Home / Berita / Ekstra VCO untuk Kesehatan dan Stamina

Ekstra VCO untuk Kesehatan dan Stamina

Kesadaran untuk menggunakan kembali minyak kelapa murni (virgin coconut oil) tumbuh di berbagai negara. Namun, peluang itu belum tergarap meski Indonesia punya luas kebun dan produksi kelapa terbesar di dunia.

Permintaan minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO) terus tumbuh seiring bertambahnya kepedulian kaum urban dunia terhadap kesehatan. Tak hanya untuk konsumsi langsung, kebutuhan industri terhadap VCO juga meningkat guna memproduksi aneka produk turunan VCO, seperti bahan baku kosmetika, produk bayi, hingga obat-obatan.

Konsultan pemasaran dan industri asal Amerika Serikat Research Nester dalam Global VCO Market Outlook 2023 memprediksi pasar VCO dunia akan tumbuh 11 persen antara 2016-2023. Pemasok terbesar produk tersebut adalah Filipina, Srilanka dan India.

Indonesia sebenarnya punya peluang besar jadi produsen utama VCO dunia karena Indonesia memiliki areal perkebunan kelapa terbesar di dunia yaitu 3,5 juta hektar pada 2017. Produksi kelapanya pun terbanyak di dunia, yaitu 2,8 juta ton.

Namun, kelapa Indonesia umumnya hanya dijadikan kopra. Pembuatan VCO skala rumah tangga yang marak sejak tahun 2000an belum mampu menghasilkan VCO bermutu sesuai standar Komunitas Kelapa Asia Pasifik (Asian and Pacific Coconut Community/APCC). Jumlahnya pun kerapkali tak memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Dosen Universitas Gadjah Mada, Ani Setyopratiwi, menata ekstra VCO yang sudah dikemas, Jumat (11/5/2018), di pabrik pembuatan ekstra VCO yang diinisiasinya di Desa Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. –KOMPAS/HARIS FIRDAUS (HRS)

“Permintaan VCO dari pasar internasional lebih besar dibandingkan pasar dalam negeri yang baru bergeliat,” kata Direktur Pemasaran PT Kamipagama Bhakti Bersama, Yogyakarta, Jayadi Sirun, Sabtu (12/5/2018). Perusahaan produsen VCO dan produk berbahan baku kelapa itu dimiliki dan dikelola alumni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM).

VCO vs ekstra VCO
Pembuatan minyak kelapa sebenarnya menjadi tradisi di berbagai wilayah Indonesia sejak dulu. Caranya, umumnya dengan merebus santan atau metode pemanasan. Namun seiring dengan diperkenalkannya minyak sawit, peranan minyak kelapa mulai tergantikan.

Sejak 1990an, metode pembuatan VCO tanpa pemanasan berkembang di berbagai negara. Beragamnya metode pembuatan membuat mutu VCO yang dihasilkan beragam, tidak terstandar, dan sulit menghasilkan VCO yang murni sesuai namanya.

Mengatasi kondisi itu, dosen Departemen Kimia FMIPA UGM Ani Setyopratiwi yang meneliti pembuatan VCO sejak 1989 mengembangkan metode spontan untuk membuat ekstra VCO atau EVCO. Jika pembuatan VCO masih membolehkan penambahan sesuatu untuk merusak emulsi santan, maka pembuatan EVCO tidak membolehkan penambahan apa pun.

“Penambahan sesuatu untuk merusak emulsi santan guna menghasilkan minyak punya dampak merusak sama dengan metode pemanasan sehingga VCO yang dihasilkan cepat berbau tengik,” kata Ani.

Metode pembuatan VCO tanpa pemanasan yang umum dilakukan antara lain pemancingan (memakai VCO sudah jadi untuk membentuk VCO baru), fermentasi (penambahan ragi atau bakteri), atau pun pemakaian enzim tertentu. Berbagai bahan yang ditambahkan itu jadi kontaminan atau pengotor hingga VCO yang dihasilkan tak lagi murni.

Selain itu, berbagai metode pembuatan VCO itu memiliki risiko kegagalan tinggi akibat rendahnya konsistensi proses menghasilkan minyak. Jika pada satu waktu metode itu bisa menghasilkan minyak, di waktu lain minyak belum tentu dihasilkan. Ketidakpastian tinggi itu membuat metode pembuatan VCO itu kurang diminati industri.

Karena itu, Ani mengembangkan cara pembuatan VCO tanpa bantuan atau penambahan apa pun dari luar hingga produk yang dihasilkan disebut EVCO. Dengan metode ini, santan dibiarkan menghasilkan EVCO secara mandiri, tanpa campur tangan apapun dari manusia.

“Metode spontan akan selalu menghasilkan EVCO bermutu,” kata Ani. EVCO yang dihasilkan bersifat encer, jernih, harum, kadar air rendah dan lebih awet. EVCO dari metode spontan bisa bertahan 3 tahun 1 bulan dengan penyimpanan terbuka atau tanpa penyimpanan khusus.

Penyimpanan VCO jadi tantangan lain karena bisa merusak VCO meski tak dipanaskan atau ditambahkan bahan tertentu. VCO yang terpapar udara atau oksigen bisa mengalami autooksidasi hingga rusak dan berbau tengik. Kerusakan itu makin cepat jika VCO terpapar suhu tinggi atau radiasi matahari.

Selain daya tahan, EVCO memiliki kualitas lebih baik dibandingkan VCO. Berbagai paramater mutu dalam EVCO berada di bawah nilai yang ditentukan APCC tentang VCO yang baik.

Sejumlah pekerja menuangkan ekstra VCO yang baru selesai dipanen, Jumat (11/5/2018), di pabrik pembuatan ekstra VCO di Desa Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pabrik pembuatan ekstra VCO itu diinisiasi oleh Dosen Universitas Gadjah Mada, Ani Setyopratiwi. –KOMPAS/HARIS FIRDAUS (HRS)

Kualitas bahan baku
Karena pembuatan EVCO dengan metode spontan dipasrahkan pada kemampuan bahan baku, maka kualitas kelapa yang dipilih menjadi syarat utama.

Kelapa yang digunakan haruslah kelapa tua kering di pohon dan segar. Kelapa boleh disimpan maksimal 1 bulan ditempat kering dan tak terpapar langsung matahari, karena akan meningkatkan kadar asam lemak bebas (free fatty acid/FFA) kelapa.

Komponen utama VCO ialah asam laurat yang merupakan asam lemak jenuh berantai sedang. Berbeda dengan umumnya asam lemak jenuh, asam lemak jenuh berantai sedang yang masih terikat pada trigliserida (medium chains triglyceride/MCTs) bermanfaat besar bagi kesehatan. Komponen MCTs itu juga terdapat di air susu ibu.

“Jika asam lemak jenuh berantai sedang itu sudah tidak terikat pada trigliserida atau menjadi FFA, maka itu yang berbahaya karena bisa menempel pada pembuluh darah dan pencernaan sehingga berpotensi jadi kolesterol,” kata Ani. Karena itu, APCC menyaratkan kadar FFA dalam VCO yang baik maksimal hanya 0,2 persen.

Kualitas kelapa yang digunakan juga amat ditentukan kondisi tanah dan iklim tempat pohon kelapa itu tumbuh. Dari uji yang dilakukan Ani, 1 liter EVCO bisa dibuat dari 5 butir kelapa Sulawesi atau 8-10 butir kelapa Jawa, tanpa membedakan ukuran kelapa. Kelapa Sulawesi memberi kadar minyak lebih tinggi karena kualitas dagingnya lebih baik.

Iklim di Indonesia juga sangat mendukung untuk membuat EVCO dengan metode spontan. Suhu udara hangat sepanjang tahun membuat minyak bisa dipisahkan dari santan tanpa perlu pemanasan atau menambahkan bahan perusak santan. “Keunggulan metode spontan ini ialah mudah, murah dan efektif,” kata Ani.

Namun, tantangan dari metode spontan adalah membutuhkan wadah penampung santan yang bersih dan pekerja yang peduli dengan kebersihan. Jika wadah yang digunakan tidak bersih dicuci atau masih ada sisa sabun, maka minyak bisa tidak terpisah dari santan.

Cara sederhana, tak terlalu mengandalkan proses kimiawi rumit, ataupun membeli bahan tambahan mahal, membuat metode spontan cocok diterapkan pada masyarakat Indonesia, khususnya yang ada di sentra perkebunan kelapa.

Karena itu, Jayadi berharap pemerintah pusat dan pemerintah daerah lebih memerhatikan potensi dan pengembangan perkebunan kelapa di Indonesia. Saat ini, sejumlah negara seperti Thailand dan Srilanka banyak membeli buah kelapa segar dari sentra-sentra perkebunan kelapa di Riau, Kepulauan Riau, dan Bangka Belitung.

“Pemerintah seharusnya aktif bertindak sebagai fasilitator yang mendorong munculnya industri VCO,” ujarnya. Tumbuhnya industri VCO akan memberi nilai tambah bagi ekonomi masyarakat, sekaligus memperkuat program pemerintah untuk membangun dari daerah pinggiran.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 14 Mei 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: