Home / Berita / Dua Sisi Kelimpahan Informasi

Dua Sisi Kelimpahan Informasi

Dengan mengakses laman smartcity.jakarta.go.id, warga Jakarta kini bisa membuka peta Jakarta dan mendapat berbagai informasi dari aplikasi Waze yang disampaikan secara crowdsourcing oleh para penggunanya. Aplikasi di gawai seluler tersebut mempermudah kita melakukan navigasi di perkotaan.


Informasi yang didapat dari Waze itu adalah kondisi lalu lintas jalan-jalan di Jakarta, termasuk laporan kemacetan, kecelakaan, dan bencana alam secara seketika (real time).

Waze sejak tahun lalu bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI terkait program Jakarta Smart City. November 2014, dua utusan Waze, yaitu Paige Fitzgerald dan Fej Shmuelevitz, menemui Basuki Tjahaja Purnama, waktu itu masih sebagai Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta.

Basuki yakin kerja sama ini sangat menguntungkan. Menurut dia, DKI tak lagi perlu membangun sistem lalu lintas pintar (intelligent traffic system/ITS) yang membutuhkan dana triliunan rupiah karena Waze sudah menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan itu.

wazeWaze, yang dibeli Google seharga 966 juta dollar AS pada 2013, mengombinasikan navigasi GPS dengan sosial media sehingga menyajikan informasi sangat lengkap. Puluhan juta pengguna mendapatkan layanan gratis secara seketika mengenai petunjuk rute perjalanan, kemacetan, kecelakaan, perbaikan jalan, jalan rusak, hingga kondisi cuaca yang tidak aman untuk mengemudi.

Salah satu fitur di Waze juga memungkinkan pengguna mengetahui keberadaan polisi di jalan atau titik tertentu dari laporan crowdsourcing.

Memicu kontroversi
Pengguna lain lantas bisa melihat ikon polisi di aplikasi itu hingga bisa mengetahui posisi polisi dan seberapa jauh mereka dari polisi. Fitur inilah yang tengah memicu kontroversi di kalangan petugas keamanan di Amerika Serikat (AS).

Google bahkan didesak menghapus fitur laporan posisi polisi ini dari Waze karena dinilai mempermudah penjahat menghindari aparat atau membahayakan keselamatan petugas dari orang-orang yang ingin mencelakakan polisi.

Seperti dikutip CNN, Kepala Kepolisian Los Angeles (LAPD) Charlie Beck menuduh fitur di aplikasi itu membantu penjahat dengan menunjukkan keberadaan polisi.

Memang belum terjadi insiden serangan terhadap polisi terkait fitur di Waze tersebut. Namun, menurut para polisi itu, masalah ini hanya soal waktu.

Untuk menunjukkan ketidaksetujuan mereka pada fitur ini, ratusan polisi di Miami, Negara Bagian Florida, bahkan ramai-ramai membuat laporan palsu di Waze mengenai keberadaan mereka. Hal itu untuk mengelabui pengguna aplikasi sehingga tak bisa tahu secara pasti posisi para polisi.

Berpikir mendalam
Juru bicara Waze, Julie Mossler, seperti dikutip The Guardian, 26 Januari lalu, mengatakan, pihaknya telah berpikir secara mendalam mengenai keselamatan dan keamanan publik. Ia mengatakan, Waze juga bekerja sama dengan polisi dan aparat lain di seluruh dunia untuk berbagi informasi. “Hubungan ini membuat warga tetap aman, mendorong respons darurat, dan membantu mengurai kemacetan,” kata Mossler.

Ini bukan pertama kali aparat keamanan mengkhawatirkan aplikasi sejenis Waze. Pada 2011, Apple pernah diminta menghapus aplikasi yang memperingatkan penggunanya tentang lokasi pengetesan sopir mabuk. Sementara Nokia menghapus fitur serupa dari aplikasi Trapster.

Dalam konteks Indonesia, kekhawatiran aparat penegak hukum ini beralasan. Kita tentu masih ingat beberapa waktu lalu saat polisi sempat menjadi sasaran penembakan di jalanan.

Di laman Smartcity Jakarta, informasi dari Waze memang tidak memasukkan laporan mengenai keberadaan polisi. Namun, fitur tersebut tetap bisa digunakan di aplikasi asli Waze.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan, teknologi selalu bisa dilihat dari dua sisi, negatif dan positif. Menurut dia, terlihatnya posisi polisi di lapangan, di satu sisi bisa memiliki efek mencegah seseorang melanggar hukum.

“Di sisi lain bisa juga seseorang yang berniat jahat memanfaatkan informasi itu untuk menghindari polisi atau menjadi petunjuk bagi orang yang hendak mengancam keselamatan petugas,” kata Martinus.

Untuk itu, menurut dia, setiap polisi yang bertugas di lapangan harus ditemani petugas lain. Artinya, petugas yang berjaga minimal dua orang sehingga bisa saling menjaga.

Bagi kita para pengguna aplikasi ini, gunakan semua fiturnya secara lebih bertanggung jawab.

PRASETYO EKO PRIHANANTO
——-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 1 Maret 2015, di halaman 3 dengan judul “Dua Sisi Kelimpahan Informasi”.

Posted from WordPress for Android

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: