Home / Berita / Ekonomi Baru berkat Internet

Ekonomi Baru berkat Internet

Dengan jumlah pengguna internet mencapai 71,9 juta jiwa, disertai terus meningkatnya kelas menengah Indonesia, peluang ekonomi dari dunia maya makin menggiurkan. Puluhan juta orang yang terhubung tidak saja dimanfaatkan untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk menggerakkan ekonomi baru dalam bentuk e-dagang.
Berbeda dengan praktik konvensional, transaksi dalam e-dagang sepenuhnya memanfaatkan internet, baik melalui komputer pribadi maupun telepon seluler layar sentuh. Pengguna hanya perlu memilih barang yang mereka inginkan di layar, dilanjutkan dengan pembayaran menggunakan metode bayar yang disepakati.

Di Indonesia, umumnya metode pembayaran yang dipilih adalah cara tunda, yakni transfer bank, baik melalui mesin ATM, mobile banking, maupun internet banking. Metode lain adalah seketika dengan dibebankan ke kartu kredit secara langsung atau melalui gerbang pembayaran pihak ketiga, seperti Paypal.

Setelah pembayaran selesai, mereka hanya perlu menunggu barang diantar ke alamat yang telah disepakati. Semua itu dilakukan tanpa harus keluar rumah dan berpindah secara fisik ke toko.

Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, potensi ekonomi dari e-dagang di Indonesia memang masih kecil. Setidaknya pada tahun 2013 pernah dicatat 8 miliar dollar AS. Namun, semua pihak optimistis angkanya akan terus naik dan berlipat di tahun-tahun mendatang.

Banyak alasan yang melandasi anggapan tersebut, salah satunya kian tumbuhnya kelas menengah yang pada 2013 tercatat 74 juta jiwa. Angka itu diperkirakan berlipat dua pada lima tahun berikutnya. Mereka adalah orang yang memiliki daya beli dan paling utama adalah paham akan manfaat yang diberikan oleh internet.

7da48372a15b48e1a590fe304210e5bdItulah mengapa begitu banyak peristiwa terkait e-dagang di Indonesia dalam dua tahun terakhir, misalnya kucuran dana yang diterima pelaku dalam negeri, seperti Tokopedia dan Bukalapak.com. Tren ini juga kian memacu maraknya sistem penjualan daring eksklusif di satu kanal digital tertentu, seperti Lazada.co.id dan Blibli.com.

Sektor lain
Menarik untuk disimak, pertumbuhan ekonomi dari e-dagang tidak hanya dinikmati penyedia layanan atau mereka yang memasarkan produk lewat internet. Ada sektor lain yang ikut menikmati pertumbuhan ini, seperti logistik yang menjadi infrastruktur utama.

Gudang menjadi kebutuhan bagi para penyedia layanan e-dagang karena mereka harus menyimpan barang dari produsen dan mengirim kepada pemesan dalam waktu singkat. Pihak penyedia, seperti Zalora atau Lazada, kini memiliki gudang di kawasan Jakarta Timur.

Jasa kurir juga menikmati pertumbuhan, seperti dilontarkan Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia Zaldy Ilham Masita. Zaldi mengatakan, perputaran uang di sektor ini saja bisa mencapai Rp 180 triliun. Para penyelenggara logistik umumnya menikmati pertumbuhan hingga 35 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Celah rentan
Salah satu celah dari e-dagang adalah rentannya penipuan dari transaksi yang saat ini masih dilakukan secara konvensional melalui transfer bank. Modus yang kerap dijumpai adalah pembeli telah mengirimkan uang, tetapi tidak kunjung menerima barang dari penjual.

Hal ini memunculkan peluang dari penyedia layanan pembayaran elektronik pihak ketiga yang bertujuan memberi jaminan kepada semua pihak bahwa transaksi dilangsungkan dengan adil dan aman. DOKU Wallet, misalnya, telah memfasilitasi transaksi elektronik Rp 6,5 triliun sepanjang 2014.

DOKU Wallet tidak sendiri karena ada layanan lain, misalnya Ipaymu atau penyedia layanan yang menghadirkan sistem pembayaran ala rekening bersama, seperti Tokopedia. Pembeli mengirimkan uang ke rekening milik Tokopedia dan penjual baru akan mendapatkan uang setelah barang dikirim.

Insentif
Pemerintah sendiri memiliki peran yang diharapkan bisa merangsang pertumbuhan ekonomi dari e-dagang ini. Salah satu yang paling diharapkan adalah memberikan insentif pembangunan infrastruktur agar operator telekomunikasi mau menyediakan jaringan internet untuk kawasan Indonesia bagian timur. Saat ini, semarak e-dagang masih dinikmati pengguna internet di Indonesia bagian barat karena infrastruktur internet lebih baik.

Ada motif ekonomi di balik kondisi yang berbeda antara sisi barat dan timur Indonesia. Kepadatan penduduk di Pulau Jawa atau Sumatera membuat pembangunan infrastruktur telekomunikasi lebih marak karena lebih menguntungkan. Hal ini berkebalikan dengan di timur karena populasi yang tersebar.

”Kondisi ini harus dipecahkan oleh pemerintah dengan memberi insentif berupa infrastruktur utama untuk kemudian operator lain bisa terlibat,” ujar Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia Semuel Abrijani Pangerapan. Selain itu, masyarakat juga harus diberi pemahaman mengenai internet dan bagaimana memberdayakan diri melalui internet.

Ini kesempatan berharga untuk memastikan roda ekonomi yang diputar e-dagang bisa dinikmati masyarakat, bukan semata menjadi pasar dari pelaku e-dagang luar negeri yang kini diam-diam menyerbu Indonesia.

(Didit Putra Erlangga Rahardjo, AECILIA MEDIANA/HENDRIYO WIDI)

Sumber: Kompas, 23 Februari 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: