Home / Berita / Extensometer; Peringatan Dini Itu Hak Warga

Extensometer; Peringatan Dini Itu Hak Warga

BERBAGAI bencana menimpa warga tanpa ada peringatan dini. Edi Prasetyo Utomo, peneliti pada Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, menyebarluaskan penggunaan extensometer untuk peringatan dini jika terjadi tanah longsor.

Tidak ada peringatan dini bencana menjadi masalah sensitif. Warga telah membayar pajak kepada pemerintah, tetapi pemerintah tidak memberikan perlindungan,” kata Edi Prasetyo yang bekerja di kantor Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI di Bandung, Jawa Barat, Senin (3/2).

Tanah longsor terjadi akibat pergerakan tanah. Daerah berpotensi rawan pergerakan tanah dapat dideliniasi atau dirunut dari citra satelit atau foto udara.

Jumlah penduduk yang bermukim di lokasi rentan tanah longsor dapat dipetakan dan diperkirakan. Edukasi tentang bahaya bencana gerakan tanah mutlak harus diberikan kepada masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.

Dukungan riset dan pengembangan dari dunia pendidikan seperti perguruan tinggi setempat juga dibutuhkan. Bencana tanah longsor harus dikenali masyarakat rentan kena bencana agar mereka dapat menghindari jatuhnya korban.

Salah satu cara adalah mengembangkan sistem peringatan dini tanah longsor. Extensometer merupakan peralatan yang dirancang untuk mendeteksi adanya gerakan tanah. Extensometer didukung alat pantau curah hujan.

Sirene (alarm) akan berbunyi ketika terjadi gerakan tanah 7 milimeter per jam. Sirene juga berbunyi tatkala intensitas curah hujan melampaui 50 milimeter per jam atau 300 milimeter per hari.

Dalam tiga tahun terakhir, Edi memasang enam extensometer di kawasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Selain itu, di kawasan Jalan Tol Cipularang Kilometer 92,6 Jawa Barat; Penggaron Bridge Kilometer 20,8, Semarang; Plenggan, Kulon Progo, Yogyakarta; Karangsambung, Kebumen; dan Saguling, Jawa Barat.

Extensometer merupakan peralatan sensor pergerakan tanah yang diukur dari pergerakan kawat. Kawat itu dipancang sepanjang beberapa meter di antara extensometer dan patok.

Jenis kawat yang digunakan memiliki koefisien ekspansi rendah. Artinya, kawat tidak mudah berubah atau tahan terhadap perubahan suhu. Ketika ada pergerakan tanah 7 milimeter per jam, extensometer memicu bunyi sirene.

”Extensometer dari rangkaian elektronik ini sekarang mudah ditemukan di pasaran,” kata Edi.

Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI memperkirakan biaya pengadaan sistem peringatan dini bencana longsor ini sekitar Rp 125 juta. Pemeliharaan rutin ditujukan untuk menjaga corong air pada alat pantau curah hujan agar tidak tersumbat kotoran.

Pemicu longsor
Selain mengenali mekanisme kerja peralatan peringatan dini longsor, masyarakat rentan bencana juga perlu didukung untuk mengetahui indikator pemicu longsor. Menurut Edi, setidaknya ada enam indikator yang dapat memicu terjadinya bencana longsor.

6738283hKeenam indikator itu meliputi curah hujan tinggi melebihi 50 milimeter per jam, adanya penggundulan hutan di tebing dengan kemiringan lebih dari 30 derajat, ada lapisan tanah setebal lebih dari 3 meter di kemiringan lebih dari 30 derajat, kondisi batuan jika makin lunak makin berpotensi longsor.

Pemicu longsor lain, jika ada pemotongan tebing secara vertikal dan terakhir, pemicu longsor berupa gempa.

Peringatan dini longsor yang dimaksudkan Edi juga dikhususkan untuk jenis longsor dangkal, yaitu kurang dari kedalaman 10 meter. Jenis longsor dalam memiliki gerakan lambat.

Gerakan longsor dalam lebih sebagai rayapan. Indikasi yang bisa diamati antara lain konstruksi bangunan berubah. ”Longsor dalam lebih dari 25 meter lebih sulit atau lebih mahal untuk pendeteksiannya,” kata Edi.

Data BNPB
Dalam sebulan terakhir, periode 7 Januari-4 Februari 2014, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, ada 45 kejadian bencana longsor.

Kejadian terakhir pada 4 Februari 2014 pukul 03.00 di beberapa kecamatan di Semarang, Jawa Tengah, meliputi Kecamatan Gajahmungkur, Ngaliyan, dan Semarang Barat.

Longsoran tanah menutupi jalan dan menimpa beberapa rumah. Untungnya, tidak ada korban jiwa.

Kejadian longsor terparah terjadi sebelumnya, yakni 21 Januari 2014 di Dukuh Kembangan, Desa Menawan, Kecamatan Gebok, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Hujan deras menyebabkan tanah pada tebing yang curam longsor dan menimbun dua rumah. Akibatnya, 12 orang meninggal.

Pada 28 Januari 2014 pukul 01.30 terjadi gempa di Ngerimbi, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Hujan deras mengakibatkan longsor yang menimbun lima rumah. Ada 14 penghuni yang tertimbun dan meninggal.

Total dalam sebulan terakhir, bencana longsor menyebabkan 38 orang meninggal.

Menurut Edi, terjadinya korban bencana longsor sebetulnya bisa diantisipasi dan dihindari. Bencana longsor tidak terjadi seketika. Beberapa indikatornya mudah dikenali.

”Ini yang menyebabkan masalah ketiadaan peringatan dini bencana menjadi masalah sensitif di Jepang. Jika terjadi bencana tanpa ada peringatan, pemerintah bisa dianggap gagal melindungi warga,” kata Edi.

Peralatan peringatan dini bencana longsor mudah dipasang. Setiap tahun diprediksi jumlah kejadian longsor cenderung meningkat akibat daya dukung lingkungan melemah dan variabilitas cuaca makin tidak menentu.

Bagi Edi, sekarang pemerintah dan masyarakat tidak bisa hanya berdiam diri dan pasrah ketika jumlah korban bencana longsor terus bertambah. Antisipasi melalui peringatan dini terhadap ancaman bencana longsor harus dilakukan. Ini merupakan hak setiap warga.

Oleh: Nawa Tunggal

Sumber: Kompas, 7 Februari 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: