Home / Berita / Gempa untuk Membangunkan Tidur

Gempa untuk Membangunkan Tidur

Gempa bumi yang berpusat di Samudera Hindia sebelah selatan Banten pekan lalu seperti alarm untuk membangunakan kita, agar bersiaga terhadap gempa dan tsunami besar yang sewaktu-waktu bisa melanda.

Gempa bumi berkekuatan M 6,9 di Selat Sunda pada Jumat (2/8/2019) pukul 19.03 WIB telah memicu peringatan dini tsunami. Sekalipun goncangannya cukup kuat sehingga merusak ratusan bangunan dan menewaskan enam orang, namun gempa ini bukanlah yang terkuat yang bisa terjadi di selatan Jawa.

–Gempa M 6,9 yang terjadi di Selat Sunda pekan lalu tergolong kecil, dibandingkan potensi gempa besar dari zona subduksi yang sewaktu-waktu bisa terjadi di kawasan ini. Segmen subduksi selatan Jawa Barat memiliki energi untuk memicu gempa M 8,7. Bahkan, jika segmen di sekitarnya turut runtuh gempa bisa di atas M 9. Sumber grafis: Pusgen 2017 dan Rahma Hanifa 2019

Lima menit setelah guncangan, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), merilis informasi bahwa gempa berkekuatan M 7,4 dengan pusat gempa 147 kilometer arah barat daya Kecamatan Sumur, Banten dan kedalaman 10 kilometer. Dengan parameter ini, BMKG kemudian mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk pesisir Banten, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.

Setelah data-data seismograf yang masuk lebih banyak dan stabil, kekuatan gempa diperbarui menjadi M 6,9 dan kedalaman sumber 48 km. Dengan paremeter baru ini, gempa dinyatakan tidak berpotensi tsunami. Pantauan sensor pasang surut (tide gauge) dari Badan Informasi Geospasial kemudian memastikan bahwa tsunami memang tidak terjadi.

“Parameter gempa yang kami keluarkan untuk kepentingan peringatan dini tsunami. Sesuai tupoksi, BMKG dituntut mengeluarkan peringatan dalam lima menit,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono.

Padahal, proses runtuhnya batuan di pusat gempa pada umumnya bisa berlangsung lebih dari lima menit, sehingga parameter gempa bisa berubah. Bahkan, jika gempanya sangat besar seperti terjadi di Aceh pada 2004 atau Jepang pada 2011, runtuhnya batuan bisa berlangsung lebih dari sejam.

Itulah sebabnya, saat gempa Sendai 2011, Japan Meteorological Agency (JMA) awalnya mengeluarkan informasi kekuatan gempa hanya M 7,9 dan ancaman tsunami 8 meter. Padahal, gempa kemudian dipastikan berbekuatan M 9 dan tsunami yang kemudian melanda berketinggian lebih dari 20 meter.

“JMA seperti BMKG, dituntut untuk menyampaikan informasi secepatnya untuk kepentingan peringatan dini tsunami. Beda dengan USGS yang tidak dibebani menyampaikan peringatan dini tsunami, sehingga bisa mengeluarkan parameter gempa setelah data-data stabil,” kata Daryono.

Akurasi
Akurasi dan kecepatan memang susah disandingkan. Fakta ini menyingkap keterbatasan sistem peringatan dini tsunami. Kali ini sistem peringatan dini tsunami menjadi over estimate atau berlebih, sedangkan saat tsunami Palu 2018 peringatan dini under estimateatau lebih kecil dari kejadian sesungguhnya.

Selain itu, tsunami di Palu datang hanya tiga menit setelah gempa, atau lebih cepat dari peringatan dini tsunami. Apalagi, saat itu komunikasi juga terputus sehingga peringatan tak bisa diteruskan ke masyarakat terdampak.

Belajar dari kasus Palu dan sederet kejadian gempa bumi sejak Aceh 2004, evakuasi mandiri memang menjadi kunci untuk selamat dari tsunami. Masyarakat Pulau Simeulue yang berada di dekat pusat gempa Aceh 2004, selamat karena segera mengungsi ke perbukitansetelah gempa. Jika di pesisir Aceh terdapat lebih dari 160.000 korban jiwa, di Simeulue tujuh korban.

Gempa harus menjadi alarm bagi masyarakat di pesisir untuk segera menjauh ke tempat tinggi, tanpa harus menunggu peringatan dini tsunami. Fenomena ini yang terlihat saat gempa pekan lalu. Seperti diwartakan Kompas pada Sabtu (3/8/2019) dan Minggu (4/8/2019), masyarakat di pesisir Pandeglang, Banten langsung menjauh dari pantai beberapa saat setelah gempa.

Fenomena ini misalnya terjadi di Desa Kertamukti, Kecamatan Sumur, Pandeglang. Warga bergerak ke tempat evakuasi beberapa saat setelah gempa, sekalipun tanpa aba-aba sirine tsunami. Mereka mengikuti jalur evakuasi yang telah dibuat setelah tsunami Krakatau pada Desember 2018 lalu.

Masyarakat di Kertamukti, sepertinya belajar dari kejadian tsunami yang menewaskan 36 orang warga. Namun waktu selalu menjadi musuh utama kesiapsiagaan. Ketika masih segar ingatan, biasanya kita menjadi lebih waspada. Namun, seiring waktu kesiapsiagaan mengendor, bahkan dilupakan.

KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO–Anak-anak di Desa Panjangjaya, Kecamatan Mandalawangi, Pandeglang, Banten mendapatkan penyembuhan trauma pascagempa bumi yang mengguncang wilayah tersebut, Minggu (4/8/2019). KOMPAS/PRAYOGI DWI SULISTYO

Ancaman Laut Selatan
Hingga sebelum tsunami tahun 2004, masyarakat Aceh pada umumnya tidak menyadari bahwa mereka tinggal di kawasan yang pernah dilanda tsunami. Padahal, Aceh telah berulangkali dilanda tsunami. Buktiarkeologi dan geologi, tsunami pada tahun 1394 sekuat yang terjadi pada 2004. Setelah tsunami 1394, kawasan terdampak ditinggalkan, namun satu abad dihuni kembali hingga kemudian hancur lagi saat tsunami 2004 (Jurnal PNAS 2019).

Berada di hadapan jalur subduksi yang sama, pesisir selatan Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara juga menghadapi ancaman sebagaimana Aceh. Kajian geologi yang dilakukan Kepala Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI) Eko Yulinato dan tim menemukan berlapis endapan tsunami di Lebak (Banten), Pangandaran, Cilacap (Jawa Tengah), Pacitan (Jawa Timur), dan di Kulon Progro (DI Yogyakarta). Salah satu endapan diketahui memiliki kesamaan umur, yaitu sekitar 300 tahun lalu yang menunjukkan ada kejadian tsunami besar dalam waktu sama.

Keberulangan tsunami di masa lalu ini yang kemungkinan menjadi penyebab sepinya hunian penduduk di pesisir Jawa di masa lalu. Berdasarkan peta Belanda tahun 1800-an, lokasi permukiman di pantai selatan Jateng dan DIY cenderung berjarak dari pantai.

Pertumbuhan pesisir di selatan Jawa baru mulai terjadi setelah Belanda membangun pelabuhan di Cilacap pada 1840. Hingga awal 1900-an, kawasan di pesisir selatan Jawa yang berkembang hanya Cilacap. Seperti ditulis Ahmad Wongsosewodjo dalam bukunya, Berkeliling Hindia: Tanah Djawa Keradjaan Lama (1937), ”Di pantai selatan seluruh tanah Jawa, hanya negeri Cilacap sajalah bandar pelabuan yang diperbaiki gubermen dan yang disinggahi kapal.”

Namun, kini pesisir selatan Jawa telah tumbuh pesat. Bahkan, baru-baru dibangun Bandara Internasional Yogyakarta di pesisir Kulon Progo, persis di lokasi Eko Yulinato menemukan salah satu endapan tsunami tua.

“Sebagai peneliti kami tetap harus menyampaikan kepada masyarakat bahwa selatan Jawa memang memiliki potensi gempa besar dari zona subduksi,” kata ahli gempa bumi Institut Teknologi Bandung Irwan Meilano. “Gempa kemaren bukan dari zona subduksi, tapi terjadi di intraslab (lengan lempeng).”

Menurut Irwan, gempa tegak lurus dengan subduksi ini tak pernah diperhitungkan sebelumnya. “Beruntung bahwa lokasinya di Selat Sunda. Kalau gempa kemaren terjadi lebih ke arah timur dampak goncangannya pasti akan lebih kuat di Jakarta,“ kata dia.

Namun yang lebih mengkhawatirkan, menurut Irwan, gempa ini bisa menambah tegangan di zona subduksi, sehingga siklus gempa besar di kawasan ini bisa datang lebih cepat. Masalahnya, hingga saat ini kita belum mengetahui secara pasti kapan siklus gempa di selatan Jawa, karena minimnya data-data saintifik.

Gempa bumi memang belum bisa diprediksi secara pasti kapan terjadi, namun cepat atau lambat, selatan Jawa dipastikan akan dilanda kembali gempa besar seperti yang dulu pernah terjadi. Maka, yang terbaik adalah dengan menyadari bahwa kawasan ini memang berisiko sehingga warga di pesisirnya harus senantiasa bersiaga. Kesiapsiagaan ini harus membudaya dan terus diwariskan…

Oleh AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 8 Agustus 2019

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: