Home / Berita / Dosen UGM Kembangkan Teknologi yang Mampu Genjot Budidaya Ikan Wader Pari

Dosen UGM Kembangkan Teknologi yang Mampu Genjot Budidaya Ikan Wader Pari

Dosen Fakultas Biologi UGM, Bambang Retnoaji Saat Menerangkan Strategi Berbasis Teknologi Budidaya Ikan Wader Pari Miliknya Di Laboratorium Struktur Dan Pengembangan Hewan Fakultas Biologi UGM, Selasa (4/2/2020) | Dok. Humas UGM
Dosen sekaligus peneliti dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan strategi budidaya Ikan Wader pari berbasis teknologi. Temuan ini diklaim mampu mempercepat reproduksi ikan bernama latin Rasbora lateristriata tersebut.

Adalah Bambang Retnoaji, sosok dosen sekaligus peneliti dari UGM tersebut. Dia menciptakan inovasi itu usai melihat bagaimana tingginya permintaan pasar terhadap Ikan Wader, sementara belum ada upaya konservasi yang mampu mengimbangi eksploitasi masif ini.

“Populasi Ikan Wader pari di alam semakin jarang. Ditambah reproduksinya hanya berlangsung satu kali dalam semusim,” jelas Bambang, Selasa (4/2/2020) di Laboratorium Struktur dan Pengembangan Hewan Fakultas Biologi UGM melalui rilis.

Situasi itulah yang kemudian membuat Bambang mencari solusi menjaga kelestarian ikan air tawar asli Indonesia itu. Dengan harapan, mampu dimanfaatkan pula potensi ekonominya.

Ia melakukan inisiasi pengembangan dan implementasi strategi budidaya Ikan Wader pari dengan memasukkan sentuhan teknologi di dalamnya. “Dengan teknologi budidaya ini reproduksi ikan bisa berlangsung dua minggu sekali,” paparnya.

Dijelaskannya, pengembangan strategi budidaya massal ini terlaksana sejak 2014 lalu, berkolaborasi dengan para peneliti UGM yang tergabung dalam Aquatic Research Group. Selain itu dilakukan dengan menggandeng petani ikan lokal atau gabungan kelompok petani di Kulon Progo, Sleman, dan Gunungkidul.

Di satu sisi, kerja sama pengembangan budidaya Ikan Wader pari secara insentif juga dilakukan dengan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Budidaya dilaksanakan selama periode 2020-2025.

“Melalui kemitraan ini bisa dilakukan pemijahan, pembesaran dan penyediaan larva, pembesaran dan penyediaan benih siap tebar. Pemeliharan dan penyediaan ikan siap panen usia 2-3 bulan dan penyediaan indukan usia 6-8 bulan,” urainya.

Pemijahan, pembibitan dan pembiakan, menurut Bambang, dilakukan di laboratorium. Selanjutnya, untuk budidaya skala massalnya dilakukan di kolam luar ruangan.

Bambang menerangkan, pemijahan bisa dilakukan tanpa bergantung musim alias dapat digunakan sewaktu-waktu. Termasuk lokasinya, baik dalam maupun luar ruangan. Pasalnya, perangkat yang digunakan untuk proses itu dirancang sedemikian rupa agar bisa diatur sesuai kondisinya.

Rinciannya, alat pemijah ini berupa atau terdiri dari rak pemijahan, akuarium utama, akuarium pemijahan, akuarium filter, dan sistem sirkulasi debit air. Terdapat pula ijuk sebagai media ikan bertelur.

Cara kerjanya, tahap pemijahan dilangsungkan pada ruangan tertutup dengan kisaran suhu ruang 25-30 derajat celcius, serta periode cahaya dengan siklus 14 terang:10 gelap serta kualitas oksigen terlarut pada kisaran 6-8. Selanjutnya, pH 6,5-8 dan sirkulasi air dilakukan secara kontinyu.

“Pemijahan dilakukan mulai jam 16.00 sampai dengan jam 07.00 keesokan harinya pada saat telur di panen,” terang Bambang.

Teknologi pengembangan Bambang, kini telah didaftarkan paten. Targetnya ke depan, supaya bisa segera memasuki fase produksi massal sehingga bisa mendukung usaha budidaya Ikan Wader di Indonesia.

“Untuk produksi alat, satu unitnya sekitar Rp6 jutaan. Semoga dengan kehadiran teknologi ini bisa mendukung upaya konservasi dan budidaya Ikan Wader pari di Tanah Air,” pungkasnya.[]

Kumoro Damarjati

Editor: Nafilah

Sumber: AKURAT.CO, Selasa, 04 Februari 2020
—————–
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Sejumlah indukan ikan wader pari (Rasbora lateristriata) di Laboratorium Histologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (4/2/2020). Ikan air tawar tersebut saat ini dieksploitasi secara masif di alam karena tingginya permintaan pasar. Peneliti UGM yang tergabung dalam Aquatic Research Group mengembangkan strategi budidaya ikan wader pari.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Sejumlah makanan hasil olahan ikan wader pari di Laboratorium Histologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (4/2/2020). Selain itu, para peneliti juga menciptakan alat untuk membantu proses pemijahan ikan tersebut agar reproduksi ikan bisa berlangsung setiap dua minggu sekali sehingga kelestariannya dapat terjaga.

 

 

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Dosen sekaligus peneliti dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Bambang Retnoaji, memperlihatkan sejumlah wadah untuk penelitian budidaya ikan wader pari di Laboratorium Histologi Fakultas Biologi UGM, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (4/2/2020). Ikan air tawar tersebut saat ini banyak dieksploitasi di alam karena tingginya permintaan pasar. Peneliti UGM yang tergabung dalam Aquatic Research Group mengembangkan strategi budidaya ikan wader pari.

 

 

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Indukan ikan wader pari (Rasbora lateristriata) di Laboratorium Histologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (4/2/2020).

 

 

 

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Mahasiswa peneliti menunjukkan bagian kelamin ikan wader pari jenis jantan di Laboratorium Histologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (4/2/2020).

 

 

 

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Dosen sekaligus peneliti dari Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Bambang Retnoaji, menggunakan jaring di tempat indukan ikan wader pari (Rasbora lateristriata) di Laboratorium Histologi Fakultas Biologi UGM, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (4/2/2020). Ikan air tawar tersebut saat ini dieksploitasi secara masif di alam karena permintaan pasar yang tinggi. Peneliti UGM yang tergabung dalam Aquatic Research Group mengembangkan strategi budidaya ikan wader pari.

Editor DEMITRIUS WISNU WIDIANTORO

Sumber: Kompas, 5 Februari 2020

Share
x

Check Also

Kenormalan Baru Jangan Jadi Abnormal Lagi

Pelonggaran pembatasan sosial berskala besar demi aktivitas ekonomi harus dilakukan secara hati-hati dengan kajian epidemiologis. ...

%d blogger menyukai ini: