Home / Artikel / Evolusi Bersama Virus

Evolusi Bersama Virus

CATATAN IPTEK
Keberadaan virus dalam sejarah evolusi manusia ini tersimpan dalam jejak genom kita. Kemampuan beradaptasi menghadapi virus menjadi kunci umat manusia bisa selamat dari berbagai wabah penyakit.

Virus telah memicu infeksi yang menjadi penyebab utama kematian dalam sejarah umat manusia. Akan tetapi, mereka juga memainkan peran kunci dalam proses evolusi hingga membentuk kita menjadi sosok Homo sapiens seperti saat ini.

Keberadaan virus dalam sejarah evolusi manusia ini tersimpan dalam jejak genom kita. Sekitar 8 persen dari genom manusia atau sekitar 100.000 keping DNA, terdiri dari retrovirus endogen (ERV), yang merupakan kepingan gen virus yang telah menjadi bagian permanen dari garis keturunan setelah mereka menginfeksi nenek moyang kuno kita.

Retrovirus endogen ini terlibat dalam sejumlah penyakit seperti gangguan autoimun hingga kanker payudara. Akan tetapi, tidak hanya membahayakan kesehatan, ERV ternyata juga bisa sangat berguna untuk keberlangsungan spesies kita.

Sebagai contoh, mereka memainkan peran sangat penting sebagai penghubung antara ibu hamil dan janinnya dengan mengatur perkembangan dan fungsi plasenta, sebagaimana ditemukan Odile Heidmann, biolog dari LAAS-CNRS Institut Gustave Roussy, Perancis dan tim di jurnal PNAS (2017).

Dalam studi ini, protein yang mengalir melalui pembuluh darah wanita hamil yang disebut sebagai Hemo (human endogenous MER34 ORF) ini diproduksi dalam janin dan plasenta, oleh gen yang awalnya berasal dari retrovirus yang menginfeksi nenek moyang mamalia lebih dari 100 juta tahun yang lalu. Jadi, sebelum infeksi retrovirus ini, leluhur kuno seluruh genus mamalia belum memiliki plasenta.

Aris Katzourakis, ahli virologi di Universitas Oxford, dan rekan-rekannya dalam jurnal Trends in Microbiology (2017) menyebutkan, materi genetik virus di dalam tubuh kita ini tidak hanya diperlukan bagi berfungsinya plasenta, tetapi juga untuk keberadaan kehidupan secara luas. Apa yang kerap disebut “DNA sampah” —sebagian besar darinya berasal dari virus simbiotik — sebenarnya berperan penting dalam evolusi spesies.

Studi oleh biolog dari Stanford University David Enard di jurnal eLife (2016) menemukan, sekitar 30 persen dari semua adaptasi protein di tubuh yang membedakan manusia dengan simpanse didorong oleh virus.

Begitu besar peran dan purba virus dalam evolusi manusia, ahli virus dari Center for Virus Research, University of California Irvine dalam Journal of Pathology, Microbiology and Immunology (2016) menyebut, “…peran mereka dalam kehidupan sebagai ‘ex virus omnia’ (semuanya bermula dari virus).”

Besarnya peran virus dalam tubuh manusia ini tidak bisa dilepaskan dari kemampuan jasad renik ini membajak hampir setiap fungsi sel organisme inang untuk bereplikasi dan menyebar. Masuk akal mereka akan mendorong evolusi mesin seluler ke tingkat yang lebih besar, dibandingkan tekanan evolusi lainnya seperti ancaman predator atau kondisi lingkungan.

Tak hanya manusia yang berevolusi, virus juga terus berkembang, bahkan, siklus hidup mereka yang pendek memungkinkan terjadinya mutasi dalam waktu singkat. Ini misalnya terjadi dengan virus korona baru, SARS-CoV-2, pemicu Covid-19, yang berevolusi dari spesies pendahulu mereka yang memicu sindrom pernapasan akut parah alias SARS.

Sekalipun virus SARS lebih mematikan, dia relatif lebih mudah dideteksi karena umumnya menularkan setelah inangnya bergejala parah. Sebaliknya, sebagian besar orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 bergejala ringan dan bahkan tanpa gejala, sehingga virus ini bisa menginfeksi lebih banyak inang tanpa mudah diketahui.

Kemampuan beradaptasi
Jadi, hubungan kita dengan patogen virus ditempa oleh kemampuan adaptasi dari dua belah pihak. Ketika pandemi melanda, populasi yang menjadi sasaran virus akan beradaptasi atau punah. Mereka yang bertahan adalah yang mampu beradaptasi, atau setidaknya mengubah gaya hidup.

Adaptasi ini pula yang sekarang mesti kita lakukan untuk selamat dari ancaman Covid-19. Sebelum tubuh kita mampu menemukan cara menghadapinya secara alamiah maupun melalui bantuan vaksin, yang bisa dilakukan saat ini adalah mengubah perilaku agar virus ini tidak menginfeksi melalui rajin cuci tangan, pakai masker, dan jaga jarak fisik. Tindakan ini mungkin terdengar sepele, tetapi untuk saat ini, hal itu mungkin yang akan membedakan apakah bisa selamat atau tidak menghadapi pandemi.

Tak hanya di tingkat individu, pandemi juga mengubah manusia secara sosial. Dalam bukunya Epidemics and Society (2020), Frank M. Snowden, profesor emeritus sejarah kedokteran di Yale University, meneliti bagaimana wabah telah memengaruhi jalannya sejarah. Wabah Bubonik atau penyakit pes yang menewaskan hampir separuh populasi manusia di Eropa abad pertengahan telah memicu lahirnya revolusi industri.

Wabah juga bisa menentukan tumbuh dan runtuhnya peradaban. Tidak ada bagian dari kehidupan manusia yang belum tersentuh wabah secara mendalam, dan kunci manusia bisa bertahan selama ini adalah kemampuannya untuk berubah.

Saat ini pandemi Covid-19 belum usai, bahkan di Indonesia belum mencapai puncaknya, namun kita dituntut berubah cepat dan jujur mengoreksi kekeliruan penanganan sebelumnya. Belajar dari negara-negara lain yang relatif sukses mengendalikan wabah, kuncinya adalah respon cepat berbasis sains dengan menempatkan keselamatan warga di atas segalanya, selain adanya komunikasi risiko yang jujur dan saling percaya.

Oleh Ahmad Arif, wartawan Kompas

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 22 Juli 2020

Share
x

Check Also

Tantangan Kelola Riset dan Inovasi

Inovasi selalu multipihak dan bertahapan jamak. Ia tak pernah akan bisa dipaksa, tetapi prosesnya bisa ...

%d blogger menyukai ini: