Home / Berita / Galaxy S6 Edge, Samsung Membayar Kesalahan

Galaxy S6 Edge, Samsung Membayar Kesalahan

Pada perhelatan Mobile World Congress 2014 di Barcelona, Spanyol, Samsung memperkenalkan lini telepon seluler unggulan mereka, yaitu Galaxy S5. Dengan layar 5,1 inci dan resolusi definisi tinggi, kamera 16 megapiksel, serta prosesor empat inti, perusahaan asal Korea ini juga memperkenalkan fitur baru, mulai dari sensor sidik jari, pemantau kebugaran, hingga detak jantung.
Hanya, sambutan yang mereka terima tidak seperti yang diharapkan. Kritik datang membanjir atas produk tersebut, mulai dari desain yang dianggap tidak lagi kreatif atau inovatif karena hanya mengacu pada model sebelumnya, Galaxy S4, dengan perbedaan ukuran layar hingga perangkat lunak yang tidak banyak berkembang. Kesan ringkih pun ditemui karena material yang terasa seperti plastik dan tidak eksklusif.

Singkat kata, sulit untuk meyakinkan para pengguna lama agar beralih ke seri terbaru, apalagi meyakinkan pengguna baru untuk memilikinya.

Bukan itu saja masalah yang dihadapi Samsung. Laporan keuangan kuartal III-2014 menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan karena laba bersih yang didapat adalah 4,2 triliun won, sementara tahun lalu 8,24 triliun won atau turun hampir separuhnya. Laporan tersebut memang mencakup Samsung sebagai perusahaan elektronik secara keseluruhan meski diakui bahwa penjualan ponsel juga mengalami penurunan 15 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Pada saat yang sama, reputasi Samsung tengah tergerus oleh pemain-pemain baru dari Tiongkok, seperti Xiaomi, yang terus bersinar. Secara nilai memang belum mampu melampaui, tapi trennya sungguh terbalik. Baru berusia lima tahun, mereka mengirimkan ponsel dalam volume ketiga terbesar secara global, langsung mengekor Apple di posisi kedua dan Samsung sebagai pemuncak.

Project Zero
Itulah mengapa muncul kabar bahwa Samsung Galaxy S5 merupakan kesalahan yang tidak ingin diulangi sehingga Samsung memutuskan untuk merombak alur produksinya dari awal. Mereka tidak lagi melakukan pengembangan berdasarkan desain yang sudah ada, tetapi memulai dari awal.

”Itulah filosofi dari nama Project Zero, kami memulai dari nol untuk mendesain ponsel ini,” ujar Vebbyna Kaunang, Direktur Pemasaran IM Samsung Electronic Indonesia.

Project Zero lantas menghasilkan desain dan spesifikasi yang digunakan untuk membuat Samsung Galaxy S6 dan diperkenalkan pada perhelatan Mobile World Congress 2015 di tempat yang sama. Mereka langsung memperkenalkan dua varian, yakni Galaxy S6 dan Galaxy 6 Edge (varian baru) yang memiliki layar lengkung di sisi kiri dan kanan.

Setidaknya kritik paling utama mengenai Samsung yang tidak mau berinovasi masalah desain tidak lagi terdengar. Galaxy S6 sudah meninggalkan kesan plastik karena menggunakan material besi dan punya kesan kokoh dengan bentuk baterai yang menyatu dengan badan ponsel. Memang ada pula yang menyebut desain produk tersebut memiliki kemiripan dengan iPhone 6 dari Apple, misalnya dari tepi badan ponsel yang melengkung.

Dari lembar spesifikasinya, Galaxy S6 berusaha keras untuk tampil sebagai lini unggulan mengingat eranya sudah berubah, yaitu begitu banyak ponsel dengan spesifikasi mumpuni dijual dengan harga lebih terjangkau. Langkah pertama adalah memilih prosesor berarsitektur 64 bit, yakni Exynos buatan mereka yang memiliki teknologi delapan inti berkecepatan 2,1 gigahertz serta didampingi RAM 3 gigabyte. Mereka menyiapkan beberapa tipe yang memiliki ukuran penyimpanan internal beragam, seperti 64 gigabyte, 32 gigabyte, atau 128 gigabyte.

Datang dengan sistem operasi Android versi Lollipop, Galaxy S6 memanfaatkan prosesor 64 bit miliknya untuk mendapatkan pemrosesan lebih baik karena versi Android ini dipersiapkan untuk memberikan performa lebih baik pada prosesor 64 bit. Hadir dengan Touch Wiz, tampilan antarmuka Samsung tetap dipertahankan dengan gaya minimalis. Meski demikian, hak itu tidak menyelesaikan keluhan utama mengenai aplikasi bawaan (bloatware) yang kerap tidak dibutuhkan seluruhnya oleh setiap pengguna, tetapi tidak bisa disingkirkan sama sekali.

Dari sisi kamera, Samsung tidak mengubah angka dari kamera belakang, yakni 16 megapiksel, sementara kamera depan meningkat dari 2 megapiksel menjadi 5 megapiksel. Perbedaannya terletak pada lensa yang digunakan memiliki diafragma 1.8 sehingga lebih cepat dan andal untuk kondisi penerangan yang redup dibandingkan pendahulunya yang memiliki diafragma 2.2.

b36070147d4e432b89888d16a8cb2072Gambar yang diambil menggunakan kamera milik Galaxy S6 buatan Samsung tengah menyorot varian seri tersebut, yakni Galaxy S6 Edge, Rabu (8/4), di Jakarta. Galaxy S6 dan Galaxy S6 Edge bakal memiliki kamera 16 megapiksel dengan diafragma 1.8 atau merupakan perbaikan dari seri sebelumnya meski dengan ukuran megapiksel yang sama.Kompas/Didit Putra Erlangga Rahardjo

Satu hal yang mengganggu ditemui pada dua tipe ponsel ini, layaknya tipe yang muncul setahun terakhir, yaitu moncong kamera belakang menonjol sehingga ponsel tidak bisa diletakkan secara telentang tanpa khawatir lecet pada lensa karena gesekan. Satu-satunya solusi adalah mencari aksesori berupa pembungkus ponsel agar tonjolan tersebut bisa dikompensasi.

Perbedaan antara Galaxy S6 dan Galaxy S6 Edge terletak pada layarnya saja. Lengkungan di kedua sisi layar memang tidak memberikan sebanyak Galaxy Note Edge kecuali pemberitahuan dari tepi ponsel. Pengguna bisa mengusap jari ke layar yang melengkung, ditarik ke tengah, dan bakal muncul pemberitahuan seperti panggilan tidak terjawab atau pesan dari layanan percakapan. Samsung mempersilakan para pengembang aplikasi untuk memanfaatkan fitur layar ini.

Selain pada layar, perbedaan dua tipe ini juga terletak pada kapasitas baterai, yakni 2.550 mAh pada Galaxy S6 dan 2.600 mAh pada Galaxy S6 Edge. Keduanya bisa beroperasi pada jaringan 4G untuk frekuensi yang dijalankan di Indonesia, yakni 900 megahertz dan 1.800 megahertz.

Mahal
Harian Kompas berkesempatan untuk menimang dan mencoba dua tipe ponsel ini pada awal April lalu. Sekilas ponsel dengan ketebalan 6,8 milimeter ini terasa kokoh saat digenggam ataupun dipakai untuk mengambil gambar. Kamera yang dilengkapi fitur penstabilan gambar (optical image stabilization) membuat gambar bisa diambil dengan cepat dan tajam.

Tidak semua fitur memang benar-benar baru ditemui. Untuk kamera depan, misalnya, bisa ditemukan fitur Wide Selfie yang memungkinkan pengguna mengambil tiga gambar sekaligus dari kamera depan. Hal itu sudah bisa ditemui setidaknya pada seri Galaxy A.

Namun, saat ini belum ada aplikasi atau permainan elektronik yang bisa dipergunakan untuk menunjukkan potensi dari perangkat keras yang dimiliki Galaxy S6 dan Galaxy S6 Edge.

Samsung Electronic Indonesia memilih untuk meluncurkan Galaxy S6 Edge terlebih dahulu untuk pasar dalam negeri, lebih spesifik lagi dengan kapasitas penyimpanan internal 64 gigabyte. Mereka yang berminat bisa memesan sejak Senin (13/4) dan barang diterima pada awal Mei.

Harga produk tersebut mencapai Rp 12,5 juta, cukup mahal mengingat harga yang sama juga ditawarkan untuk iPhone 6 Plus. Vebbyna mengatakan, para pemesan dini akan mendapatkan keuntungan potongan harga dan penawaran diskon, tetapi harga akhir produk saat dilepas secara terbuka tidak akan berubah.

Harga yang dipatok Samsung memang bisa diperdebatkan jika muncul anggapan terlampau mahal. Yang pasti, mereka harus mengantisipasi munculnya kompetitor yang menawarkan spesifikasi bersaing dengan harga tidak kalah miring. Contoh yang bisa disebutkan adalah Zenfone 2 dari Asus yang memiliki RAM hingga 4 gigabyte dengan prosesor empat inti berkecepatan 2,3 gigahertz dan dipatok dengan harga resmi 199 dollar AS. Begitu pula Mi Note Pro dari Xiaomi yang memiliki RAM berukuran sama dengan harga yang sama-sama terjangkau.

Dua ponsel itu memang belum tersedia di pasar, tetapi setidaknya belum ada yang memiliki layar melengkung layaknya Galaxy S6 Edge. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah layar tersebut memang memberikan sesuatu yang baru bagi konsumen atau berakhir sebagai gimmick semata.

Semoga Samsung tidak terperosok ke lubang yang sama.

Didit Putra Erlangga Rahardjo

Sumber: Kompas Siang | 14 April 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: