Dorong Pengelolaan Limbah Elektronik di Perkotaan

- Editor

Rabu, 4 Oktober 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Limbah elektronik menjadi masalah serius di dunia. Volume timbulan limbah elektronik terus meningkat sehingga berdampak buruk bagi lingkungan. Padahal, jika dikelola dengan baik, limbah elektronik bernilai ekonomi tinggi.

Hal itu dilakukan melalui urban mining atau pengelolaan bahan mineral di kota dari limbah elektronik jadi bahan baku. “Satu ton limbah elektronik gawai diolah jadi 1,44 kilogram emas. Ada potensi seperti emas, perak, tembaga, dan aluminium,” kata pelaksana tugas Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Karliansyah, pada lokakarya di Jakarta, Senin (2/10).

Lokakarya itu merupakan rangkaian Jejaring Pengelolaan Limbah Elektronik Internasional yang diinisiasi Badan Perlindungan Lingkungan Hidup Amerika Serikat (USEPA) dan Badan Perlindungan Lingkungan Taiwan (EPAT).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pengelolaan limbah elektronik termasuk kebijakan strategis pengelolaan sampah di Indonesia,” kata Karliansyah. Karena itu, pemerintah daerah perlu terlibat aktif mengelola limbah elektronik. Beberapa daerah, seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat, akan jadi proyek percontohan.

Melalui urban mining, nantinya ada pengaturan pengelolaan limbah ramah lingkungan, sistem pengumpulan dan pengangkutannya, sampai proses akhir. Itu termasuk sistem insentif tukar tambah, mekanisme extended producer responsibility (EPR), yakni produsen produk elektronik, pemerintah, distributor, dan konsumen. Kewajiban distributor, peritel, dan importir masuk di dalamnya.

Hasil survei awal KLHK dengan Badan Kerja sama Internasional Jepang (JICA) 2014 menyebut, pengelolaan sampah di Indonesia tak memilah sampah, hanya mengumpulkan barang elektronik bekas. Lalu, limbah elektronik diambil logam berharganya dengan teknologi sederhana, sisanya dikubur di tanah.

Direktur Verifikasi Limbah B3 dan Non-B3 Ditjen PSLB3 KLHK Sayid Muhadhar mengakui, pemerintah belum punya fasilitas memadai dan data sampah limbah elektronik di Indonesia. Baru ada 10 fasilitas daur ulang limbah elektronik di Indonesia, yakni Tangerang, Batam, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Menurut Martin Dieu dari USEPA, pengelolaan limbah elektronik butuh proses panjang. “Di Amerika Serikat, beragam metode dipakai karena area luas. Itu menciptakan lapangan kerja dan sumber daya dari limbah,” ujarnya. Ming Hua Hsu, perwakilan EPAT, menambahkan, Taiwan punya teknologi pengelolaan limbah elektronik.

————–

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 3 Oktober 2017, di halaman 14 dengan judul “Dorong Pengelolaan Limbah Elektronik di Perkotaan”.

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 25 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB