Home / Artikel / Gerhana Bulan Total; Merah Bata Purnama yang Langka

Gerhana Bulan Total; Merah Bata Purnama yang Langka

Purnama yang muncul Rabu (8/10) besok bukanlah purnama seperti biasanya. Bulan diperkirakan akan berwarna lebih gelap dibandingkan purnama- purnama lainnya dengan rentang warna mulai dari oranye hingga merah bata. Kondisi itu terjadi karena saat bulan purnama terbit di ufuk timur di seluruh Indonesia sudah mengalami gerhana.

Gerhana bulan besok malam adalah gerhana bulan total (GBT). Fase awal gerhana, saat Bulan memasuki penumbra atau bagian luar bayang-bayang Bumi, terjadi pukul 15.14 WIB atau 17.14 WIT. Artinya, tak ada satu kota pun di Indonesia yang bisa mengamati tahap awal gerhana karena Bulan di Jayapura, Papua, baru terbit pukul 17.20 WIT.

Wilayah yang bisa mengamati seluruh proses gerhana selama lebih dari 5 jam itu adalah bagian barat Amerika Utara, ujung timur Rusia, utara Jepang, pantai timur Australia, dan Selandia Baru. Namun, wilayah terbaik mengamati gerhana itu adalah pulau-pulau di tengah khatulistiwa di Samudra Pasifik.

Di Indonesia, kota-kota di Papua jadi tempat terbaik mengamati GBT kali ini. Meski tak bisa mengamati awal gerhana, setidaknya di sana masih bisa menyaksikan fase gerhana bulan penumbra. Namun, perbedaan warna Bulan pada fase gerhana itu sulit dikenali mata.

Sementara kota-kota di Maluku baru bisa mulai mengamati gerhana sesaat sebelum Bulan memasuki umbra atau bagian dalam bayang-bayang Bumi. Pada saat itulah perubahan warna Bulan bisa diamati. Adapun kota-kota yang berada pada waktu Indonesia tengah serta Jawa Timur dan Kalimantan Tengah dapat menyaksikan gerhana sejak awal fase GBT.

PrintKota-kota di sebagian besar Jawa, Kalimantan Barat, dan Sumatera, kecuali Aceh, masih bisa menyaksikan fase GBT itu saat Bulan terbit. Di Banda Aceh, saat Bulan terbit, fase GBT sudah berakhir dan hanya menyisakan gerhana bulan sebagian saat Bulan mulai keluar dari umbra Bumi.

Pembiasan
Selama GBT, Bulan akan berubah warna dari kuning keputihan menjadi merah gelap. Perubahan warna itu dipicu perubahan proses datangnya sinar Matahari menuju Bulan. Saat tidak terjadi gerhana, sinar Matahari langsung mengenai permukaan Bulan dan dipantulkan ke Bumi sehingga warna bulan purnama mirip warna Matahari, kuning keputihan.

Pada saat terjadi gerhana, cahaya Matahari yang seharusnya menuju permukaan Bulan terhalang Bumi. Saat GBT, cahaya Matahari itu terhalang sepenuhnya. Oleh karena itu, seharusnya Bulan tidak akan terlihat sama sekali alias gelap total. Namun, ternyata Bulan masih terlihat dan memantulkan sinarnya meski warnanya berubah menjadi oranye hingga merah bata.

Dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Moedji Raharto, akhir pekan lalu, mengatakan, masih adanya cahaya Bulan yang dipantulkan ke Bumi saat GBT disebabkan atmosfer Bumi. ”Atmosfer bertindak mirip prisma kaca yang memecah cahaya putih sinar Matahari menjadi merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu,” katanya.

Pada proses pembiasan itu, cahaya ungu-biru akan disebarkan ke angkasa karena mengalami penyimpangan paling besar. Sementara cahaya merah dengan penyimpangan pembiasannya terkecil akan dibelokkan ke bagian dalam sehingga jatuh di permukaan Bulan.

”Warna merah atau kuning yang jatuh di permukaan Bulan saat GBT bergantung pada jarak Bumi-Bulan,” katanya. Beda jarak Bumi-Bulan itu terjadi karena lintasan Bulan mengelilingi Bumi berbentuk elips.Semakin dekat jarak Bumi-Bulan, kian merah warna Bulan saat GBT.

Selain itu, warna merah Bulan ketika gerhana juga ditentukan kondisi atmosfer Bumi. Semakin kotor atmosfer akibat banyaknya debu, semakin merah gelap warna Bulan yang terlihat. Kasus itu pernah terjadi pada GBT Desember 1992 yang berlangsung beberapa waktu setelah letusan Gunung Pinatubo di Filipina. Saat itu, piringan Bulan terlihat sangat gelap karena cahaya Bulan yang menuju Bumi terhalang debu letusan yang bertebaran di atmosfer.

Warna merah saat GBT, lanjut Moedji, diperkirakan akan kian merah karena gerhana terjadi saat Bulan di ufuk atau horizon. Pada kondisi tak terjadi gerhana, Bulan akan terlihat merah dan bentuknya lebih mampat saat di horizon. Warna merah dan bentuk yang mampat itu juga buah dari refraksi atmosfer Bumi terhadap cahaya Bulan.

”Saat berada di horizon, cahaya Bulan yang disaksikan pengamat akan melewati atmosfer yang lebih tebal sehingga efek pembiasannya besar,” katanya. Efek pembiasan itu akan berkurang seiring dengan menjauhnya posisi Bulan dari horizon akibat makin tipisnya ketebalan atmosfer terhadap pengamat.

Faktor warna Bulan saat GBT, kekotoran atmosfer Bumi, dan posisi gerhana saat di horizon diperkirakan akan membuat warna Bulan saat GBT, Rabu esok, yang teramati di sebagian wilayah barat Indonesia terlihat merah gelap.

Sementara jarak Bulan ke Bumi saat GBT esok cukup dekat, sekitar 366.000 kilometer. Bandingkan dengan rentang jarak Bulan ke Bumi 363.000 sampai 406.000 kilometer. Selain itu, letusan gunung beberapa waktu lalu, seperti Gunung Ontake di Jepang atau Gunung Sinabung di Sumatera Utara, diperkirakan akan membuat lebih banyak debu di angkasa. Belum lagi faktor polusi udara di kota besar.

Meski demikian, tidak dapat diperkirakan secara pasti tingkat kemerahan yang akan terjadi pada GBT besok. Oleh karena itu, mengamatinya secara langsung akan memberikan informasi pasti bagaimana merahnya warna bulan saat GBT di horizon.

Pengamatan
Untuk mengamati GBT yang terjadi saat Bulan terbit besok, dibutuhkan daerah yang memiliki arah pandang langsung ke horizon timur tanpa terhalang gunung, gedung, atau pohon. Apalagi fase gerhana total yang bisa diamati pada sebagian besar kota sebelum GBT berakhir sangat sempit.

”Masyarakat di Jakarta hanya punya waktu 41 menit sebelum fase GBT selesai,” kata mantan Ketua Umum Himpunan Astronomi Amatir Jakarta Muhammad Rayhan. Bulan terbit di Jakarta pukul 17.43 atau 18 menit setelah GBT, sedangkan GBT akan berakhir pukul 18.24.

Untuk pengamatan di pusat Kota Jakarta, salah satu tempat pengamatan yang potensial adalah di atas gedung-gedung tinggi. Oleh karena gedung tinggi itu umumnya terkonsentrasi di Jalan Sudirman, MH Thamrin, dan Rasuna Said, maka pengamatan di gedung-gedung tinggi pada sisi timur Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, lebih disarankan. Medan ke arah timurnya lebih bebas.

Berdasarkan pengalaman, pengamatan GBT kali ini juga spesial. Sebab, GBT besok merupakan GBT kedua dari empat GBT berturut-turut yang disebut gerhana tetrad. GBT pertama berlangsung 15 April 2014 serta GBT ketiga dan keempat masing-masing terjadi pada 4 April dan 28 September 2015.

Menurut Moedji, gerhana tetrad adalah sebuah peristiwa yang cukup langka. Selama milenium ketiga (tahun 2001-3000) dihitung akan terjadi 32 seri GBT tetrad. GBT tetrad pertama berlangsung 11 tahun silam, yaitu GBT pada 16 Mei dan 9 November 2003 serta 4 Mei dan 28 Oktober 2004.

Sementara GBT tetrad berikutnya dihitung baru akan terjadi 18 tahun lagi, yaitu GBT 25 April dan 18 Oktober 2032 serta 14 April dan 8 Oktober 2033. Purnama kali ini memang tak biasa. Langka.

Oleh: M Zaid Wahyudi

Sumber: Kompas, 7 Oktober 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: