Home / Berita / Faktor Keselamatan Diutamakan dalam Pembangunan Reaktor Nuklir

Faktor Keselamatan Diutamakan dalam Pembangunan Reaktor Nuklir

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2015-2019, pemerintah menargetkan membangun reaktor daya eksperimental. Reaktor yang menghasilkan energi listrik sangat kecil, sebesar 10 megawatt, itu akan dibangun di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, di Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Reaktor itu ditargetkan beroperasi tahun 2019. Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto, di Jakarta, Jumat (26/6), mengatakan, pembangunan reaktor daya eksperimental itu akan tetap mengutamakan faktor keselamatan.

Oleh karena itu, teknologi reaktor yang akan digunakan harus bisa meminimalkan risiko dan bisa beradaptasi dengan daerah berpenduduk padat. “Jika terjadi sesuatu yang mengancam reaktor, maka reaktor harus bisa segera otomatis berhenti tanpa adanya tambahan kendali dari luar,” katanya.

Selain itu, reaktor yang digunakan tidak hanya mampu menghasilkan listrik, tetapi juga mampu menghasilkan hidrogen dan mencairkan batubara. Reaktor juga harus memungkinkan memanfaatkan thorium sebagai bahan bakar, mengingat jumlah thorium di Indonesia mencapai 3-4 kali lebih banyak dibandingkan uranium.

Persyaratan itu akan menjadikan reaktor yang akan digunakan sebagai reaktor serba guna generasi terbaru dari yang digunakan saat ini atau reaktor serba guna jilid II.

Untuk itu, teknologi reaktor yang akan digunakan sebagai reaktor daya eksperimental adalah reaktor generasi terbaru. Saat ini, teknologi reaktor yang banyak digunakan sebagai reaktor daya untuk menghasilkan listrik di seluruh dunia berasal dari generasi 3 dan 3+. Karena itu, reaktor yang akan digunakan nanti adalah reaktor generasi 4.

Dari beberapa jenis reaktor generasi 4 yang ada, salah satu yang sudah terbukti kehandalannya adalah reaktor bertemperatur tinggi dengan pendingin gas atau high temperature gas-cooled reactor (HTGR). Teknologi reaktor ini sudah digunakan di Jepang sejak tahun 1998, sedangkan negara yang paling maju dalam penggunaan reaktor HTGR saat ini adalah Tiongkok.

Ahli-ahli Batan yang merupakan lulusan program doktoral di Jerman dan Jepang juga sudah mengkaji reaktor jenis itu sejak tahun 1990-an. “Meskipun teknologi baru, teknologi itu sudah harus proven karena kita tidak ingin menjadi kelinci percobaan dari teknologi baru yang mau dibangun,” tuturnya.

Listrik yang akan dihasilkan reaktor daya eksperimental di Serpong nanti juga tidak akan dijual atau masuk dalam jaringan listrik Perusahaan Listrik Negara. Listrik yang dihasilkan akan digunakan untuk kepentingan nonkomersial, yaitu menyuplai aliran listrik bagi sebagian fasilitas penelitian yang ada di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) di Serpong karena Batan tidak boleh membangun dan mengoperasikan fasilitas nuklir komersial.

b3784240af4642249951dc35b98be770Daya listrik yang dihasilkan sebesar 10 MW, hanya sepertiga dari daya reaktor riset yang sudah ada di Serpong saat ini sebesar 30 MW. “Tujuan utama reaktor daya eksperimental ini adalah untuk riset, bukan bertujuan untuk memasok listrik semata. Dengan daya kecil yang dihasilkan, reaktor daya eksperimental itu diharapkan mudah dikelola dan butuh anggaran yang tidak mahal,” kata Djarot.

M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas Siang | 26 Juni 2015

————
Reaktor HTGR Sudah Teruji

Reaktor temperatur tinggi berpendingin gas atau HTGR merupakan salah satu reaktor generasi IV yang sudah teruji dan digunakan beberapa negara sejak 1990-an. Reaktor yang memiliki sistem keselamatan pasif itu direncanakan digunakan di Reaktor Daya Eksperimental Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional Djarot Sulistio Wisnubroto di Jakarta, Jumat (26/6), mengatakan, Badan Tenaga Atom Internasional tidak mengelompokkan reaktor daya eksperimental (RDE) sebagai PLTN karena daya yang dihasilkan hanya 10 megawatt termal (MWt), sepertiga dari daya reaktor riset saat ini. “RDE juga tak dikelompokkan sebagai reaktor riset karena reaktor riset umumnya tak menghasilkan listrik,” katanya.

Tahun ini, RDE baru desain konsep dan evaluasi tapak yang dibuat konsorsium perusahaan Indonesia-Jerman. Jika anggaran pembangunannya disetujui, RDE diharapkan menghasilkan listrik pada 2020 untuk memfasilitasi penelitian di kawasan Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Serpong, tak masuk jaringan PLN.

Keselamatan pasif
Djarot mengatakan, penggunaan reaktor generasi IV karena reaktor generasi III dan III plus umum digunakan di reaktor di dunia. Reaktor generasi IV memiliki sistem keselamatan pasif, yaitu proses keselamatan jika terjadi kecelakaan tak bergantung tambahan kendali luar, seperti listrik atau operator, tetapi dapat dimatikan secara otomatis.

“Dengan keamanan pasif, kecelakaan seperti di PLTN Fukushima Daiichi tidak akan terjadi,” kata Guru Besar Reaktor Nuklir ITB Zaki Su’ud.

Menurut Zaki, HTGR masuk teknologi reaktor generasi IV jika menggunakan torium (Th) sebagai bahan bakarnya. Cadangan Th di Indonesia 3-4 kali lebih banyak dibandingkan uranium.

Kelebihan HTGR, bahan bakarnya disimpan dalam matrik partikel berlapis. Jika terjadi kecelakaan, bahan radioaktifnya terkungkung dalam partikel, tidak lepas ke lingkungan. “HTGR cocok di daerah yang dekat kawasan penduduk,” katanya.

Efisiensi proses konveksi reaktor HTGR mencapai lebih dari 50 persen, jauh lebih efisien dibandingkan pembangkit listrik lain. Gas suhu tinggi yang dihasilkan reaktor bisa dialirkan ke sumur minyak tua untuk mencairkan cadangan minyak yang ada.

Reaktor HTGR juga bisa menghasilkan hidrogen yang bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar tanpa polusi. Jenis reaktor ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kalori batubara muda di Kalimantan sehingga bisa digunakan di PLTU atau diekspor. Reaktor ini juga bisa dimanfaatkan untuk desalinasi air laut.

Reaktor HTGR sudah dikembangkan Jerman dan Jepang sejak akhir 1990-an. Namun, penggunaannya di Jepang dihentikan sementara untuk evaluasi setelah kecelakaan PLTN Fukushima Daiichi akibat gempa dan tsunami 2011. “Adapun di Jerman karena pemerintahnya berencana mengurangi ketergantungan pada PLTN,” kata Zaki.

Saat ini, negara maju yang memanfaatkan reaktor HTGR ialah Tiongkok. Mereka sedang membangun dua reaktor HTGR berkapasitas 2 x 250 MWt. (MZW)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Juni 2015, di halaman 14 dengan judul “Reaktor HTGR Sudah Teruji”.
———–
Reaktor Daya Eksperimen Batan Akan Dibangun Rusia

Panitia tender pembangunan Reaktor Daya Eksperimental Badan Tenaga Nuklir Nasional menetapkan BUMN Rekayasa Industri dan badan usaha milik Pemerintah Rusia, Rosatum, membangun PLTN berkapasitas 10 megawatt. Lokasi pembangkit serba guna itu direncanakan di kompleks Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Serpong, Tangerang Selatan, Banten.

Terpilihnya Rusia, antara lain, karena komitmen mereka lebih terbuka dalam transfer teknologi. Selain itu, teknologi reaktor yang dipakai berbasis teknologi reaktor Jerman yang dinilai andal. “Pembangunan reaktor memakan waktu empat tahun dimulai tahun 2017,” kata Sekretaris Utama Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Taswanda Taryo, Rabu (15/4), di Jakarta.

Persiapan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) skala kecil ini sejak tahun lalu. Investigasi calon tapak sudah dilakukan, meliputi berbagai aspek studi, yaitu kegempaan, kegunungapian, geoteknik dan fondasi, meteorologi, hidrologi, kejadian akibat kegiatan manusia, demografi, tata guna lahan, dan tata ruang.

Menurut Taswanda, beberapa tujuan akan dicapai melalui pembangunan reaktor itu, antara lain meningkatkan penguasaan teknologi dan pengoperasian PLTN generasi maju, penguasaan manajemen proyek pembangunan PLTN, sebagai master PLTN komersial, dan mendukung kedaulatan energi.

Deputi Pengkajian Keselamatan Nuklir Badan Pengawas Tenaga Nuklir Yus Rusdian Akhmal mengatakan, pihaknya menyetujui Batan mengevaluasi tapak PLTN di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong. “Untuk disetujui, Batan harus mengisi formulir berisi ratusan pertanyaan terkait keselamatan dan keamanan lingkungan dari radiasi,” kata Yus.

Setelah tahap evaluasi tapak, ada tahapan izin tapak, izin konstruksi, dan izin operasi. “PLTN ini harus beroperasi secara aman menganut filosofi keselamatan melekat dan pasif,” lanjut Yus.

Rencana tapak RDE berada di barat kawasan Puspiptek berdekatan dengan Pusat Bioteknologi BPPT dan Pusat Kalibrasi Instrumentasi dan Metrologi LIPI. “Areal itu juga dekat Sungai Cisadane di luar pagar Puspiptek,” kata mantan Kepala Puspiptek yang kini Asisten Deputi Investasi Iptek Kementerian Ristek dan Dikti Wisnu Sarjono.

Pembangunan PLTN Eksperimental itu, kata Taswanda, mengacu UU Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran. Di dalamnya disebutkan, Batan berwenang melakukan pembangunan, pengoperasian, dan komisioning reaktor daya nonkomersial (RDNK). Dalam hal ini, PLTN harus berupa reaktor daya eksperimental (RDE) atau reaktor daya serba guna (RDSG).

Kewenangan Batan juga diatur dalam PP No 2/2014 tentang Perizinan Instalasi Nuklir dan Pemanfaatan Bahan Nuklir. “Untuk pembangunan reaktor daya eksperimental, Batan dapat bekerja sama dengan instansi pemerintah lain atau perguruan tinggi dan industri nasional,” urainya.

Pembangunan dan pengoperasian RDE/RDSG juga dituangkan dalam Renstra Batan tahun 2015-2019 dengan target komisioning atau operasi tahun 2019/2020. Tahun depan akan dilaksanakan detail desain dan prakonstruksi, urai Taswanda.

Kajian teknologi dan pertimbangan pendanaan menunjukkan, reaktor tipe HTGR (high temperature gas cooled reactor) salah satu pilihan untuk RDE. HTGR termasuk teknologi reaktor inovatif yang menguntungkan dari sisi ekonomi, keselamatan, infrastruktur, proteksi fisik, lingkungan, dan limbah.

Karakteristik lain HTGR yang mendukung aspek keselamatan reaktor antara lain densitas dayanya rendah dan kapasitas termal tinggi. Reaktor ini dapat multifungsi, tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga menghasilkan hidrogen dan untuk mencairkan batubara. (YUN/JOG)
————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 April 2015, di halaman 14 dengan judul “Reaktor Daya Eksperimen Batan Akan Dibangun Rusia”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: