Home / Berita / Gerakan Literasi Bersiasat Melawan Pandemi

Gerakan Literasi Bersiasat Melawan Pandemi

Meskipun terjadi pandemi Covid-19, pegiat gerakan literasi tidak menghentikan aktivitasnya. Mereka bersiasat agar warga dapat menerima informasi yang dibutuhkan.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Murid-murid SD Negeri Setu 1, Jakarta Timur, memanfaatkan perpustakaan keliling untuk membaca buku bacaan seperti komik, novel, dan buku lainnya di sekolah mereka, Selasa (26/2/2019). Foto sebagai ilustrasi berita.

Banyak aktivitas di dunia ini berubah karena pandemi. Tidak terkecuali gerakan literasi yang digagas sebagian orang di sejumlah tempat. Demi mengurangi kontak fisik, mereka membagikan buku elektronik dan dokumen jenis portabel atau PDF kepada warga yang membutuhkan. Namun, upaya belum cukup karena tidak semua orang melek teknologi.

Sejumlah gerakan literasi warga digelar dengan meniadakan perpustakaan jalanan guna mencegah penyebaran Covid-19. Mereka mengoptimalkan teknologi agar literasi terus berjalan, seperti yang dilakukan komunitas Literaksipop.

Komunitas literasi ini menyediakan perpustakaan jalanan di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, dan ruang belajar di Tanah Rendah 1, Kebon Pala, Jatinegara, Jakarta Timur. Tujuannya memudahkan warga mengakses bahan bacaan.

Sehubungan dengan penutupan Taman Suropati selama pandemi, aktivitas perpustakaan jalanan diliburkan untuk sementara. Biasanya perpustakaan jalanan berlangsung setiap Sabtu dan Minggu sejak sore hari.

KOMPAS/INSTAGRAM STREET TO STRENGTH KUPANG–Kegiatan literasi Street to Strength Kupang mengenalkan kamera digital kepada anak jalanan dan putus sekolah di Kota Kupang.

”Kami memutuskan untuk menyebarkan buku elektronik dan zine (bacaan alternatif) berbentuk PDF secara gratis agar masyarakat yang sedang menjalani gerakan #dirumahaja masih dapat membaca buku,” ucap Agam, salah satu sukarelawan Literaksipop, di Jakarta, Jumat (3/4/2020).

Buku elektronik dan PDF dikemas dalam bentuk link Google Drive sebelum disebarluaskan melalui berbagai platform media sosial. Di dalam link terdapat koleksi bacaan dari berbagai perpustakaan.

Sementara ruang belajar tetap aktif dengan metode yang berbeda guna mencegah Covid-19. Sebelumnya sukarelawan dan anak-anak berada di dalam ruangan sama untuk dibimbing. Kini, pegiat membagikan bahan bacaan kepada setiap anak. Selanjutnya mereka merangkum bacaan ke dalam bentuk cerita. ”Supaya anak-anak membaca buku, berimajinasi, dan berkreasi,” ujarnya.

Ruang belajar berlangsung setidaknya dua kali dalam sepekan, bergantung pada tersedianya sukarelawan. Sebab, Literaksipop kekurangan sukarelawan untuk mengajar. Agam mereka-reka bahwa hanya segelintir orang yang bersedia karena tanpa bayaran.

Hal serupa juga dilakukan perpustakaan jalanan AIUEO. Pegiat literasi yang biasa melapak di Taman Suropati ini meniadakan aktivitas karena pandemi. Sebagai gantinya, sejumlah pegiat membagikan buku elektronik dan PDF yang dikemas dalam link Google Drive.

”Untuk sekarang, baru tersedia buku elektronik dan PDF novel, zine, dan buku ilmiah,” ujar Hary, salah satu sukarelawan Perpustakaan AIUEO.

Kemudahan akses dan melek teknologi sepertinya sulit dilakukan di daerah. Itu menjadi kendala Street to Strength Kupang, sebuah program dari Three for All Foundation untuk anak-anak putus sekolah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Sulit
Semenjak keluarnya edaran gubernur tentang pembatasan sosial pada pertengahan Maret, kegiatan belajar-mengajar yang berlangsung setiap hari Minggu otomatis berhenti. ”Pertemuan ditiadakan sampai batas waktu yang belum ditentukan karena belum ada solusi untuk belajar selain tatap muka,” kata Pormedan Lette, salah satu sukarelawan Street to Strength Kupang.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Anak-anak mencoba permainan dalam jaringan dari Google yang memberi panduan bagi anak mengenai dasar-dasar keamanan berinternet dalam acara peluncuran program tangkas berinternet (#tangkasberinternet) di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, Senin (10/2/2020). Foto sebagai ilustrasi berita.

Penyebabnya karena sebagian besar peserta merupakan anak jalanan, putus sekolah, dan berasal dari keluarga kurang mampu yang sulit mengakses teknologi. ”Sama seperti kebanyakan anak sekolah yang sekarang belajar daring. Tidak semua punya perangkat yang mendukung,” ujarnya.

Adapun indeks aktivitas literasi membaca di 34 provinsi pada tahun 2018 berada dalam kategori aktivitas literasi rendah, yakni 37,32. Indeks tersebut tersusun dari dimensi kecakapan sebesar 75,92, dimensi akses sebesar 23,09, dimensi alternatif sebesar 40,49, dan dimensi budaya sebesar 28,50.

Data yang dikeluarkan Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada April 2019 itu memberikan gambaran perlunya upaya serius agar akses terhadap bahan literasi di sekolah dan perpustakaan dapat lebih ditingkatkan.

Dari 34 provinsi, sembilan provinsi masuk dalam kategori aktivitas literasi sedang (40,01-60), 24 provinsi masuk kategori rendah (20,01-40), dan satu provinsi masuk kategori sangat rendah (0-20). Bahkan, tiga provinsi dengan indeks tertinggi, yaitu DKI Jakarta (58,16), Yogyakarta (56,20), dan Kepulauan Riau (54,76), belum mampu mencapai angka 60 untuk kategori tinggi.

Oleh FRANSISKUS WISNU WARDHANA DANY

Editor: ANDY RIZA HIDAYAT

Sumber: Kompas, 3 April 2020

Share
x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: