yakni industri komputer, komunikasi, dan konten. Irisan ketiganya akan menghasilkan produk media interaktif yang akan menjadi motor peradaban di era masyarakat informasi.

Aranggi menyebutkan, tingkat pemahaman itu ilustrasinya seperti pengertian tentang istilah programming dan coding yang relatif masih asing bahkan bagi sebagian orang dewasa dengan latar belakang pendidikan teknologi informasi. Karena itulah, apalagi dengan penetrasi gawai berkemampuan komputasi seperti laptop beberapa tahun lalu, saat ini menjadi penting untuk semakin menyebarkan “virus” mengenai coding.

Hingga tulisan ini disusun, ratusan lembaga dan pihak-pihak terkait telah menyatakan sejumlah kegiatan. Semua kegiatan Hour of Code-Indonesia bisa dicek di laman hourofcode.com.

Di laman hourofcode.com/id disebutkan: Hour of Code adalah gerakan mendunia yang merengkuh puluhan juta pelajar dari 180 lebih negara. Setiap orang, di mana saja, dapat mengadakan acara Hour of Code. Tersedia tutorial-tutorial berdurasi satu jam dalam lebih dari 40 bahasa. Tak perlu pengalaman. Usia 4 tahun sampai 104 tahun.

Inilah gerakan inklusif yang didesain bukan hanya untuk anak-anak, melainkan ditujukan pula bagi setiap anak-anak yang pernah ada dan terus ada di dalam setiap orang dewasa.

INGKI RINALDI

Sumber: Kompas Siang | 10 November 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: