Dua Gempa Langka di Laut Jawa

- Editor

Jumat, 20 September 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Laut Jawa jarang dilanda gempa bumi karena tidak berhadapan langsung dengan pertemuan lempeng. Selain itu, gempa dengan hiposenter yang melebihi 300 kilometer termasuk fenomena alam yang jarang terjadi.

Dua gempa langka masing-masing berkekuatan M 6,1 dan M 6 terjadi di Laut Jawa, sebelah timur laut Kota Rembang, Jawa Tengah, pada Kamis (19/9/2019) pukul 14.06 WIB dan 14.31 WIB. Kedua gempa dengan sumber dalam ini dipicu deformasi batuan pada lengan Lempeng Indo-Australia yang menyusup di bawah Lempeng Eurasia.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono mengatakan, episenter gempa pertama terletak pada koordinat 6,1 Lintang Selatan (LS) dan 111,86 Bujur Timur (BT), atau di laut pada jarak 88 kilometer arah timur laut Kota Rembang dengan kedalaman 620 km. Episenter gempa bumi kedua terletak pada koordinat 6,24 LS dan 111,84 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 75 km arah timur laut Kota Rembang pada kedalaman 623 km.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

–Dua gempa beruntun terjadi di Laut Jawa sebelah timur Rembang, Jawa Tengah, Kamis (19/9/2019). Sumber: BMKG

Kedua gempa dirasakan hingga Madura, Malang, Denpasar, Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Sumbawa, Bima dengan skala III MMI (Modified Mercalli Intensity). Dengan skala kekuatan ini, getaran dirasakan dalam rumah seperti ada truk lewat. Gempa juga dirasakan hingga Cilacap, Purworejo, Yogyakarta, Lumajang, Tuban, Trenggalek, Surabaya, Bandung dengan skala II-III MMI.

”Dengan memerhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa ini tergolong memiliki sumber dalam akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menyusup di bawah Lempeng Eurasia. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan turun (normal fault),” tutur Rahmat.

Gempa dengan sumber dalam biasanya dirasakan hingga jauh karena spektrum guncangannya luas. Meski demikian, dampaknya terhadap kerusakan bangunan relatif kecil.

Jarang terjadi
Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, Laut Jawa jarang dilanda gempa bumi karena tidak berhadapan langsung dengan pertemuan lempeng. Selain itu, gempa dengan hiposenter yang melebihi 300 kilometer termasuk fenomena alam yang jarang terjadi. Sebagian besar gempa bumi di Indonesia terjadi di kedalaman kurang dari 60 kilometer.

”Meskipun dampak gempa ini kemungkinannya kecil, hal itu bisa menjadi bukti bahwa aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia di kedalaman 500 km di bawah Laut Jawa masih aktif. Di bawah Laut Jawa itu, Lempeng Indo-Australia menunjam dan menukik curam hingga kedalaman lebih dari 600 km,” katanya.

Terakhir kali, gempa di Laut Jawa dengan mekanisme serupa terjadi di utara Indramayu dengan kekuatan M 5 pada 23 Juni 2018. Adapun di Laut Jawa sekitar Rembang belum ada catatan pernah terjadi.

Daryono mengatakan, terjadinya gempa hiposenter dalam hingga kini masih menjadi perdebatan. Ada teori yang menjelaskan hal ini terkait dengan perubahan sifat kimiawi batuan pada suhu dan tekanan tertentu.

Namun, ada dugaan bahwa lempeng tektonik di kedalaman 410 kilometer mengalami gaya tarik ke bawah akibat gravitasi. Sementara pada bagian lempeng di kedalaman lebih dari 600 kilometer terjadi gaya apung lempeng yang menahan ke atas. Tarikan dua gaya yang berbeda ini kemudian memicu terjadinya retakan di lempeng dan memicu gempa.

”Aktivitas seismik ini lebih disebabkan oleh adanya pengaruh gaya tarik lempeng ke bawah yang ditandai dengan mekanisme sumber gempanya yang berupa sesar turun,” kata Daryono.

Oleh AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 20 September 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB