Filariasis Terus Menyebar

- Editor

Jumat, 14 Agustus 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kasus Ditemukan di 418 Kabupaten/Kota
Sebanyak 418 kabupaten/kota di Indonesia menjadi tempat penyebaran filariasis kronis atau penyakit kaki gajah yang menahun. Namun, penderita filariasis masih sulit dideteksi. Untuk itu, upaya pencegahan, seperti pemberian obat secara massal dan deteksi dini penyakit menular menahun tersebut, perlu digalakkan.

Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (PPBB) Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Vensya Sitohang mengatakan, penderita kerap menganggap gejala awal filariasis, seperti demam dan benjolan pada tubuh, sebagai hal biasa.

“Padahal, penularan penyakit itu bersifat menahun dan makin kronis,” kata Vensya dalam paparannya terkait penyakit kaki gajah, Kamis (13/8), di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terlebih lagi, semua nyamuk dapat jadi vektor atau pembawa penyakit kaki gajah. Pembiaran itu menambah jumlah kasus dan penyebarannya. Menurut data Direktorat PPBB Ditjen P2PL Kemenkes, 14.932 kasus filariasis kronik ditemukan di 418 kabupaten/kota di 34 provinsi. Sebelumnya, penyebaran filariasis ada di 401 kabupaten/kota. Provinsi Nusa Tenggara Timur menempati urutan pertama dengan jumlah kasus 3.175 orang, diikuti Aceh sebanyak 2.375 pasien.

Penyakit itu disebabkan tiga spesies cacing filaria, yakni Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori, serta disebarkan nyamuk sebagai vektor. Selain demam berulang selama 3-5 hari, pembengkakan kelenjar getah bening tanpa luka bisa terjadi di bagian kaki, lengan, buah dada, dan kantong buah zakar.

Stigma sosial
Apabila gejala awal tak segera ditangani, pembengkakan akan membesar dan menyebabkan cacat. Penderita filariasis juga menurun produktivitasnya karena sulit bergerak. Selain itu, pasien mengalami stigma sosial sehingga malu berobat. “Karena itu, pasien sulit terdeteksi,” ujarnya.

Vensya memaparkan, penanganan kaki gajah harus memutus mata rantai penyakit melalui pencegahan. Untuk itu, pihaknya menyiapkan pemberian obat massal pencegahan filariasis ke kabupaten/kota yang memiliki kasus filariasis. Obat itu terdiri dari Diethylcarbamazine Citrate dan Albendazole serta akan diberikan setahun sekali selama lima tahun berturut-turut. “Obat ini gratis dan bagi semua orang yang memenuhi syarat, seperti umur 2-70 tahun. Obat tidak diperuntukkan bagi perempuan hamil,” tuturnya.

Pengobatan massal filariasis untuk pencegahan itu akan dilakukan serentak di wilayah terdampak filariasis pada Oktober nanti. Program yang dikenal sebagai Bulan Eliminasi Kaki Gajah itu akan diawali di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 1 Oktober 2015.

Kepala Pencegahan, Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Kusnadi menjelaskan, program itu diharapkan mengatasi sulitnya mendeteksi penderita filariasis.

Guru Besar Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Agnes Kurniawan menjelaskan, pemberian obat itu bisa mencegah penularan filariasis, tetapi punya efek samping, yakni alergi dan demam. “Itu reaksi obat yang menandakan ada microfilaria (cacing filaria belum dewasa). Obat itu aman dan dipakai sejak 1980-an,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah perlu membuat daya dukung lingkungan baik, seperti permukiman bersih dan tak menggunduli hutan yang jadi habitat nyamuk. “Pasien malu mengakui penyakitnya sehingga pemerintah harus proaktif,” ujarnya. (B05)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 Agustus 2015, di halaman 13 dengan judul “Filariasis Terus Menyebar”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 4 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB